Mas Satrio, 

Adakah jalan lain dari 'luar" Kompas yang bisa ditempuh untuk mendorong 
diimplementasikannya nilai-nilai Kompas di tingkat internal ?

Misalnya (misalnya lho ini ) kampanye boikot beli koran Kompas, karena koran 
itu diproduksi dengan sistem produksi yang menindas pekerjanya .

Para tetangga di komplek saya rerasan bicara soal rencana itu. Maklum saya 
tinggal di kompleks wartawan di depok, sepertinya ada pola solidaritas dalam 
menghadapi kasus Kompas ini. 

Apakah cara seperti itu efektif ? 
sebenarnya sih ragu, kalau lihat tiras kompas dan banyaknya anak perusahaan 
yang dimiliki, tentu boikot 1000 sampai 2000 orang nggak akan ngaruh. 

Atau ada alternative lain ? 

salam 
dian  



  ----- Original Message ----- 
  From: Satrio Arismunandar 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, December 12, 2006 12:05 AM
  Subject: Re: [mediacare] Re: Imbauan bagi Pak Jakob Oetama - tentang 
nilai-nilai Kompas



  Oh, jangan khawatir!
  Selama pengalaman saya 7 tahun di Kompas, saya tahu, umumnya orang Kompas 
akan memilih tutup mulut dan main aman dalam situasi genting (ini mungkin 
kecenderungan di banyak media, bukan cuma Kompas). Saya tidak menyalahkan 
mereka. Tapi, tak usah mengharapkan ada pernyataan terbuka di milis atau media 
tentang kasus yang menimpa Wisudo dari mereka. 

  Kalau dibilang dendam, tidak ada. Sampai saat ini saya tetap berhubungan baik 
dengan teman-teman di Kompas. Waktu saya menikah (sesudah saya keluar/dipaksa 
mundur dari Kompas), saya juga mengundang Pak Jakob Oetama. Dan beliau juga 
datang kok! 

  Sesudah saya keluar dari Kompas, sejumlah tulisan yang saya kirim juga pernah 
dimuat di Kompas. Jadi saya yakin, pimpinan Kompas dan Pak Jakob juga tidak 
punya dendam pada saya. Kami berdua sama-sama tahu, apa yang terjadi pada 1995, 
ketika saya dipaksa mundur dari Kompas adalah karena TEKANAN REZIM SOEHARTO. 
Kompas tak punya pilihan lain dan tak punya kekuatan menolak tekanan Menteri 
Penerangan Harmoko waktu itu dan para pimpinan PWI Pusat dan PWI Jakarta (waktu 
itu diketuai Tarman Azzam). Ingat, jika Kompas bandel, bisa dibreidel kapan 
saja waktu itu! Jadi, ketika saya dipaksa keluar waktu itu, kami sama-sama 
tahu, alasannya adalah 100% pertimbangan politik. Karena Pak Jakob pun 
mengakuyi, tidak ada satu pun kesalahan yang saya lakukan sebagai KARYAWAN.

  Tempat saya bekerja sekarang lebih baik dari Kompas? Bung, saya sudah pernah 
bekerja 3 suratkabar nasional (Pelita, Kompas, Media Indonesia), 1 majalah 
berita mingguan (D&R), dan 1 stasiun TV (Trans), dan kesimpulan saya tidak ada 
tempat bekerja yang sempurna. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan 
sendiri-sendiri.  

  Pernyataan saya di bawah ini justru berasal dari rasa cinta saya pada Kompas, 
karena saya tahu nilai-nilai luhur yang ditanamkan para pendiri Kompas 
(almarhum PK Oyong) sangat berharga untuk dipertahankan. Dan Kompas tidak akan 
bertahan lama, dan akan turun posisinya menjadi sekedar sebagai bisnis cari 
untung biasa, manakala nilai-nilai keutamaan yang ditanamkan para pendiri 
Kompas yang awal itu ditinggalkan atau disisihkan. 

  Pak Jakob Oetama dan sejumlah senior saya di Kompas adalah guru-guru saya 
dalam ilmu jurnalistik. Saya tidak pernah mengingkari hal itu dan tetap 
menghormati mereka sampai sekarang. Jadi, kritik dan saran yang saya sampaikan 
justru saya maksudkan untuk kebaikan Kompas, para karyawannya (bukan cuma 
Wisudo), dan menyelamatkan nilai-nilai para pendirinya, yang mungkin saja 
sekarang terlanda erosi akibat tuntutan kapitalistik. Kompas punya arti dan 
makna, karena nilai-nilai itu, yang saya anggap jauh lebih penting dari masalah 
pribadi. 


  ----- Original Message ----
  From: dimastakha <[EMAIL PROTECTED]>
  To: [email protected]
  Sent: Monday, December 11, 2006 10:54:12 PM
  Subject: [mediacare] Re: Imbauan bagi Pak Jakob Oetama - tentang nilai-nilai 
Kompas


  Bung, cobalah lebih balance. Anda kan wartawan senior, tidak usah
  terjadi hanya percaya satu sumber. Jika itu terjadi, tentu memalukan
  bukan?
  Tanya juga teman2 di Kompas, apa yang sesungguhnya terjadi.
  Jangan terkesan Bung ada dendam terhadap Kompas?
  Serta, apakah tempat Anda bekerja saat ini lebih baik dari Kompas?

  salam
  dimast,
  ikut prihatin juga

  --- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, Satrio Arismunandar
  <satrioarismunandar @...> wrote:
  >
  > Teman-teman,
  > 
  > Saya mendapat e-mail dari Sri Yanuarti (Yanu), peneliti LIPI,
  pengurus pusat AIPI (Asosiasi Ilmu Politik Indonesia), dan istri dari
  wartawan Kompas Bambang Wisodo, via milis AIPI. Isinya berkenaan
  dengan kasus pemecatan Bambang Wisudo oleh manajemen Kompas, terkait
  soal serikat pekerja di Kompas. Yanu adalah rekan saya di AIPI,
  sedangkan Wisudo adalah juga rekan sesama pendiri AJI (Aliansi
  Jurnalis Independen), dan dulu juga saya pernah sama-sama kerja di Kompas.
  > 
  > Saya sangat terkesan, bahwa menghadapi saat-saat sulit dan penuh
  tekanan, Yanu, Wisudo dan keluarga tetap tenang dan tabah. Artinya,
  perjuangan serikat pekerja ini bukan semata-mata urusan Wisudo, tetapi
  sejak awal sudah disadari dan didukung penuh oleh istri/keluarga.
  Tentu dengan berbagai risikonya.
  > 
  > Dalam kondisi ekonomi dan politik sekarang, di mana nuansa
  pragmatisme dan oportunisme, kepentingan mau enak sendiri, masih
  sangat kuat, saya merasa salut bahwa masih ada orang-orang yang
  berjuang untuk idealismenya. 
  > 
  > Kalau Wisudo mau hidup enak dan nyaman di Kompas, perusahaan media
  yang sudah sangat mapan di Indonesia (koran terbesar dan paling
  berpengaruh) , sebetulnya bisa saja. Kompas adalah salah satu dari
  sedikit media yang menyediakan pensiun buat karyawannya. Namun, Wisudo
  memilih jalan lain, dan kini dia menanggung risiko perjuangannya.
  Yakni, dipecat oleh manajemen Kompas. 
  > 
  > Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian, dan tidak ingin
  menduga-duga. Yang jelas, Wisudo dkk akan terus berjuang, di dalam
  Kompas maupun di luar Kompas. Salah satu alternatifnya tentu lewat
  jalur hukum (LBH). 
  > 
  > Di sini saya menilai, tindakan represif terhadap aspirasi karyawan
  yang sah, seperti dialami Wisudo, tidak akan menghasilkan dampak yang
  baik bagi perusahaan. Namun, yang jauh lebih merugikan Kompas
  sebetulnya adalah masalah reputasi dan image, yang terkait dengan visi
  dan misi Kompas, yang merupakan akar keberadaan perusahaan yang
  didirikan PK Oyong (alm) dan Jakob Oetama ini. 
  > 
  > Bukankah Kompas adalah perusahaan media yang selama ini (lihat tajuk
  rencana/editorialny a) sering mengangkat isu-isu demokratisasi,
  keterbukaan, hak-hak asasi, dan sebagainya? Bukankah Kompas menganut
  dan meyakini nilai-nilai "humanisme transendental" ? Apakah itu sekadar
  gincu, dan bukan genuine values yang dianut Kompas, mengingat secara
  internal ternyata nilai-nilai itu masih dipertanyakan, karena tidak
  terimplementasi? 
  > 
  > Jika demikian halnya, bagaimana Kompas sebagai institusi dan bagian
  utama/tulang punggung KKG (Kelompok Kompas Gramedia) akan melangkah
  memasuki abad baru dunia informasi dan globalisasi, dengan segala
  dinamika perubahan, tantangan, ancaman, jika tanpa dukungan akar
  nilai-nilai mendasar, yang memberi makna pada keberadaannya? 
  > 
  > Selama ini, perekat yang mempertahankan keutuhan KKG adalah figur
  Pak Jakob Oetama (JO), sebagai generasi pendiri yang memiliki wawasan
  kuat ke depan, nasionalisme, kharisma, wibawa dan intelektualitas.
  Namun, dengan segala hormat atas kekuatan manajerialnya, JO tidak akan
  memimpin KKG selama-lamanya. 
  > 
  > Lalu bagaimana KKG dan Kompas akan melangkah jika nanti ditinggalkan
  JO, sementara core values yang menjadi landasan berdirinya dan
  suksesnya lembaga Kompas, justru mengalami erosi karena
  langkah-langkah "pragmatis-oportini stis" jangka pendek? Bukan tidak
  mungkin, langkah-langkah semacam ini akan diteruskan oleh para
  pimpinan Kompas/KKG pasca JO nanti. Mereka adalah generasi baru, yang
  mungkin kurang menghayati nilai-nilai awal yang ditanamkan generasi
  pendiri.
  > 
  > Mempertimbangkan hal itu, saya berharap, Pak Jakob dengan segala
  kearifannya, sebagai figur yang menjadi panutan dan dihormati di KKG
  dan Kompas, dapat ikut campur tangan melakukan intervensi. Karena yang
  dipertaruhkan di sini BUKAN cuma nasib Wisudo, Yanu dan keluarga,
  tetapi nasib dan survivabilitas dari KKG, Kompas, dan nilai-nilai
  luhur (core values) yang selama ini dianut, diyakini, dihayati, dan
  terbukti telah membesarkan Kompas.
  > 
  > Selain itu, yang dipertaruhkan bahkan juga bukan nasib sekian ribu
  karyawan Kompas dan KKG, tetapi jutaan stakeholders yang berkaitan
  dengan keberadaan institusi media besar ini, termasuk para pembaca
  Kompas di seluruh pelosok Indonesia. Peran media sangat penting untuk
  kemajuan negeri ini. Peran vital media seperti Kompas masih amat
  dibutuhkan, untuk ikut menggalang dukungan dari jutaan rakyat
  Indonesia -- yakni, mereka yang masih punya idealisme dan niat baik--
  untuk bersama-sama menyelamatkan Indonesia. 
  > 
  > Sekali lagi, saya berharap, agar Pak Jakob, yang saya anggap sebagai
  salah satu guru saya dalam ilmu jurnalistik dan wawasan kewartawanan,
  bersedia untuk turun tangan langsung, demi kebaikan dan kelangsungan
  institusi KKG dan Kompas, beserta nilai-nilai luhur yang selama ini
  memberi makna pada keberadannya. 
  > 
  > 
  > Wasalam,
  > Satrio Arismunandar
  > 
  > (mantan jurnalis Kompas, yang dibesarkan di Kompas pada 1988-1995,
  dan selama itu banyak belajar tentang ilmu jurnalistik dan kearifan
  dari guru-guru saya di Kompas)
  > 
  > 
  >
  ============ ========= ========= ========= ========= ========= ========= 
=======
  > (dari milis AIPI, ditulis oleh Yanu:)
  > 
  > Saya ucapakan Terimakasih atas dukungan yang
  > diberikan Mas Rio terhadap saya dan keluarga.
  > Perlakukan yang diberikan jajaran manajement Kompas
  > terhadap suami saya, adalah satu resiko yang sudah
  > kami hitung sejak lama. Perjuangan suami saya Wis
  > (Bambang Wisudo) tentang pemilikan saham karyaam
  > bukanlah perjuangan yang dilakukan dalam hitungan
  > hari. 
  > Delapan tahun sudah, ia dan teman-temannya di
  > Perkumpulan karyawan Kompas melakukan perjuangannya
  > untuk menuntut mengembalian saham 20% yang diambil
  > oleh perusahaan tanpa sepengetahuan karyawan. Selama
  > itu pula, kami sudah terbiasa dengan berbagai
  > kebijakan dari management Kompas untuk melakukan
  > berbagai penjegalan atas apa yang diperjuangkan suami
  > saya dan kawan-kawan. 
  > Berkaca dari kasus Albert Kuhon, Mas Rio dan Mas
  > Yudha, saya sadar betul bahwa pemecatan terhadap suami
  > saya bukan tidak mungkin akan terjadi. Namun perlakuan
  > dan tindakan para jajaran pimpinan kompas yang
  > menggunakan cara-cara kekerasan yang brutal dan
  > primitif adalah jauh dari banyangan kami. 
  > Sebagai salah satu pilar demokrasi sekaligus
  > intitusi yang menyuarakan serta menggembar-gemborka n
  > persoalan HAM dan Demokrasi maka tidak sepantasnya
  > Kompas melakukan tindakan brutal dan primitif (dengan
  > melakukan penyeretan dan penyekapan) dalam proses
  > pemutusan hubungan kerja. Bahkan sejauh yang saya
  > tahu, pemecatan terhadap buruh linting di pabrik 
  > rokokpun masih dilakukan cara-cara yang sangat sopan. 
  > Sungguh suatu hal yang sangat ironis bagi Kompas
  > yang bangga dengan logonya "Menyuarakan Amanat Hati
  > Nurani Rakyat", perlakuan dan tindakan terhadap
  > karyawannya justru jauh dari apa yang selama ini
  > ditulis besar-besar di bawah kata KOMPAS.
  > Jika saya sedih terhadap kasus suami saya, itu
  > bukanlah karena suami saya dipecat dari Kompas tapi
  > justru karena gambaran Kompas sebagai media tempat
  > suami saya berkarya selama ini adalah Kompas telah
  > mengkhianati dari nilai-nilainya sendiri. Kompas yang
  > impikan oleh suami saya, yang pernah menjadi cita-cita
  > suami saya, ternyata tidak lebih dan tidak kurang
  > dibandingkan pabrik sandal jepit. 
  > Saya justru bangga bahwa karena ditengah
  > gemerlapnya fasilitas materi yang bisa dinikmati
  > wartawan kompas, suami saya masih kukuh untuk
  > menyatakan kebenaran, untuk menggugat hak-hak karyawan
  > yang telah dirampas oleh perusahaan. Dengan itu pula
  > kami dapat tetap melangkah dengan kepala tegak dan
  > hati ringan saat kami meninggalkan kantor Kompas malam
  > itu, karena Kompas tidak lebih dan tidak kurang
  > dibandingkan pabrik sandal jepit.
  > Salam
  > Yanu (Istri Bambang Wisudo)
  > 
  > 
  > 
  >
  ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
  > Any questions? Get answers on any topic at www.Answers. yahoo.com. 
  Try it now.
  >







------------------------------------------------------------------------------
  Want to start your own business? Learn how on Yahoo! Small Business.

   

  __________ NOD32 1916 (20061212) Information __________

  This message was checked by NOD32 antivirus system.
  http://www.eset.com

Kirim email ke