dari Prianggada I Tanaya :
gak semua perusahan di indonesia itu membajak lhoo pak :))Pada kasusnya pak IMW, rasanya installer -nya cukup bijak, dan tahu kebutuhan. Jadi, solusi yang ditawarkan ya sudah pas, sesuai spesifikasi yang diminta. Sedangkan, maaf loh nih pak IMW, di Endonesa ini, semua masih serba bajak membajak, ... euforia linux untuk komunitas ini cukup kental sekali. Kemudian, semangatnya, kalau ada versi yang lebih baru ... install ... dst. Wah ... kalau untuk sendiri sih silahkan saja ... selamat kuat beli perlengkapan.
untuk purchasing pc dikantor2, rata2 lebih seneng yg branded karena, sudah included OS (windows) dan license per usernya dari tiap mesin yg dibeli.
selebihnya yg dibeli adalah Office suit dgn license perjumlah user (kalo gak salah sama MS di indonesia serba di bundle kan? per 10, 15, 50 user? biar lebih "terjangkau" :)), terus antivirus, dan terkadang beberapa utility, misalnya winzip (kasus beli winzip baru saya temui disatu kantor yg beli licensenya untuk sekitar 80an user).
untuk server, gak perlu diragukan lagi, linux sudah banyak yg gantiin NT dikantor2 kok.
kebayang kan? beli NT (plus license peruser), antivirus untuk server dan utility server untuk NT yang harganya kadang bisa sampai US$$$$
yep, untuk workstation cuman 3 itu deh, OS, Office, dan Antivirus, yang mana ini sudah bisa di akomodasikan semua oleh linux secara GRATIZzzZZ :))
ya benar... ini yg mungkin rada sulit kalo gak ada tekanan dari "atas" :))Kalau untuk diperusahaan seperti saya ini ... perlu pendekatan psikologi dan sosial yang memadai untuk memperkenalkan yang baru, apa lagi pada orang yang kurang pengetahuan tentang, misalnya LINUX, dibandingkan M$ yang sudak 'kelewat' user-friendly (katanya siihh).
mudah2an banyak diantara member milis sini yg kelak jadi orang2 "atas" yg bisa menerapkan penggunaan linux untuk kaum "bawah" nya.
kondisi lainnya yg mungkin agak mengganggu, dari para reseller yg "males" (kalo bukan mempersulit) memberikan support apabila PC dari mereka diganti bukan dgn OS yg diberikan (windows). apalagi untuk hardware2 sekarang yg sebelnya suka ditempeli "design for windows". dan lebih sebel lagi, gak ada pemotongan biaya, jadi harga pc branded, itu sudah termasuk harga windows dan license nya yang pasti gak murah.
ujung2nya, departemen IT harus ngegaji expert linux, atau nyekolahin linux pegawenya untuk internal support, thus biaya lagi :))
harapan saya, ada produsen PC yg memberikan bundle Linux OS dan Linux Office untuk produk mereka, sehingga harga bisa ditekan lebih murah, dan pasti bakal dilirik oleh user2 corporate.
ps:
saya ujicoba install openoffice (windows) ditiap2 workstation kantor, dan membujuk mereka untuk menggunakannya.
untuk penggunaan rata2, hampir tidak ada masalah. masalahnya adalah hal2 sepele, misalnya kadang ada user yang lupa dan mengirim native format dari Ooffice yg akhirnya gak bisa dibuka oleh rekannya yg menggunakan MSOffice, dan beberapa khasus dimana file excell bisa membikin crash openoffice. untuk printing document, sama sekali tidak ada masalah, sisanya sih karena masalah kebiasaan penggunaan aja, yg mana juga bisa diatasi kalo sudah terbiasa.
bagaimana kalau rekan2 disini melakukan hal yg sama pada kantornya? hasilnya bisa kita diskusikan, karena kalo windows+openoffice sudah sukses, gak masalah untuk naek ke "level yg lebih tinggi", yaitu Linux + openoffice :))
ok, ini sudah terlalu Off topic untuk linux-setup, mudah2an yg laen gak ngambek hehehe
--
Utk berhenti langganan, kirim email ke [EMAIL PROTECTED]
Dapatkan FAQ milis dg mengirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
Informasi arsip di http://www.linux.or.id/milis.php3
