Kepada Moderator, 
  Please titip info untuk salah satu buku yang paling dahsyat dekade ini ya!!
   
  Salam dan hormat, 
  Bambang 
   
  Dear kawan-kawan milis, 
   
  Telah terbit salah satu buku yang paling dahsyat dekade ini, 
  berjudul: 
   
  PAPUA  SEBUAH FAKTA DAN TRAGEDI ANAK BANGSA.
   
  Penulis:  Dr John Manangsang, seorang dokter yang berkarya di Papua.
  Diterbitkan oleh: Yayasan Obor Indonesia,  2007
  Jl Plaju 10 Jakarta 10230
  Telp: 021-31926978; faks-31924488  
   
  Buku ini merupakan revisi dan perluasan dari buku yang pernah terbit tahun 
1994
  Berjudul CATATAN SEORANG DOKTER DARI BELANTARA BOVEN DIGUL
  Dan pernah mendapat penghargaan dari LIPI –TVRI  di tahun 1996 sebagai 
Pemenang Lomba Karya Tulis Ilmiah “Peneliti Muda bidang  sosial, kebudayaan dan 
Kemanusiaan 1995” . 
   
  Dalam edisi baru ini, ini 19 Pakar Indonesia memberi komentarnya, sebagai 
berikut”
   
   
  KOMENTAR 
   
  “… luar biasa, menggetarkan hati siapapun yang membacanya.” (Erros Djarot)
   
   
  “…sangat dahsyat bara hati cinta pedulinya kepada yang sakit… (Prof. Mudji 
Sutrisno, SJ)
   
   
  “Tak dapat saya lupakan  kerusakan lingkungan saat terbang di atas daerah 
Mimika…. Daerah yang kaya ini dapat dikembangkan bila seluruh masyarakat di 
Nusantara bekerja terpadu…” (Prof. Supartondo)
   
  “Dia bukan model dokter yang pasif lalu menyerah, hanya karena tidak ada 
fasilitas.. Dia mau menikmati  keberhasilan sekaligus kegagalannya.” (Prof. 
Daldiyono) 
   
  “Saya salut kepadanya. Saya pernah bertugas di Irian Jaya selama 7 tahun 
(1963-1970), jadi dapat merasakan betapa beratnya bertugas di sana.” (Adi 
Andojo Soetjipto, SH)
   
   
  “… Selama kita terus mengembangkan ilmu dengan empati yang tinggi terhadap 
pasien, kita tidak perlu takut menghadapi siapapun”. (Dr. Amir Thayeb)
   
   
  “Di Pelosok terpencil Indonesia (tak hanya di Papua) masih diperlukan 
dokter-dokter “umum” sekaliber dia. Maka buku ini sepantasnya menjadi buku 
pegangan.” (Ani Sekarningsih)
   
   
  “Ia seorang humanis yang mencintai manusia dengan semangat kasih untuk 
semua….Orang Papua sangat mencintainya. (Agus A. Alua, Ketua MRP)
   
   
  “Bukan lagi sebuah pengalaman yang menakjubkan, tetapi “teror mental”, 
membuat kita terpekur dihajar sebuah pengalaman spiritual yang memaksa kita 
‘lahir’ sekali lagi” (Putu Wijaya) 
   
   
  “Dengan UU Praktik Kedokteran, apabila penegak hukum tidak memahami, serta 
selalu mempergunakan ancaman pidana, maka sudah dapat dipastikan tidak akan 
muncul  dokter-dokter muda pemberani yang lain.” (Prof. Wiyadi, Dekan FK-UNAIR) 
  
   
   
  “Ini kisah yang heroik dan menggugah rasa kemanusiaan. Sangat merangsang 
idealisme pengabdian dan cita-cita  profesional ... (Prof. Toeti Heraty) 
   
   
  “…Merupakan contoh yang jarang ada duanya di dunia. ” (Prof. Umar Anggara 
Jenie, Ketua LIPI) 
   
   
  “…Suatu “dokumentasi”  yang sulit dicari … Suatu peringatan bagi para 
ko-asisten untuk memanfaatkan waktu yang sangat terbatas sebaik-baiknya.” 
(Prof. Kabulrachman, Dekan FK-UNDIP) 
   
   
  “Sangat menarik dari awal hingga akhir. …Mengalir, berisi dan orisinil, tanpa 
kehilangan kedalaman dan membangun jembatan komunikasi kesehatan antara 
berbagai pihak. (DR. Siti Fadilah Supari, Menkes RI)
   
   
  Ia telah menemukan apa artinya  cinta, keberanian, kejujuran, ketabahan dan 
kesetiaan. Ia sosok kombinasi antara Marco Polo dan Joseph  Conrad…”  (Mien R. 
Uno)
   
   
   “Sejak di bangku kuliah, dia pintar dan kreatif. Karena kreativitas dan 
keberaniannyalah, ia bisa mengambil tindakan dengan sarana seadanya”. (Prof. 
Arjatmo Tjokronegoro)
   
   
  “Keberaniannya untuk bertindak kadang melampaui batas garisan yang ditetapkan 
oleh birokrasi. Tetapi akhirnya kebajikan menang atas keangkuhan”. (Prof. 
Wardiman Djojonegoro) 
   
  ‘Jangan ragu jangan bimbang hai pahlawan kemanusiaan! Percayalah tangan Tuhan 
memberi perlindungan, melebihi perlindungan hukum/undang-undang  yang sering 
diperjual-belikan. (Bismar Siregar, SH)
   
  “Inilah kisah seorang manusia yang lagi "lelaku" mencari jati dirinya. 
Diambilnya resiko kesusahan, kelaparan, sakit, keterasingan, dan mara bahaya …
Tiada lain agar ia bisa lebih mengenali kesejatian dirinya.”  (Prof. Dr. 
Bambang Sudibyo MBA, Mendiknas)
   
   

         

 
---------------------------------
TV dinner still cooling?
Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.

Kirim email ke