Masalah Smackdown! akhirnya membuat kita kembali membicarakan sesuatu yang sudah kita sadari dan pahami bersama, khususnya tentang dampak acara yang disiarkan televisi. Sepertinya kita tak pernah lelah untuk membicarakan sesuatu yang bisa dikatakan sudah jelas. Apalagi ketika ada satu contoh yang dapat dijadikan contoh dan ada sesuatu atau seseorang yang mudah disalahkan. Jadi, kita lihat apa yang akan kita lakukan setelah ini. Apa yang akan dilakukan pemerintah, KPI, stasiun televisi dan masyarakat. Apa setelah ini, masalah kembali hilang dan akan muncul lagi nanti jika ada contoh yang dapat dijadikan contoh. Saya sudah lelah. Semoga saya salah.
On 11/29/06, OYR79.com <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya melihat *Smackdown* sebagai bom waktu buruknya kualitas siaran televisi kita, yang baru saja meledak. Karena sebetulnya, *Smackdown*hanyalah imbas dari tayangan-tayangan televisi yang tidak memerhatikan mutu edukasi melainkan terlalu mengedepankan segi entertain dan komersial. Jadi, kesalahan tidak melulu ada di pihak Lativi selaku yang menayangkan * Smackdown* dan solusi memindahkan jam tayang bukanlah solusi yang paling tepat, meskipun cukup bisa untuk membatasi. Dalam siaran Liputan 6 SCTV, salah seorang anak SD diwawancarai soal tayangan *Smackdown*. Ia kemudian menjawab bahwa ia menonton *Smackdown*pada waktu puasa dari tengah malam sampai subuh. Nah, kalo sudah begini, berarti tayangan jam berapa pun tidak menjamin akan bebas dari jangkauan anak. Belum lagi, ketika sedang berjalan-jalan di salah satu toko VCD dekat tempat tinggal saya. Saya melihat si penjual VCD memajang VCD *Smackdown*persis di samping VCD Teletubbies. Jadi, ditayangkan atau tidak oleh televisi, Smackdown tetap bisa dijangkau melalui VCD "bajakan" Kuncinya kini ada di orang tua. Bagaimana ia dapat mengawasi tayangan apa yang dikonsumsi oleh anak-anaknya sendiri. Dalam ulasan Editorial Media Indonesia di MetroTV, saya melihat adanya kecenderungan pihak orang tua untuk selalu memersalahkan stasiun televisi. Tetapi di samping itu mereka juga mengritik tayangan sinetron-sinetron lainnya yang mengandung unsur kekerasan dan tindakan amoral lainnya. Hanya saja, pihak MetroTV & Media Indonesia tidak ingin melirik ke bahasan tentang sinetron-sinetron dan tayangan-tayangan televisi lainnya, sebab diakui atau tidak, banyak juga tayangan berita yang tidak pantas untuk anak-anak, yang juga disiarkan oleh MetroTV. Bedanya, tayangan berita itu kan gak dikasih label SU, BO, dsb, dan mungkin anak-anak masih malas nonton berita. Tapi... *who knows?* Intinya yang ingin saya garis bawahi di sini adalah kenapa *Smackdown*mendadak jadi kambing hitam ketidakterkontrolannya prilaku anak sekarang? Jika media massa, khususnya pertelevisian, mau jujur dan mau terbuka. * Smackdown* itu hanyalah puncak dari peniruan-peniruan lainnya yang dilakukan oleh anak-anak. Kenapa anak-anak mau menonton sampai larut malam? Karena mereka telah dibentuk dengan sikap membangkang yang juga salah satunya akibat pengaruh tayangan TV lainnya. Jadi, nasihat orang tua pun dianggap sambil lalu. Meski demikian, kesalahan tidak 100% terletak pada media massa. *Toh*, anak-anak bisa menonton lewat VCD atau DVD atau media lain. Kontrol yang dilakukan oleh semua pihak sangatlah penting, mulai dari orang tua, lingkungan sekitar, guru dan masyarakat umum. Semuanya ikut memberi andil dalam membentuk karakter anak. Jadi, anggap saja *Smackdown* sebagai malaikat maut yang telah membuka selubung kurangnya kontrol kita terhadap anak-anak. Sekarang tinggal berpikir solusinya. Gak perlu lagi mengungkit-ungkit yang sudah berlalu ------------------------------ This message is FREE from virus when I sent. Virus Database (VPS): 0651-0, 27/11/2006 Tested on: 29/11/2006 20:48:39 ------------------------------ This message is FREE from virus when I sent. Virus Database (VPS): 0651-0, 27/11/2006 Tested on: 29/11/2006 21:56:30 ------------------------------ This message is FREE from virus when I sent. Virus Database (VPS): 0651-0, 27/11/2006 Tested on: 29/11/2006 23:36:18
