On 11/19/06, Rudy Prabowo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mas Irwan K yang baik, Soal Kejujuran memang sulit diukur, lebih baik menggunakan ukuran, "masuk akal atau tidak",
cara ini lebih ampuh.
Masa' sih sulit diukur? Kan bisa terlihat dari (kesesuaian) ucapan dan tindakannya selama ini.. Contoh: soal penggunaan data untuk penyusunan laporan/pidato.. Termasuk soal pengungkapan kecintaan kepada negara lain (baca: amrik) dengan segala kesalahannya dan menjadikannya sebagai negara kedua.. ada 'moral hazzard' dan aspek kejujuran yang sangat jelas di situ.. Tapi beranikah/sudahkah ini dibuka untuk (diketahui) publik? Ini juga harusnya lebih dari sekedar soal masuk akal/tidak.. Dan masih banyak pemimpin kita yang bijak, pintar2, yg masih ada hati
nurani, dan tidak mudah dikompori, itu yg sangat kita dambakan.
Amien, bos.. Soal boss datang mau bantu atau tidak, ya kita pandai2 lah berdiplomasi,
saya kira agenda mereka jelas. Dan untuk menilai untung atau rugi => Sederhana saja cara berpikirnya, kalau di-hitung2 tidak menguntungkan dalam arti banyak ruginya yah kita tidak usah menandatangani MOU tsb, selesai..... Tapi kalau kita tidak melakukannya, berarti kalau itu memberi keuntungan, maka hilanglah kesempatan mendapat keuntungan itu :)))
Kalau itu memberi keuntungan.. berarti baru kalau kan? Begitu juga soal kesempatan yang hilang, baru terjadi kalau itu memberi keuntungan.. :-p Berapa kali tergantung dengan 'kalau' nih, bos? Lebih jauh lagi, keuntungannya seperti apa? Seberapa besar yang Indonesia dapat? Begitu juga, seberapa besar yang lepas dari Indonesia? Lebih besar mana (yang akan didapat dan yang akan lepas)? Dari pengalaman, Hasutan2 ini sungguh kejam dan berakibat penderitaan!
Contoh sepele saja, demo2 thd pabrik, industri dll, mereka sudah pada hengkang (Sony Corp,pabrik sepatu reebok, rockport,spotec, pabrik textil dll) ; ada yg ke China, ada yang ke vietnam, singapore, Malaysia dll, akhirnya kita ditinggalkan, rakyat jadi penganguran, perut lapar....keroncongan...ini salah siapa, pemerintah atau yg hobby demo atau yg senang menghasut yg menyebabkan dmk ! Dapur yg juga buat isteri dan anak2 juga didemo, mogok kerja, tekan terus sampai HENGKANG.......karena tidak memikirkan jauh kedepan. Akibatnya putus asa dan..... Hasutan ini bagaikan lingkaran setan saja dibikinnya !
Memang memprihatinkan kita semua, soal hengkangnya investor dari Indonesia.. Apa anda yakin mereka pergi semata" karena demo tersebut? Atau jangan" demo hanyalah 'kambing hitam' semata atau alasan resmi kepergian mereka.. sebagai pengalih alasan yang sebenarnya.. Mis: ekonomi biaya tinggi (banyaknya pungutan liar maupun resmi).. Lagipula pemilihan kata hasutan saya kira agak terlalu berlebihan dan mengingatkan pada atmosfir ORBA.. sedikit" istilah hasutan, menghujat dsb; bahkan bisa mendapat cap subversif apabila berpikir kritis apalagi mengajarkan kepada publik apa yang menjadi hak mereka.. Tapi walaupun demikian, pemerintah yg perlu didukung terus ini, harus kita
akui mengalami kemajuan cukup pesat terutama dibidang ekonomi makro. Jerat hutang kita kepada IMF/Dana Moneter Internasional sebesar 7,51 Milyar USD sudah terbebaskan, sudah kita bayar lunas !!!
Setelah lunas, isi LOI dengan IMF masih tetap dijalankan atau tidak, bos? Bedanya sekarang dengan tahun 97-98 kan waktu itu bos IMF sedakep-tangan di depan Eyang Harto yang menunduk sewaktu tandatangan.. Kalo sekarang mungkin gak begitu banget kali ya.. tapi semangat LOI-nya masih tetap dijalankan toh? Publik/rakyat kita hidup dari yang makro atau mikro sih, bos? Makro itu kan 'di atas permukaan'.. yang di bawah gimana? Sebagus itukah? Orang yang punya penghasilan tetap saja kadang masih susah mendapat kredit dari bank.. Gimana yang nggak? Belum sektor2 industri, juga penegakan hukum dgn ditangkapnya para koruptor
dll.
Yang polanya dipilah dan pilih itu bos? :-) Kita kok masih suka memalukan muka2 pemimpin Bangsa ini, Presiden kita
sendiri dengan cara2 Demo2, injak2 dan bakar2 bendera tamu, menyantet tamu sendiri dll, seolah-olah memusuhi Bush tapi sesungguhnya Presiden SBY CS + Staf lah yang dipermalukan, ujung2nya ya rakyat indonesia sendiri, dimana moral kita yg sering kita dengung2kan bhw rakyat Indonesia adalah penuh keramahan, lemah lembut, penuh persaudaraan, sopan santun dll, ...mana??.
Saya sepakat bahwa demo yang menginjak" dan membakar bendera negara lain bukanlah cara yang benar dan baik.. Kita harus cari cara yang lebih elegan.. tanpa harus menolak eksistensi cara demo itu sendiri.. Di mana moral kita? Tanyakan pada yang suka berbohong (minimal tidak jujur) secara terang"an maupun diam" di depan publik dan tidak mengakuinya.. Kalau *dilihat dari atas*, begitu busuk perlakuan ini apapun alasannya !!!
Bau busuk ini sudah
tersebar ke seantero dunia, bauuuuuuuuuuuu
busuuuuuk........................................
Siapakah yang haus kekuasaan sehingga mengorban rakyat yang tidak tahu apa
yg mereka
lakukan ??? Semoga sadar, sadar dan sadar
Termasuk soal kebohongan dan ketidak jujuran.. itu juga bau busuk.. namun (katanya) satu kebohongan masih bisa ditutupi dengan kebohongan yang lain.. sehingga baunya tidak sampai tercium.. namun sampai kapan dan berapa banyak kebohongan yang akan tercipta? Semoga yang kerap berbohong dan tidak jujur juga tidak lagi mengorbankan kepentingan publik.. Semoga kita semua paham.. sekali lagi paham.. CMIIW.. Salam,
Wassalam Irwan.K *IrwanK juga <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:
IMHO, ini bukan soal melawan atau memusuhi AS.. akan tetapi lebih pada kejujuran.. khususnya pada yang beberapa tahun yang lalu mengutarakan kecintaannya pada negara lain.. Berani gak beliau jujur kepada publik/rakyat Indonesia? Kenapa kejujuran penting? Karena kejujuran akan memberikan lebih banyak pilihan pada publik.. Publik tidak akan 'ditipu' oleh penampilan luar semata.. Kita/publik akan dapat melihat mau dibawa ke mana negara ini dan tidak terkaget" di akhirnya.. wah baru tahu saya, nyesel saya, dsb.. Apa alasan sebenarnya menerima(?) apalagi mengundang kedatangan tamu 'agung' (big boss) itu? Bukan alasan yang muluk" seolah/terkesan mereka akan membantu Indonesia.. padahal dalam waktu yang sama, mereka mengeruk hasil pertambangan di negeri ini jauh LEBIH BESAR.. dengan pola 'kerjasama' yang sangat timpang.. :-( Bahkan soal pembentukan DTIK (Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi) sendiri ditengarai berkaitan dengan pelegalan produk M$ (yang artinya: setoran duit ke LN).. Sementara isu IGOS yang katanya akan disosialisasikan di lembaga pemerintahan (melalui/dimulai di Dept. Ristek) seolah hanya pelengkap/pemanis.. seolah Pemerintah RI peduli dan mendukung open source.. balik lagi ke 'klaim dan seolah-olah' dan ja-im.. :-P Namun saya sendiri bukan tipe orang yang gemar/hobby demo.. apalagi kalau sampai berhari".. apalagi saya ini karyawan swasta yang gak bisa seenaknya keluar dari tempat kerja.. bukan orang yang punya usaha sendiri.. :-p Tapi saya juga bukan penentang demo.. Kalaupun harus demo, menurut saya mestinya demo tersebut: - Bukan untuk kepentingan/mengangkat nama kelompok/parpol sendiri saja.. Seolah dengan demo, kelompok/parpol yang melakukannya sudah menunjukkan kepedulian kepada satu isu.. Padahal mereka sadar demo tersebut tidak jelas manfaat/dampaknya.. jadi tidak ada target kecuali bahan 'jualan nama' saja.. - Tidak harus sering (kuantitas), tetapi yang penting adalah topik bahasannya jelas (kualitas). Sehingga memang mengena/didukung publik luas dan tidak menjadi bahan tertawaan/hinaan pihak lain. - (Tetapi) harus memperjuangkan kepentingan publik luas secara sungguh".. Contoh demo waktu jaman '98 mendesak Eyang Harto berhenti dari jabatannya.. CMIIW.. Wassalam, Irwan.K On 11/17/06, Ki Sapujagad Bhanwargupa <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Berpikirlah dari segi Positif jauh lebih baik dari pikiran negatif. > > Kita tidak bisa mengharapkan 100% apa yang kita mau-i dari AS, tapi > tentulah tuntutan kita seperti kerjasama dibidang pendidikan, kesehatan, > alih teknologi dll masih kita perlukan. Kalau kita tidak melakukan apa yg > kita butuhkan tentulah lebih tidak "CERIAH" lagi, tinggal pilih saja ! > > Dipihak AS, kita haruslah berpikir bijak, tentu mereka juga mengharapkan > keuntungan dari kita, keuntungan bukannya berarti kita dirugikan, ini salah > pemahaman. > Kalau memang itu merugikan Indonesia, kita berhak menolak agenda mereka, > tapi rakyat pikir (pendidikannya relatif cukupan), kita selalu diperlakukan > tidak adil !!! > Kalau pun ada pemahaman itu, itu adalah tidak benar ! > > Kerjasama antara dua negara tentulah yg dicari keuntungan bagi > keduabelah pihak. > Kita sudah mempercayai Pemerintah yang melakukan itu semua, itu tataran > Pemerintah tertinggi di Indonesia. Janganlah kita berpikir seperti rakyat yg > berpendidikan secukupnya berpikir, kalau seperti itu apa jadinya negara > ini??? > Kita perlu pemimpin yg bijak dan berwawasan luas! > > Dan juga kita tidak boleh berpikir dari sisi negatif kita berpikir, > seolah-olah negara kita ini negara Palestina/Irak, dan kita merasa-rasa di > Zholimi AS, Urusan negara lain (Irak,Lebanon, Palestina), walaupun seiman > (sama Islam), jangan dicampur adukkan dengan kebutuhan rakyat IIndonesia. > Urusan agama adalah arusan pribadi dengan Allah. Perut rakyat miskin ini > sudah pada keroncongan, mereka negara2 Islam yg kaya raya belum tentu mau > membantu kita, mana faktanya, kasus bencana alam sdh terjadi, akhirnya > negara2 non Islam malah yg membantu spt AS, Ingris, Jerman, Australia, > Jepang, RRC dll, (Contoh Salah satu negara terkaya didunia, > Bruneidarusallam, rajanya cukup dengan Melawat dan salam Haru-nya pada > musibah Tsunami) dan datangnyapun setelah keadaan sudah stabil, tapi kita > membela mati2an kepada mereka (bahkan mau Jihad segala macam) dengan > memusuhi AS, negara yg bersedia membantu kita dibidang kesehatan, pendidikan > dll, tapi kita belum sadar dan selalu berpikir bhw > AS terutama George W Bush mem-benci Islam, mereka musuh kita. > Disini kita harus berpikir secara bijaksana dan jangan selalu menutup > mata/tidak mau tahu keadaan orang lain.. > > Coba kita renungkan tulisan seorang Direktur Eksekutif Lembaga Kajian > Agama dan Sosial (LKAS) : > Mereka sudah mengkaji semua itu dan menelorkan tulisan ini : > Bacalah......... > > Membumikan Islam oleh Choirul Mahfud > Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Agama dan Sosial (LKAS) Surabaya, > pengajar studi Islam di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Indonesia, > Choirul Mahfud, melihat akar-akar pertikaian Muslim—Barat dan > tantangan-tantangan yang dihadapi oleh Indonesia dengan penduduknya yang > multikultural dari perspektif intelektual Indonesia. Ia menyatakan bahwa > demokrasi tak lebih merupakan pertemuan kebajikan-kebajikan dari kelompok > mayoritas. He argues that democracy is about more than just meeting the > wishes of the majority. "Kinilah saatnya umat Islam meninggalkan model > beragama dengan angka dan menunjukkan religiusitas dengan membumikan ajaran > Islam serta berlomba-lomba menegakkan amar makruf nahi munkar dengan cara > yang santun, membela pihak tertindas, membantu fakir-miskin, menolak > kekerasan, memerangi korupsi, terorisme, dan menebar kedamaian." > (Sumber: Common Ground News Service (CGNews), 3 Oktober 2006) > > kadhafi <[EMAIL PROTECTED] <kadhafi%40telapak.org>> wrote: > Aku sendiri tidak yakin kaloau saja kedatangan Bush bisa mengubah wajah > Indonesia menjadi lebih CERIAH. Niat Amerika memberikan bantuan menurutku > sama sekali bukan tanpa imbalan, posisi tawar Indonesia dimata Amerika > sangat lemah, sehingga apapaun yang di inginkan Amerika, terutama melalui > lembaga ekonomi internasional-nya pasti akan di turuti, ini terjadi karena > pemerintah kita masih sangat tergantung dengan uang dari Amerika dalam > bentuk Utang Luar Negeri. > > Dipihak lain Bush telah membunuh jutaan manusia (muslim) di bumi ini > melalui kebijakan perangnya di berbagai negara muslim. Menerima Bush bisa > berarti juga menunjukan penerimaaan negera kita terhadap tragedi pembantaian > manusia itu. > > Kita tidak mungkin tau agenda tersembunyi yang di bawa Bush. Yang di > gembar-gemborkan selama ini adalah bantuan yang akan dibawa, tapi > sesungguhnya saya yakin ada agenda tersembunyi yang akan di bawa ke > Indonesia, terutama tentang pengamanan aset-aset bisnis Amerika di > Indonesia, seperti yang seringa di katakan Amin Rais bahwa Bisnis yang > dijalankan oleh Amerika di Indonesia adalah bentuk penjajahan ekonomi yang > dilakukan Amerika terhadap Indonesia. Lihat saja beberapa perusahaan > multinasional yang bergerak di bidang pertambangan dan minyak.... > > Jadi Bush wajar dan layak untuk di tolak masuk Indonesia >
