Saudarku, di sini aku menyaksikan perjuanganmu dari layar kaca, membaca kisah penderitaanmu dari lembar demi lembar media massa. Ada perasaan yang selalu menekan di hatiku, tetapi yang sejujurnya harus kuakui bahwa aku tak kan pernah dapat memahami seberapa besar kesengsaraan yang harus engkau tanggung, betapa pedih rasa kehilangan yang menusuk kalbumu, dan seperti apa rasa sakit yang mendera jiwa ragamu. Sebab aku menyaksikan saat-saat engkau kehilangan rumahmu di bawah naungan atap rumah yang melindungi aku. Karena aku membaca kisah pedihmu yang terbujur sakit dalam tubuh yang sehat dan nyaman.
Saudaraku, walaupun aku tak akan pernah dapat berkata bahwa aku tahu apa yang engkau rasakan, tetapi ijinkanlah aku bersimpati atas segala deritamu. Maka, ulurkanlah tanganmu dan sambutlah tanganku, biar engkau rasakan getaran-getaran kasih yang mengalir dari urat nadiku, Kita kan bersama-sama menata kembali keping-keping kehidupanmu, Kita kan basuh luka hatimu dan menumbuhkan kembali pohon-pohon harapan, demi masa depan yang lebih cerah, demi hari-hari yang dipeniuhi oleh lengkungan yang meluruskan segala hal.. Chuang 260507 Sudah baca novel ABG Buddhis? http://trioratana.blogspot.com
