2011/10/17 Anton Raharja <[email protected]>:
> On 10/16/2011 09:39 PM, Andi Sugandi wrote:
>> 2011/10/16 Fajar Priyanto <[email protected]>:
>>
>>> Menurut pendapat pribadi saya, seringkali orang2 yang tidak memahami
>>> atau sebenernya paham tetapi curang/mau untung sendiri terhadap
>>> software2 GPL/LGPL.
>>> Contohnya yah ini. Memodifikasi (atau tepatnya dugaan saya, cuma ganti
>>> logo dan mengaktifkan menu bahasa Indonesia), trus melarang orang
>>> untuk mengcopynya. Dibawah ini adalah cuplikan dari LGPL. Disitu
>>> dibilang bahkan orang2 berhak mengcopy itu produk dan menjualnya lagi.
>> [..]
>>
>>> Beginilah kalo mental proprietary diterapkan ke produk Opensource.
>>> Jadinya menggelikan.
>>> Kalo mau cari duit dari Opensource, bukanlah yang utama dari
>>> softwarenya sendiri, tapi dari jasa2 yang terkait darinya.
>> Semakin tercerahkan nih, terima kasih, Pak Fajar.
>>
>> jadi betul juga jika Richard Stalllman menyarankan untuk tidak
>> menggunakan LGPL ya?
>> http://www.gnu.org/licenses/why-not-lgpl.html
>>
>> Best regards,
>
> Halo,
>
> tergantung kebutuhannya. ada developer yang sengaja kasi LGPL agar
> aplikasinya ini dapat digunakan oleh pembuat software proprietary, misal
> untuk keuntungan marketing (biar terkenal, sehingga bisnis modif
> aplikasi dapat dijalankan) atau tidak ada keuntungan lebih karena sudah
> banyak alternatif nya, atau sederhana saja memang sengaja ingin bagi2
> kode. dalam artikel diatas dijelaskan seperti GNU C library.
>
> mereka yang curang atau tidak curang, yang jelas sengaja ngumpetin
> source code aplikasi mod nya, dapat menggunakan aplikasi yang berlisensi
> LGPL tanpa perlu memberikan seluruh aplikasi mod nya. hanya apabila
> terdapat perubahan pada kode LGPL nya itu sendiri maka perubahan itu
> perlu disebarkan.
>
> dari sudut pandang komunitas open source, tentu saja GPL lebih baik,
> dengan demikian hanya developer yang berniat untuk GPL juga yang
> mendapat keuntungan.
>
> kasus officekita barangkali bisa di cek, itu dia library linking sesuai
> term LGPL atau justru ganti2 kode utama sehingga malah harus LGPL juga
> (misal untuk mengunci fitur, agar bisa sesuai project pemerintah).
> kemudian, mengganti icon/logo/mengaktifkan modul bahasa juga harus di
> cek (silakan di cek kalo niat maksudnya), itu termasuk LGPL atau tidak,
> kalo iya, maka ya kita boleh kesal karena banyak hal tapi sesuai term
> LGPL maka aplikasi hasil modif asal library linking tidak utak atik kode
> utama ya itu memang diperbolehkan.
>
> anton
>

Mungkin perlu dibuat sebuah lembaga pengawasan FOSS?


-- 
Muhammad Fakhry
http://www.fakhry.web.id
http://www.slackware.kendari.linux.or.id/

-- 
Berhenti langganan: [email protected]
Arsip dan info: http://linux.or.id/milis

Kirim email ke