Karena itu diperlukan Soempah Pemoeda II yang bunyinya "Satu Nusa, 
Satu Bangsa, Satu Budaya, Indonesia". Bahasa sudah termasuk budaya.

Selama 61 tahun kemerdekaan ini, Indonesia memiliki budaya nasional 
GONTOK-GONTOKAN. Jadi itu mesti di-Soempah Pemuda-kan menjadi budaya 
RUKUN-RUKUNAN. Setelah rukun, mulailah memikirkan Water Management 
agar tidak terjadi lagi banjir bandang. Mulailah memikirkan 
pertanian/perkebunan supaya tanah Indonesia yang subur "tonggak kayu 
pun jadi tanaman bisa menghasilkan produk optimal." Mulailah 
melaksanakan pasal 34 UUD RI "Fakir miskin dan anak terlantar 
dipelihara oleh negara". Buanglah Pancasila ke tong sampah dan "stop 
masturbating with it", sebagai gantinya mulailah melaksanakan 
sila "Keadilan Sosial." dll.dll. Sukses ya.

Salam hangat, Danny Lim, Nederland

--- In [email protected], Goenardjoadi Goenawan 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> halo sahabat,
> 
> kalau kita baca message beberapa teman yang diposting
> di Milis, kita bisa heran, contohnya..
> 
> Potret (Keliru) Poligami 
> Cobaan dari Allah SWT untuk jemaah haji Indonesia 
> The Next Bill Gates? A Chinese! 
> Geger "Kristenisasi" di Depok 
> Tuhan kelelahan 
> Mengapa Kita Khawatir dengan Syariat Islam dalam
> berbangsa 
> Adu jangkrik : Shiyah dan Sunni di Timur Tengah 
> aa gym dan ferry surya 
> Poligami? Jangan cari excuses lewat 
> 
> Banyak sekali energi yang terbuang sia-sia hanya
> mempermasalahkan nenek moyang kita.  ada yang
> mempertentangkan AA Gym dan Ferry Surya, sampai-sampai
> masalah Jemaah Haji yang kelaparan dijadikan bahan
> untuk mempertentangkan antar agama.
> 
> Sungguh kita merasa sedih, sebab kalau dirunut-runut,
> nenek moyang kita semua adalah Negara Sriwijaya, yang
> pusatnya di Palembang, dan kita masih mempertentangkan
> antar suku.  Suku ini, itu, kita lupa bahwa kita semua
> pendatang dari pusatnya bangsa Melayu di Palembang.
> 
> Namun kalau dulu, Bangsa kita jaman Sriwijaya
> membangun tempat ibadahnya yang paling megah sedunia
> yaitu Borobudur di Jawa Tengah, kita masih
> mengagung-agungkan suku ini, agama itu, apa tidak malu
> dengan nenek moyang kita?
> 
> Susah-susah Dr. Soetomo, Ki Hajar Dewantoro
> memperjuangkan Negara Kesatuan Indonesia, kita masih
> mengeyel-eyel Islam melawan Budha, atau
> Kristenisasi... dan kita lupa, nenek moyang kita juga
> pernah beragama Budha, Hindu, bahkan dulu nenek moyang
> kita juga Pithegantropus Erectus, kita masih
> menganggap agama yang satu dipertentangkan dengan
> agama yang lain.
> 
> Mari kita berpikir positif, kalau sudah meninggal,
> kita semua juga jadi abu... tidak ada warna kuning,
> coklat, atau merah.
> 
> salam,
> Goenardjoadi Goenawan
>


Kirim email ke