Buruk rupa, cermin dibelah .... :) Itu tepatnya!

On 11/30/06, stefen gelass <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

 Saya tidak setuju dengan pelarangan acara Smackdown di TV. Maaf, bukannya
saya tidak bersimpati dengan para korban dan keluarganya dan saya pun sama
sekali bukan penggemar acara tersebut, sungguh. Namun saya hanya cemas bahwa
pelarangan acara Smackdown akan menjadi pintu bagi pelarangan-pelarangan
acara lainnya yang mungkin dinilai membawa impact buruk bagi masyarakat.
Kita tahu memang banyak sekali acara "sampah" di TV, namun jangan dipungkiri
bahwa "sampah" itu ada penggemarnya juga. Saya hanya ingin mengatakan,
berhentilah menyalahkan TV! Katakanlah acara Smackdown mengandung unsur
kekerasan, memengaruhi anak-anak, lalu timbullah korban. Bagaimana nanti
kalau ada film yang menampilkan adegan kekerasan (jangan prejudice bahwa
semua adegan kekerasan dalam film itu pasti tidak baik karena banyak film
bertema kekerasan yang sangat berkualitas macam Scarface, Godfather, bahkan
film seri CSI yang cerdas itu dan sebagainya), lalu ditiru anak-anak dan
menimbulkan korban, lalu orangtuanya protes dan dilaranglah semua film yang
ada kekerasannya di TV. Maka akan semakin terbataslah kesempatan kita
menyaksikan film-film bermutu yang ada adegan kekerasannya. Bagaimana pula
dengan siaran olahraga tinju misalnya? Cabang olahraga yang diakui namun tak
dapat dipungkiri jelas ada unsur kekerasannya. Saya ingat, sewaktu kecil
saya dan teman-teman sebaya begitu menggandrungi siaran olahraga tinju
ketika Elyas Pical sedang jaya-jayanya. Namanya anak-anak, sehabis nonton
Ely meng-KO Caesar Polanco saya dan teman-teman menggelar "adu tinju" dengan
sarung tinju seadanya dan tanpa mengindahkan bobot tubuh untuk menentukan
lawan. Saya mendapat lawan yang lebih muda namun bobotnya lebih besar dari
saya. Saya pun kena hook telak dan KO. Untungnya saya tidak apa-apa. Dan tak
ada seorang teman pun yang mengalami nasib yang lebih buruk selain KO
sejenak. Tetapi seandainya waktu itu ada diantara kami yang gegar otak atau
lebih parah lagi, lalu orangtua kami menuntut ke TVRI agar siaran tinju
tidak disiarkan, atau bahkan lebih parah lagi, olahraga tinju dilarang sama
sekali seperti di Swedia, apakah itu suatu tindakan yang adil? Bagaimana
pula dengan siaran olahraga cabang bela diri yang lain? Sekali lagi, kenapa
menyalahkan TV? Kan sudah ada batasan-batasannya seperti waktu tayang,
rating umur dsb, jadi kalau stasiun TV-nya melanggar ketentuan itu, inilah
yang bisa dikenakan sanksi atau semacamnya. Namun pelarangan atau
penghentian acara, ini saya rasa betul-betul tidak adil. Menyalahkan acara
TV untuk suatu tragedi sudah menjadi lagu lama yang berulang-ulang. Habis
nonton film merangsang lalu memerkosa, habis nonton film perampokan lalu
dapat ide merampok dan sebagainya. Habis nonton acara sirkus dan akrobat
lalu anak kita meniru dan celaka. Apakah solusinya melarang semua itu agar
tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan? Tidakkah yang lebih tepat
adalah kontrol diri sendiri, pengawasan keluarga dan semacamnya? Sebaiknya
dampingi saja anak-anak kita kalau nonton acara Smackdown dan sebagainya,
selama menonton berikan penjelasan bahwa pertandingan ini dilakukan oleh
orang profesional, sebagaimana halnya pertunjukan sirkus, yang tidak boleh
dicoba-coba, ataupun kalau mau mencoba ya perlu kursus bela diri khusus dulu
dan sebagainya. Melarang hanya akan menambah populer acara-acara semacam itu
dan akan menjadi kegiatan ilegal yang justru menambah "keasyikkan" bagi
anak-anak. Dan untuk acara-acara "sampah" yang lainnya, tinggal jangan
ditonton kalau memang kita rasakan tidak ada manfaatnya. Kalau tidak
ditonton kan lama-lama mati sendiri programnya. So stop blaming TV. Just
take a look in the mirror.


Kirim email ke