Saya mendukung pujian Loeky terhadap Helsing.

Di Belanda, wanita berkostum burka PASTI tidak akan mendapat 
pekerjaan, siapa yang mau menerima karyawan berburka, siapa orang di 
balik kostum itu? Hiiii ngeri ......... Akibatnya sang pemakai burka 
menganggur dan tangannya nadah minta tunjangan sosial pemerintah 
yang berasal dari pajak rakyat Belanda, dus berasal dari saya juga.

Burka cocok di gurun pasir sebab di sana 'kan ada minyak, 
penduduknya (termasuk pemakai burka) kagak usah kerja dan tidak ada 
pajak, semuanya bisa jalan tokcer, pemerintah tinggal membagi-bagi 
duit ke rakyatnya (nanti kalau minyak habis baru rasain, he he 
he  .....).

Saya menggaris bawahi Helsing, di kandang kambing mengembik di 
kandang ayam berkokok. Kalau tidak setuju ya masuk ke kandang 
sendiri azaah, bukan begitu? Sebuah diskusi yang menarik dan 
bermanfaat.

Salam hangat, Danny Lim (menolak uang pajakku dipakai untuk 
mengempani pemakai burka, ihik ihik).

--- In [email protected], "helsing744" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Wah terima kasih atas "pengakuan" senior saya (Om Loecky), 
meskipun 
> ´terpaksa´.
> 
> Lebih dari itu, jauh di dasar lubuk hati, saya ingin melihat 
> muslimah di eropa bisa berbaur dan bergaul secara "wajar" dgn 
> masyarakat setempat. Berbusana secara mencolok untuk menunjukkan 
> identitas agama didepan umum saya kira adalah satu sikap 
> eksklusifisme yg kontra dgn semangat pluralis.
> 
> Dari pengalaman dan pengamatan saya, muslimah berjilbab atau 
apalagi 
> berburqa, punya kencenderungan untuk bergaul dan berinteraksi 
sosial 
> sebatas golongan mereka, sikap menutup diri seperti ini saya rasa 
> akan menghambat kemajuan (baik kepribadian atau wawasan) mereka 
dan 
> generasi mereka selanjutnya (bila terus terkungkung dgn tradisi 
> mengagungkan simbol2 agama TANPA mau melihat lebih jauh essensi 
> agama).
> 
> Lebih ´arogan´ lagi, saya ingin membongkar tradisi islam -yg Arab 
> sentris- yg ingin terus dilestarikan tanpa mau melihat konteks dan 
> essensi persoalan yg ada. Saya pikir, menjadi muslim/ah yg faham 
> akan essensi agamanya lebih baik dari pada menjadi muslim/ah yg 
> lebih cinta dan bangga dgn simbol-simbol agama tanpa menyentuh 
> essensi agama.
> 
> Yang sering memprihatinkan saya dari kelompok (berarti tidak 
> semuanya) agama islam, mereka masih saja bertikai soal arti 
penting 
> simbol2 agama sementara intisari dari ajaran agama itu sendiri 
malah 
> terabaikan atau tidak menarik untuk diamalkan.
> 
> Di persimpangan itu saya kira ´kontroversi´ islam terus menarik 
> untuk dibicarakan dan dibahas tidak saja oleh masyarakat islam 
tapi 
> juga oleh masyarakat non islam, nampak "unik" sih soalnya. 
> 
> VH
>  
> 
> 
> --- In [email protected], "loekyh" <loekyh@> wrote:
> >
> > Pak Manneke, saya terpaksa mengakui kebenaran argumen seorang 
rekan
> > (vanHelsing/ ayah_devi). Walaupun masih muda, argumen Helsing 
> sangat
> > benar sekali ketika ia menekankan bahwa aturan2 yg dibuat dan 
> sering
> > dianggap mengekang kebebasan orang lain sebenarnya bertujuan
> > mengurangi atau menghilangkan DAMPAK negatif dari hal yg 
dilarang 
> tsb
> > thd publik/ orang lain. 
> > 
> > Jadi Helsing mengukurnya bukan dari (kebebasan) diri sendiri (yg 
> cuma
> > satu orang). Sebab kebebasan ini mungkin/ berpotensi mengorbankan
> > kepentingan BANYAK orang lain. Contohnya adalah larangan merokok.
> > Sedangkan aturan burqa ini merupakan langkah2 pengamanan secara 
> fisik
> > (bahkan menurut saya juga secara mental, yaitu menjamin PERASAAN 
> aman
> > orang2 yg berada di tempat2 umum).
> > 
> > Salam
> > 
> > --- In [email protected], manneke <manneke@> wrote:
> > >
> > > Saya sudah lihat dan saya tahu burqa itu seperti apa. 
> Persoalannya
> > bukan terletak pada bentuk pakaiannya, melainkan pada pembatasan
> > kebebasan warga negara untuk memilih dan menentukan sendiri 
pakaian
> > seperti apa yang cocok bagi dirinya. Lain halnya jika pemaiakan 
> burqa
> > itu adalah hasil dari pemaksaan, yang jika tak dipatuhi maka
> > individunya disakiti atau diancam keselamatan jiwanya.
> > > 
> > > saya juga cinta kebebasan, tetapi kebebasan yang konsisten, 
bukan
> > yang tebang pilih, apalagi atas dasar bias dan prasangka agama. 
> Dari
> > pihak mana pu itu datangnya.
> > > 
> > > Mari kita merenung sama-sama.
> > > 
> > > manneke
> >
>




Kirim email ke