Soal lingkungan lagi, ada suatu kasus disini yang perlu dicontoh.
Nelayan di Pantai Pedalen, Gombong, kalau dapat penyu mesti selalu aja
dilepas, berapapun besarnya. Padahal kalau dijual ada yang menampungnya lho
! Boleh lihat buktinya kok, soalnya ada dokumentasinya.
Soni
At 12:21 PM 4/30/00 +0700, you wrote:
>Kalau demikian berarti salah tehnik atau salah penggunaan bahan
pemberantas hama; biasanya pertama kali tambak akan ditebari benih, di
"angler" (air di buang, tanah di gemburkan) kemudian diisi air dan
dilarutkan "furadan" (bahan ini murah, hanya baunya sangat tajam) direndam
dalam keadaan perairan tertutup selama 6-7 hari untuk membunuh semua
pemangsa dan parasit benur serta bahan tersebut akan netral sendiri
bereaksi dengan air, tanah, dan oksigen, baru air dibuang kelaut tanpa
harus memunahkan biota lainnya.
>Yang menjadi persoalan adalah bahwa memang di negeri tercinta ini law
enforcement terkenal sangat impotent, masyrakatnya mudah sakit hati
kemudian marah kalau aparatnya bertindak tegas, tetapi juga aparatnya juga
terkenal sangat toleran terhadap berbagai pelanggaran karena diiming2
sogokan atau memang suka sekali memberi "restu" (meres sampai metu); entah
kapan semua ini akan dapat berubah kearah perbaikan;
>Tapi jangan putus asa, kita beri contoh & teladan bagai mana kita berbuat
baik terhadap lingkungan.
>Sabar mas.
>p.
>----- Original Message -----
>From: Adi Wisaksono <[EMAIL PROTECTED]>
>To: <[EMAIL PROTECTED]>
>Sent: Sunday, April 30, 2000 10:57 PM
>Subject: Re: [mancing-l] Fw: [berita-lingkungan] Industri Tambak Udang
Ancam Ekosistem Pesisir
>
>
>> Satu lagi, para petambak dalam memberantas ikan hama pemangsa udang
>> menggunakan racun, sehingga cuma semata-mata udang aja di ekosistem
>> sekeliling tambak. Kakap, payus, bulan-bulan ? Semua lewat deh !
>>
>>
>> Soni
>>
>>
>>
>> At 11:00 PM 4/27/00 +0700, you wrote:
>> >Teman teman ini ada cerita dari Kompas
>> >semoga bermanfaat
>> >( saya dapat dari berita lingkungan )
>> >Salam
>> >Joost
>> >----------
>> >> Rabu, 26 April 2000
>> >>
>> >> Industri Tambak Udang Ancam Ekosistem Pesisir
>> >> Jakarta, Kompas
>> >>
>> >> Penciutan hutan bakau, terutama akibat perkembangan industri
>> >> tambak udang, menyebabkan ancaman pada ekosistem pesisir
>> >> seperti turunnya mutu air perairan pantai, abrasi pantai, serta
>> >> musnahnya sejumlah spesies yang hidup di lingkungan itu. Selain
>> >> itu, industri tambak udang berpotensi menimbulkan dampak sosial
>> >> ekonomi dan budaya. Demikian benang merah dialog nasional
>> >> "Dampak Perkembangan Industri Tambak Udang terhadap
>> >> Ekosistem Pesisir dan Hutan Mangrove di Indonesia", yang
>> >> diselenggarakan Sekretariat Kerja Sama Pelestarian Hutan Indonesia
>> >> (Skephi), Selasa (25/4), di Jakarta.
>> >>
>> >> Menurut IBM Suastika Jaya dari Balai Budidaya Air Payau Jepara,
>> >> Direktorat Jenderal Perikanan, pembukaan hutan mangrove (bakau)
>> >> untuk tambak akan mengubah bentang lahan (landscape) hutan
>> >> bakau dan mengurangi luasan hutan, sehingga stabilitas terganggu.
>> >> Jika limbah tambak berupa sisa pupuk, pestisida, limbah bahan
>> >> organik melebihi daya tampung lingkungan, akan menimbulkan
>> >> pencemaran. Pada gilirannya hal itu akan menurunkan mutu air
>> >> perairan, meningkatkan sedimentasi, sehingga mematikan karang
>> >> serta menghilangkan sejumlah spesies yang hidupnya tergantung
>> >> pada keberadaan hutan bakau.
>> >>
>> >> "Pengeruhan air laut tampak antara lain pada pantai timur Lampung,
>> >> akibat pembukaan areal tambak secara besar-besaran," ujar
>> >> Suastika.
>> >>
>> >> Biofisik
>> >>
>> >> Pada dasarnya budidaya udang membutuhkan lingkungan biofisik
>> >> yang baik untuk berproduksi. Hal ini harus dipelihara dengan
>> >> mempertahankan kemampuan self purifying lingkungan. Caranya,
>> >> membatasi beban masukan limbah yang berasal dari tambak dengan
>> >> menerapkan strict liability kepada petambak. Untuk itu perlu
>> >> teknologi yang tepat dan pemantauan oleh petugas pemerintah.
>> >>
>> >> Cara lain adalah dengan pembatasan luas pemanfaatan lahan
>> >> maksimum yang dapat dikelola pada masing-masing kawasan. Hal
>> >> ini ditentukan oleh daya tampung lingkungan yang secara teoritis
>> >> dihitung berdasarkan luas hutan bakau sebagai penyangga,
>> >> kedalaman mixed layer perairan, dan pertukaran air perairan pantai
>> >> dengan laut terbuka.
>> >>
>> >> Cara ketiga, membuat hutan bakau sebagai mitra tambak, mengingat
>> >> bakau merupakan penyaring alamiah limbah. Selain melakukan
>> >> konservasi hutan bakau, juga menanami tambak yang tidak produktif
>> >> dengan bakau.
>> >>
>> >> Untuk mengendalikan dampak tambak udang, paradigma terbaru
>> >> adalah pendekatan cleaner production (produksi bersih). Yaitu,
>> >> minimisasi limbah sejak proses produksi, seperti penggunaan pakan
>> >> yang berdaya cerna tinggi, perbaikan manajemen pakan untuk
>> >> menekan sisa konversi pakan, serta resirkulasi limbah dengan
>> >> prinsip daur ulang, penggunaan kembali, serta pemulihan.
>> >>
>> >> Penyaringan limbah dapat memanfaatkan organisme akuatik seperti
>> >> kerang hijau, ikan mujair, rumput laut, yang dapat dipanen sebagai
>>
>> >> hasil sampingan. Cara lain, desalinisasi endapan lumpur tambak,
>> >> sehingga bisa digunakan untuk menanam tanaman hortikultura.
>> >>
>> >> Menurut Koordinator Skephi untuk Isu Pesisir dan Nelayan, Ruddy
>> >> Gustave, kekurangpengetahuan petani dan pengusaha mengenai
>> >> teknis dan pengelolaan tambak udang menyebabkan mereka
>> >> mengalami gagal panen. Kerugian akibat gagal panen menyebabkan
>> >> petani terpaksa menjual atau membiarkan tanahnya disita bank dan
>> >> beralih pekerjaan menjadi buruh tani.
>> >>
>> >> Sementara penerapan konsep Perusahaan Inti Rakyat (PIR) oleh
>> >> industri tambak udang ternyata membuat petani makin terpuruk.
>> >> Selain lahannya diakuisisi perusahaan, petani dibebani pinjaman
>> >> kredit yang sarat dengan mark up, sementara hasil panen udangnya
>> >> dihargai jauh lebih rendah dari harga pasaran. Hal ini menyebabkan
>> >> petani memberontak, seperti yang terjadi pada petani plasma PT
>> >> Dipasena Citra Darmaja, Lampung, dan PT Wachyuni Mandira,
>> >> Sumatera Selatan. (atk)
>> >
>> >
>> >
>> >
>> >---------------------------------------------------------------------
>> >Millis ini terselengara berkat dukungan PT. KreatifNet - The WebDesign
>> Company
>> >http://www.kreatif.com
>> >To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>> >For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>> >
>> >Website mancing-l at http://www.kreatif.com/mancingl --> Fishing
>> information, online chat, forum discusion, clasifiedads, etc
>> >MancingL Archive at http://www.mail-archive.com/[email protected]
>> >
>> >** Save Bandwidth... potong berita yang tidak perlu **
>> >
>>
>> ---------------------------------------------------------------------
>> Millis ini terselengara berkat dukungan PT. KreatifNet - The WebDesign
Company
>> http://www.kreatif.com
>> To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>> For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
>>
>> Website mancing-l at http://www.kreatif.com/mancingl --> Fishing
information, online chat, forum discusion, clasifiedads, etc
>> MancingL Archive at http://www.mail-archive.com/[email protected]
>>
>> ** Save Bandwidth... potong berita yang tidak perlu **
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>
---------------------------------------------------------------------
Millis ini terselengara berkat dukungan PT. KreatifNet - The WebDesign Company
http://www.kreatif.com
To unsubscribe, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
For additional commands, e-mail: [EMAIL PROTECTED]
Website mancing-l at http://www.kreatif.com/mancingl --> Fishing information, online
chat, forum discusion, clasifiedads, etc
MancingL Archive at http://www.mail-archive.com/[email protected]
** Save Bandwidth... potong berita yang tidak perlu **