Dear Milisers,
   
  Kita tidak boleh lupa juga akan kebodohan pemerintahan kita khususnya 
Soeharto/TNI yg mau diperalat oleh Amerika dan Australia.
   
  Setelah revolusi bunga (?) di portugal, Timtim menjadi daerah yg terlantar. 
Karena waktu itu masih era perang dingin antara AS/Uni Eropa dengan Uni Soviet, 
Amerika begitu takut Timtim jatuh ke blok timur seperti halnya Macao. Untuk 
itu, Amerika "menyetujui" invasi Indonesia ke Timtim. Australia juga takut 
Timtim akan menjadi basis komunis dari utara sehingga diam-2 mendukung invasi 
tsb. Australia juga melakukan hal tsb supaya Indonesia mau mengakui kedaulatan 
mereka atas pulau pasir ( Australia menyebutnya Ashmore Reef ) yg berada di 
selatan pulau Rote, NTT padahal pulau tsb adalah bekas jajahan belanda sehingga 
seharusnya menjadi bagian dari NKRI. Nelayan tradisional rote juga sudah 
ratusan bahkan mungkin ribuan tahun mencari ikan sampai ke pulau pasir ini dan 
dulunya masuk wilayah kerajaan rote.
   
  Timtim memang tidak pernah dijajah Belanda sehingga seharusnya tidak menjadi 
bagian NKRI. Tapi karena mendapat lampau hijau ( tidak terang-2an ) dari AS dan 
Australia, invasi Indonesia ke timtim dilakukan juga. Alasannya pada masa 
kerajaan majapahit, seluruh pulau timor termasuk wilayahnya sehingga ada 
kesamaan budaya dengan Timor barat dan propinsi NTT pada khususnya dan 
Indonesia pada umumnya.
   
  Jangan lupa pula bahwa waktu itu, timtim adalah daerah yg ditelantarkan. 
Kelaparan dan wabaha penyakit ada dimana-mana. Konon kabarnya, jumlah sekolah 
bisa dihitung dengan jari. Rakyat sangat miskin dan terbelakang. Tidak 
infrastruktur sama sekali. Jalan beraspal cuma beberapa km saja.
   
  Indonesia datang sebagai dewa penyelamat, triliunan rupiah ditanamkan. 
Berbagai infrastruktur dan sekolah dibangun. Dalam 24 tahun masa integrasi 
dengan RI, masyarakat timtim maju pesat. Putera-puteri asli timtim dikirim 
bersekolah ke sekolah-2 terkemuka di Indonesia dengan fasilitas beasiswa.
   
  Setelah menjadi pintar dan mengalami pembangunan yg luar biasa, oleh 
kesalahan Habibie, opsi referendum diberikan kepada timtim. Amerika dan 
Australia tidak lagi mendukung Indonesia karena perang dingin sudah tidak ada 
lagi, USSR sudah bubar. Australia juga sudah mendapatkan pengakuan atas pulau 
pasir. Konsesi pembagian cadangan minyak dilaut Timor yg menguntungkan 
australia pun sudah ditanda tangani.
   
  Semua tahu akhirnya, timtim lepas dari Indonesia. Kerugian materi yg 
jumlahnya sangat besar yg sudah ditanamkan di timtim menjadi percuma. Kalau 
saja timtim tidak pernah menjadi bagian Indonesia, belum tentu mempunyai 
infrastruktur seperti sekarang ini. Timtim itu adalh negara dengan sumber daya 
alam yg minim. Tidak mungkin selamanya mengantungkan diri kepada domor dari 
negara asing. Belum tentu menjadi negara merdeka sendiri menjadi pilihan 
terbaik bagi mereka. masih perlu dikaji lagi 25-50 tahun ke depan.
   
  Coba saja waktu itu Pemerintah kita tidak mau diperbodoh oleh AS dan 
Australia, kita tidak perlu menanggung malu yg begitu besar dalam kasus Timtim 
ini. Semoga ini menjadi pembelajaran buat kita semua.
   
  Yg perlu adalah bagaimana membuka lembaran baru ke depan dan hidup 
berdampingan dengan damai dengan negara tetangga.
   
  Salam

bagus taruno legowo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          repotnya masih banyak orang belum bisa secara dewasa melihat berbagai
persoalan.
contohnya, apabila ada pernyataan dari Xanana yang mendeskriditkan
Indonesia, dalam sudut pandang Xanana mungkin saja benar, so tidak ada
masalah.

hanya saja, pernyataan-pernyataan seperti itu sering kemudian
dipelintir-pelintir lagi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab
(repotnya orang Indonesia sendiri) dan dipergunakan untuk "menohok"
Indonesia.

apabila ada orang asing mendeskriditkan Indonesia (sekalipun atau
apalagi itu benar), itu sebenarnya hak mereka karena mereka mengalami
pengalaman buruk dengan Indonesia.

tapi kalau pernyataan itu kemudian dimanfaatkan dengan menggunakan
"efek ribon" oleh orang-orang Indonesia sendiri, untuk memukul bangsa
sendiri, itu yang keterlaluan.

silahkan saja, orang-orang asing ngomong minor tentang Indonesia.
namun, kita sebagai bangsa Indonesia berhak dan wajib untuk membela
harga diri bangsa dengan cara yang elegan. artinya, kita terima kritik
atau omongan minor itu, sembari mengatakan, "terima kasih, semua
masalah yang anda sampaikan itu adalah masalah kami sendiri, anda
tidak perlu ikut campur masalah kami, dan kami mempunyai cara sendiri
untuk menyelesaikan urusan bangsa kami."

jadi, persoalannya pada kedewasaan kita sebagai bangsa. jati diri kita
sebagai bangsa belumlah matang. tapi perlu terus dipupuk dan ditempa,
agar betul-betul menjadi matang.

pemutaran filem Xanana sebenarnya tidak ada masalah sepanjang itu
dalam konteks seni. apabila sudah di putar di media publik seperti TV,
perlu perimbangan dengan mengadakan wacana atau debat publik antara
yang pro dan kontra sehingga setiap orang dapat mengambil nilai-nilai
yang ada di dalamnya secara obyektif. masyarakat cukup dewasa untuk
itu apabila ada wacana pro-kontra secara jelas. tapi kalau tidak
diimbangi dengan debat publik, yang terjadi adalah monolog, dan dapat
ditafsirkan seolah-olah filem itu menyatakan kebenaran. disini menjadi
masalah.

Xanana dan Timor-Timur bagi Indonesia adalah masalah sulit, kompleks
dan multi-dimensi, serta sangat sensitif. hitam-putihnya masih kabur
tergantung dari sudut mana kita melihatnya. nah, karena itu perlu
menempatkan filem Xanana itu pada posisi yang tepat, bukan untuk
membela salah satu dan mengorbankan yang lain. tapi kita harus melihat
dengan obyektif dan dewasa, pertama karena fakta, tapi juga ada fakta
yang lain mungkin kontra.

On 12/19/06, eko adi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Saya setuju dengan pelarangan film Xanana diputar di
> JIFFEST itu. Dan sangat mengutuk penayangan Xanana di
> Metro TV yang seolah-olah difigurkan sebagai
> pahlawan..
> Xanana memang (mungkin) pahlawan bagi sebagian orang
> Timor-Timur. Tapi, ia tetap bekas PEMBERONTAK bagi
> Indonesia.
> Cukup Indonesia mengakui kemerdekaan Timor Leste,
> BUKAN terus memuja-mujinya. Bukankan itu sama saja
> melempar kotoran ke muka sendiri, dan METRO TV sudah
> melakukannya.
> Kenapa bukan dokumentasi para Tentara Indonesia yang
> ditampilkan di layar kaca untuk sebuah penghargaan
> bagi mereka, bagi anak, istri, orang tua yang
> ditinggalkan mati saat menumpas pemberontak.
> Ini bukan melulu membela tentara, tapi adakalanya
> sebagai bangsa kita harus memiliki sedikit keguyuban.
> Kesalahan tentara yang menyangkut pelanggaran HAM,
> tetap harus dusut tuntas.
> Keanehan bangsa ini laiinya adalah ada bekas
> pemberotak/GAM yang jadi gubernur...ANEH!!!!
>
> Adi.
>
>
>
> --- radenayu asli <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> > Aneh kalau Film mengenai Xanana dilarang diputar di
> > JIFFEST. Kalau itu fakta, mengapa tidak?!
> > Jangan-jangan ada unsur Orde Baru yang melarang.
> > Bukankah Indonesia sebenarnya waktu itu menjajah
> > Timor
> > Timur? Karena menurut hukum dan sejarah, wilayah RI
> > adalah semua wilayah Hindia Belanda, atau wilayah
> > bekas jajahan Belanda. Padahal Belanda tidak pernah
> > menjajah Timor Timur.Ini berarti Pemerintah Orde
> > Baru
> > sudah melanggar UUD 45 yang tidak membenarkan adanya
> > penjajahan di muka bumi.
> >
> > --- nini_sunny <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > >
> > > Xanana: Dibalik Sosok Sang Presiden
> > >
> > > Film dokumenter A Hero Journey menimbulkan
> > > kontroversi. Beredar rumors
> > > bahwa film tentang Xanana Gusmao ini dilarang
> > > diputar di acara JIFFEST,
> > > karena beberapa adegan dan pernyataan di dalam
> > film
> > > itu dinilai
> > > mendiskreditkan Indonesia.
> > >
> >
>
> __________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
> http://mail.yahoo.com
>
>


         

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke