Dengan senang hati, BENTARA BUDAYA JAKARTA mengundang bapak/ibu/rekan-rekan untuk
hadir dalam acara BBJ Putar Film yang akan mengetengahkan :
Trilogi Satyajit Ray.
Acara tersebut akan berlangsung pada:
Hari/tanggal : Senin-Rabu, 20 s/d 22 November 2000
Waktu : setiap pukul 16.00 dan 19.30
Tempat : Galeri Kanan Atas
Bentara Budaya Jakarta
Jl Palmerah Selatan 17, Jakarta Pusat
Jadwal :
Senin (20 Nov.2000)
16.00: Pather Panchali
19.30: Aparajito
Selasa (21 Nov.2000)
16.00: The World of Apu
19.30: Pather Panchali
Rabu (22 Nov.2000)
16.00: Aparajito
19.30: The World of Apu
Satyajit Ray (1921 - 1922)
Nama sutradara India ini boleh disejajarkan dengan nama sutradara-
sutradara terkemuka di dunia. Bila kini sudah banyak sutradara Asia
yang mampu menerobos dominasi barat, maka pada zamannya Satyajit Ray dan Akira
Kurosawa dari Jepang saja yang berhasil mendapat pengakuan dunia. Puncak pengakuan
terhadap Ray adalah Piala Oscar Kehormatan atas penguasaannya atas seni film dan untuk
pandangan kemanusiaannya.
Satyajit Ray lahir dari keluarga yang tersohor dalam bidang seni dan
sastra di Bengali. Tahun 1940 setelah lulus universitas dalam bidang
eksakta dan ekonomi, ia masuk sekolah terkenal yang didirikan oleh
Rabrindranath Tagore di Santiniketan. Tagore dikenal pula sebagai tokoh yang
menumbuhkan renaissance kebudayaan India. Tokoh ini pula yang sangat mempengaruhi
Satyajit Ray dalam karier selanjutnya di bidang film.
Tahun 1942 Ray ke Calcutta. Sepuluh tahun berikutnya ia bekerja sebagai art director
pada sebuah perusahaan periklanan Inggris. Dalam waktu luangnya ia menulis skenario
film. Salah satunya adalah adaptasi dari novel Tagore berjudul Ghare Baire. Skenario
ini ditolak produser karena Ray menolak melakukan perubahan seperti yang dimaui
produser. Saat India merdeka tahun 1947, Ray mendirikan klub film pertama di Calcutta
bersama dengan Chidananda Das Gupta. Ia menulis artikel-artikel yang menganjurkan
tumbuhnya sinema baru.
Ketrampilan sebagai ilustrator membuatnya ia diminta membuat ilustrasi untuk novel
klasik Bibhutibhushan Banerji berjudul Pather Panchali versi ringkasannya. Inilah yang
kemudian menjadi film pertamanya, setelah ia berjumpa dengan Jean Renoir, sutradara
Perancis terkemuka, tahun 1949, dan kesempatan menonton Bicycle Thief di London pada
tahun 1950. Ray menulis skenario dan menyutradarainya sekaligus. Ia melakukan
pengambilan gambarnya pada hari-hari akhir pekan. Usahanya tampaknya tidak mendapatkan
perhatian sama sekali dari investor, dan film ini tak akan pernah selesai seandainya
tidak datang permintaan dari Museum of Modern Art, New York, agar mengikutsertakan
film ini dalam pameran seni India yang akan dilakukan di tempat itu. Pemerintahan
Bengali Barat-untuk pertama kalinya dalam sejarah-mendanai pembuatan film itu.
Pather Panchali berhasil mengantongi beberapa penghargaan internasional dan
mengukuhkan Ray sebagai sutradara kelas dunia. Film ini ternyata juga cukup laris di
dalam negeri, hingga untuk selanjutnya Ray bisa memegang kendali penuh atas film-film
yang dibuatnya. Dan dalam film-film selanjutnya Ray tidak hanya bertindak sebagai
sutradara dan penulis skenario saja, tapi juga sebagai ilustrator musik (sejak 1961)
dan sinematografer (sejak 1963).
Keberhasilan ini mendorong Ray membuat kelanjutannya berdasarkan novel yang sama yaitu
Aparajito (1956) dan The World of Apu (1959). Tiga film ini yang kemudian dikenal
sebagai Trilogi Apu. Sejak 1955 hingga 1991 ia telah membuat sekitar 30 film, sebuah
produktivitas yang cukup tinggi. Dan puluhan penghargaan internasional juga
diterimanya.
SINOPSIS:
Pather Panchali
1955 - 112 menit - H/P
Sutradara/Skenario: Satyajit Ray; Editor: Dulal Dutta; Sinematografi:
Subrata Mitra; Musik: Ravi Shankar; Artistik: Banshi Chandra Gupta;
Pemain: Kanu Banerji, Karuna Banerji, Subir Banerji, Runki Banerji, Uma
Das Gupta, Chunibala Devi, Reva Devi, Rama Gango padhaya, Tulshi
Chakraborty, Harimoran Nag.
Penghargaan:
Penghargaan Dokumen Kemanusiaan dalam Festival Film Cannes 1956.
British Academy Awards untuk Film Terbaik 1957.
New York Film Critics Circle untuk Film Asing Terbaik 1958.
Sinopsis:
Kisah sebuah keluarga miskin yang tinggal di sebuah desa di negara
bagian Bengali. Sang ayah (Kanu Banerji) meninggalkan desanya menuju kota untuk meraih
cita-citanya sebagai penulis. Ia juga meninggalkan istrinya (Karuna Banerji) yang
harus memelihara anak-anaknya dan seorang saudara tua. Saudara tua ini, perempuan,
kemudian dibawanya ke desa lain dan meninggal. Saat sang ibu kembali ke rumah,
dijumpainya anak perempuannya juga meninggal. Dua film berikutnya dari trilogi ini
mengisahkan tentang Apu, anak lelakinya. Kisah film dan dua film selanjutnya
didasarkan pada novel berjudul sama karya Bibhutibhushan Banerji.
Aparajito
1957 - 108 menit - H/P
Sutradara/Skenario: Satyajit Ray; Sinematografi: Subrata Mitra; Musik: Ravi Shankar;
Artistik: Bansi Chandragupta; Pemain: Pinaki Sen Gupta, Smaran Ghosal, Karuna Banerji,
Kanu Banerji, Ramani Sen Gupta, Charu Gosh, Subodh Ganguly, Kali Charan Ray, Santi
Gupta, KS Pandfey, Sudipta Ray, Ajay Mitra.
Penghargaan:
Piala Singa Emas dan Hadiah Fipresci dalam Festival Film Venetia 1957.British Academy
Awards untuk Film Terbaik 1958.
New York Film Critics Circle untuk Film Asing Terbaik 1959.
Sinopsis:
Seri kedua dari Trilogi Apu ini mengisahkan perjuangan hidup Apu dan ibunya di sebuah
kota kecil. Tidak seperti keinginan ibunya agar
menjadi pendeta, Apu memohon-mohon agar disekolahkan. Ternyata ia berhasil, dan ia
mendapat beasiswa masuk universitas Calcytta. Terbenam dalam kehidupan kota dan
tuntutan pelajaran sekolahnya, sedikit demi sedikit Apuy melupakan ibunya.
The World of Apu
1959 - 103 menit - H/P
Sutradara/Skenario: Satyajit Ray; Sinematografi: Subrata Mitra; Musik: Ravi Shankar;
Artistik: Bansi Chandragupta; Pemain: Soemitra Chaterjee, Sharmila Tagore, Swapan
Mukherji, S. Alke Chakravarty, Alok Chakravarty.
Penghargaan:
New York Film Critics Circle untuk Film Asing Terbaik 1960.
British Academy Awards untuk Film Terbaik 1961.
SinopsisI:
Apu (Soumitra Chaterji) sudah jadi pemuda. Seperti ayahnya ia juga
ingin jadi penulis. Karena kekurangan uang, ia terpaksa meninggalkan studinya di
universitas. Hidupnya berubah saat ia berjumpa lagi dengan kawan lamanya, Pulu (Shapan
Mukerji). Bersama-sama mereka datang ke pesta perkawinan sepupu Pulu, Aparna (Sharmila
Tagore). Calon pengantin laki-laki ternyata gila, hingga pernikahan dibatalkan. Apu
setuju mengawini Aparna, untuk menyelamatkannya dari cibiran masyarakat.
Pasangan baru ini kembali ke apartemen Apu di Calcutta untuk memulai hidup baru, namun
nasib nampaknya tidak ramah pada mereka.