Pak Manneke, yg sangat dikuatirkan/ditakuti oleh pembuat aturan seandainya orang dibolehkan memakai burqa itu bukan si pemakai burqa yg rutin memakainya sebagai kewajiban agama, ttp ORANG2 LAIN yg berniat jahat menyalahgunakan pakaian burqa (seandainya tak dilarang) untuk mencuri, memperkosa, atau melakukan teror.
Jadi sasaran peraturan ini BUKAN PARA MUSLIMAH PEMAKAI BURQA, ttp ORANG2 YG BERPOTENSI MENYALAHGUNAKAN PEMAKAIAN BURQA untuk tujuan2 jahat. Lagi pula saya pastikan peraturannya tidak akan berbunyi "Para 'muslimah' dilarang memakai burqa" ttp kira2 berbunyi semacam berikut "SIAPA PUN dilarang mengenakan pakaian atau penutup kepala yg menutup seluruh wajah" (bunyi yg tak ada kaitannya dg unsur agama). Karena jumlah para pemakai burqa di Belanda cuma sekitar 50-100 saja, yg lebih banyak kena larangan ini justru orang2 yg harus jalan malam dg tutup kepala pemain ski (untuk menghindari dingin), anak2 muda yg ingin ikut meramaikan pesta Halloween di Belanda, para pemakai helm yg sangat tertutup, dsb. Mestinya golongan belakangan yg lebih banyak jumlahnya inilah yg rame2 protes, bukan para pembela muslimah yg sangat sedikit jumlahnya. Yang penting, ajaran agama apa pun harus berada di bawah hukum negara. Walaupun pemerintah sekuler wajib menghormati keberadaan semua agama (baik yg sudah lama ada, yg baru saja ada ataupun agama yg akan ada, termasuk sekte2 baru), ttp setiap pemeluk agama harus patuh pada aturan2 negara yg dibuat pemerintah. Seandainya setiap orang diberi hak untuk beribadah dan/atau mengenakan pakaian sesuai ajaran agamanya, siapa tahu kelak 10 atau 20 tahun lagi ada agama baru atau sekte baru yg memerintahkan umatnya untuk berpakaian hampir telanjang pada saat beribadah. Celaka dong kalau ada yg beribadah di dalam pesawat dg pakaian hampir telanjang :-) Kan MAYORITAS ORANG tidak setuju ada orang berpakaian telanjang di ruang publik (seperti halnya mayoritas rakyat Belanda tidak setuju orang berpakaian burqa)? Apakah sikap tidak setuju oleh mayoritas yg diimplementasikan dalam aturan melarang telanjang di muka publik memunculkan aturan otoriter ini? Inti tulisan saya, bagi saya segala sesuatu yg melawan keputusan aturan/ hukum negara dg alasan2 'religiuous' adalah NONSENSE, sebab dalam hal ini sangat jelas faktanya: alasan2 'religious' (dalam tanda petik) = pembenaran (excuses) ATAS NAMA AGAMA. Ada banyak alasan lain mengapa saya tak setuju pakaian burqa, mis. mengapa para pemakai burqa secara psikologis tidak merasa 'risih' ketika berkomunikasi tanpa memperlihatkan ekspresi wajahnya (semacam perasaan risih dg pikiran: "Jangan2 lawan bicaraku merasa se-olah2 sedang bicara dg robot yg cuma bisa ngomong, ttp tak bisa menampilkan ekpresi?"). Saya agaknya salah membuat analogi antara larangan berpakaian burqa dg larangan merokok, sebab yg pertama ditakutkan dampaknya pada orang lain, sedangkan yg kedua selain dampaknya pada orang lain, juga untuk diri sendiri (pelaku). Lebih tepat dianalogi dg larangan membawa senjata api atau senjata tajam di muka umum. FYI, selama ber-tahun2 kemudian sejak pertama kali secara statistik diketemukan KORELASI POSITIF antara kebiasaaan merokok dg penyakit paru2 dan penyakit2 lainnya, PARA PAKAR masih belum bisa menemukan secara pasti MEKANISME (BIOLOGI) MUNCULNYA PENYAKIT2 TSB sebagai akibat langsung dari merokok, selain membuat berbagai teori2. Entah sekarang, apakah mekanisme munculnya penyakit sebagai akibat kebiasaan rokok sudah diketahui dan sudah teruji secara meyakinkan di lab. Jsdi cukup dg menggunakan data2 statistik yg diolah secara benar (bukan asal2-an), orang yg bukan pakar kesehatan/kedokteran pun bisa langsung percaya 95% atau 90% adanya hubungan sebab-akibat antara penyakit paru2 dg kebiasaan merokok misalnya, hanya dari ANGKA2 STATISTIK yg valid. Salam --- In [email protected], manneke <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Pak Loeky, dari perspektif siapa atau siapa yang berhak menilai tentang kebaikan suatu peraturan? Pembuat peraturan? Kaum mayoritas? Ini sama saja seolah-olah mengatakan, "I have to do this for your own good." Sangat paternalistik, di samping ada gunanya juga untuk menutupi otoritarianisme. > > Dampak asap rokok pada orang lain sangat konkret dan bisa diukur dengan berbagai peranti dan teknologi kesehatan. Dampak orang memakai burqa pada orang lain? > > Ada "fear" yang sumbernya bisa ditemukan dan dikukur, ada "anxiety" yang sumbernya tak jelas. Adilkah melarang sekelompok orang tertentu untuk memilih cara berpakaiannya sendiri hanya berdasarkan "anxiety" orang lain belaka? > > manneke
