Dari Kompas:

__,_._,__


 

 


 

Sosok 




 


 




 


Sabtu, 18 November 2006 


 


 


 


Keniscayaan Pluralitas di Mata Maman 

LIS DHANIATI 

Kerling gereja tua/ seratus tiga puluh tahun menggoda/ serasa dibui Bunda
Maria/ ....jemaah gereja tua/ berdoa dalam kekhusyukan, setia/ walau negeri
bagai reruntuhan Sodom dan Gomora/ ....dari gereja tua/ ribuan khutbah
tentang kemanusiaan/ semakin hampa: hedonisme dan voyeurisme membungkam
agama/ kecuali sore ini/ sesaat ratusan penempuh jalan Ilahi/ berteduh di
tenda gereja tua/ dengan darah yang bergairah/ Cinta!!! 

Sepenggal puisi tentang gereja dan kegelisahannya itu bukan lahir dari
tangan pendeta, pastor, atau biarawati, melainkan dari pena Kiai Haji Maman
Imanulhaq Fakieh (34) yang telah mengemban tanggung jawab mengasuh Pondok
Pesantren (Ponpes) Al-Mizan di Desa Ciborelang, Kecamatan Jatiwangi,
Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. 

Seperti KH Mustofa Bisri dari Rembang, Maman suka menulis puisi. Lahir di
Sumedang pada 8 Desember 1972, Maman menempuh pendidikan berbasis keagamaan
tradisional sejak usia belia. Ini salah satu faktor yang menurut dia membuat
fanatisme terhadap agamanya begitu kental. 

"Awalnya saya berpikir bahwa kebenaran itu tunggal. Hanyalah golongan kita
yang benar dan golongan lainnya salah," tutur Maman, Selasa (17/10). 

Kerusuhan Mei 1998 menjadi titik awal kegelisahan Maman mengenai hidup dalam
keragaman. Daerah Jatiwangi, yang termasuk urat nadi perekonomian Kabupaten
Majalengka, tak luput dari amuk massa. Daerah yang merupakan sentra industri
genteng itu juga ditinggali etnis Tionghoa. 

"Banyak orang bergerak menghancurkan gereja, rumah dan toko milik warga
keturunan Tionghoa sambil meneriakkan kata 'babi'," ungkap Maman. Tragedi
itu membuatnya berpikir, benarkah Tuhan membiarkan hal itu terjadi. 

Kegelisahan mengantarnya bertemu dengan orang-orang yang telah lebih dulu
memercayai pluralitas sebagai sebuah keniscayaan dalam hidup. Ia pun
bersilaturahmi ke beberapa ulama dan pesantren, antara lain KH Khoer Afandi
dan Mama Bantargedang di Tasikmalaya, KH Mudzakir di Pekalongan, serta KH
Taufiq Rohman dari Tambak Beras, Jombang. 

Ia pun aktif berkomunikasi dengan "tetangga dekat", seperti KH Husein
Muhammad dari Pesantren Dar Al Tauhid, Arjawinangun, Cirebon, yang
menginterpretasikan hukum Islam secara progresif. 

"Saya juga membaca ulang berbagai kitab. Dan ternyata menemukan penafsiran
yang berbeda dari keyakinan sebelumnya," tutur Maman. Satu hal yang kemudian
ia yakini adalah bahwa Allah itu tunggal, sedangkan makhluknya beragam.
"Dalam sebuah kitab dikatakan, Tuhan sekalian alam dan bukan Tuhan untuk
orang Islam saja." 

Selanjutnya, Maman ingin berbuat sesuatu hal yang berhubungan dengan
berbagai kalangan. "Musuh agama bukanlah agama lain. Musuh agama adalah
kebodohan. Sebab itu, semua agama harus bergerak untuk memberantas kebodohan
dan keterbelakangan," ujar Maman. 

Melalui dialog-dialog dengan berbagai golongan, Maman menemukan bahwa misi
semua agama adalah untuk menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan. 

Di satu sisi, ia melihat orang-orang yang begitu fanatik terhadap agamanya
sehingga kontraproduktif dengan misi kemanusiaan. Namun, di sisi lain ia
menemukan banyak pribadi yang kehilangan kepercayaan pada agama. Akhirnya,
ia sampai pada kesimpulan: "Agama penting selama tetap berpihak pada
kemanusiaan," ujar ayah dari Fahma, Hablie, dan Ghaitsa ini. 

Tidak setuju 

"Keyakinan baru"-nya itu bukannya bebas hambatan. Tantangan juga datang dari
orang- orang terdekat. "Semula, orangtua saya pun tak terlalu setuju ketika
saya banyak bergaul dengan pendeta. Namun, lama-lama beliau bisa memahami
juga," ungkap Maman yang pada tahun 2004 mengikuti program Interreligious
Dialogue di Ohio University, Amerika Serikat. 

Pemahamannya terhadap pluralitas juga memengaruhi "karier"-nya sebagai kiai.
"Ada pihak-pihak yang tak setuju sehingga saya tidak lagi diundang untuk
ceramah di beberapa tempat," ujar Maman. 

Namun, pemimpin Ponpes Al-Mizan yang sering mengundang tokoh agama lain
untuk menjelaskan suatu materi kepada santri-santrinya ini mengaku tidak
terganggu. Toh, dakwahnya tak mampet. "Ketika sebuah pintu ditutup, sering
ada celah yang membuat saya bisa masuk," kata Maman. 

Seperti Emha Ainun Nadjib, Maman menggunakan media seni sebagai salah satu
sarana menyampaikan pesan-pesan religius tanpa bersifat menggurui. Selain
puisi, pria kelahiran Sumedang ini akrab dengan berbagai bentuk kesenian
kontemporer maupun tradisional. 

Komunitas Gamelan Shalawat Qi Buyut adalah salah satu kelompok binaan Maman.
Gamelan ini sering mengiringi dakwah Maman. Anggotanya adalah anak-anak
jalanan yang mau bergabung. Semula, mereka enggan saat pertama kali didekati
seorang kiai. 

Saat mendekati mereka, Maman tidak ingin merebut kebebasan mereka. Juga
tidak langsung memvonis bahwa perilaku mereka salah. Cara ini membuat mereka
tak enggan bergabung. Mereka, yang semula akrab dengan musik-musik populer,
pelan-pelan erat dengan lagu-lagu shalawat. 

"Selama ini dakwah sering kali menjadi sarana hegemoni nilai-nilai yang
diyakini satu pihak terhadap pihak lain. Namun, di sini kami belajar satu
sama lain," kata Maman. 

_ 

Attachment: image001.gif
Description: GIF image

<<attachment: image002.jpg>>

Kirim email ke