accros the bridge of hope

ini judul sebuah puisi yang ditulis seorang anak muda irlandia. yang ditulis di papan 
kelasnya sebelum dia mati terbunuh karena peledakan bom di kota Omagh, Irlandia Utara 
di medio Agustus 1998. situs berita satunet memberitakannya...
puisi memang tidak menjanjikan apa-apa...dalam sebuah sisipan tentang puisi, Taufiq 
Ismail menorehkan perasaannya tentang sebuah puisi "ketika saya merasakan dan menulis 
sebuah puisi, saya seolah jatuh cinta. Kita tahu kata-kata telah terkotori tindakan 
kita pada masa gelap orde kemarin. sebuah puisi yang utuh memberikan kita sebuah 
keterpanaan, tergetarnya hati kita, kata-kata biasa yang dirangkai hingga kita dibuat 
jatuh cinta pada pandangan pertama".
gunawan muhammad pernah memberikan illustrasi yang menarik, dunia puisi, dunia teater, 
dunia sastra adalah dunia yang paling banyak berjumlah 5% dari populasi penduduk kita, 
sebuah kenyataan yang menikam tapi harus dirasakan.dalam nada emosi-psikisnya, seorang 
romo mangun menuliskan indonesia adalah sebuah puisi panjang tentang air mata, darah, 
gelora hati, getar cinta tumbuh dan berkembang.
akhirnya seorang rekan ngopi di satu sudut kota bandung ini, suatu hari memberikan 
permakluman kenapa perasaan tercabik, terluka masih mengintai mimpi-mimpi tidur kita, 
''karena saya, aku dan kamu dan barangkali 95% populasi lainnya jarang sekali 
menuliskan puisi dan membiarkan mata hati kita membaca apa yang tersirat dan apa yang 
tersurat. tidak salah memang, tapi apakah Tuhan tidak menuliskan bait-bait puisi 
ketika menciptakan kita kalau toh, memang Tuhan itu ada ?" well, guys.. teman saya ini 
memang atheis. hanya saja kalimat terakhirnya membuat saya terpana, Tuhan memang ada, 
dan dia seperti yang aku dan kamu yakini bahwa bait-bait puisi itu ditafsirkan sebagai 
sikap kasih. sebuah sikap yang barangkali saja sudah hilang setiap hirup nafas kita.
jembatan harapan, demikian tulis anak itu. saya, anda apakah kenal dengan dia ? tapi 
puisi itu merekatkan kita. dengan spirit yang sama untuk meraih kesempatan (carpe 
diem) bahwa tali damai harus dirajut mulai hari ini kalau tak ingin eksistensi psikis 
dari apa yang dinamakan bangsa hilang dan lenyap.

guys, ini bukan gemebyar tahun baru seperti milyaran orang di dunia ini sedang 
mempersiapkannya.. ini hanyalah sebuah petikan dari ribuan rasa kegetiran hati, sikap 
skeptisme menghadapi seribu tahun ketiga ini. seribuan tahun yang sejatinya akan 
dinikmati bukan oleh kita tapi oleh milyaran setelah kita. tulisan ini hanya mengajak 
dan memberikan semacam gumaman bahwa saya, kamu dan barangkali sebagian besar dari 
kita telah terlampau lama terasingkan dari diri kita sendiri, dari alam, dari 
kesejatian eksistensi kita sebagai manusia yang diciptakan dari bait-bait puisi cinta 
Tuhan. 
konflik fisik horisontal di antara kita seakan menegaskan perbedaan tidak bisa 
direkatkan dan bait-bait tadi belumlah berarti 

anggap saja ini monolog dari penulis... tak perlu untuk diindahkan, tak perlu 
didengarkan...
come on, keep your day busy... :)









-= Dual T3 Webhosting on Dual Pentium III 450 - www.indoglobal.com =-
To unsubscribe, e-mail : [EMAIL PROTECTED]
To subscribe, e-mail   : [EMAIL PROTECTED]
Autoresponders Netiket : [EMAIL PROTECTED]

Kirim email ke