Mas Andrinof,
sebagai editor buku itu
saya tidak bisa komentar atas komentar Anda nih.
bahwa "yang paling tidak bermutu adalah komentar..."
Untung ya Anda hidup di zaman kebebasan.
kalo masih di zaman pak Harto,
barangkali Anda bisa kena pidana kali ya....
salam hangat atas atensinya,
bambang
Andrinof Chaniago <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya percaya ini buku tentang kisah langka. Buktinya,
jarak waktunya sangat jauh dengan kisah Abdul Kasim
(kalau saya tidak salah) yang memilih tidak kembali ke
IPB untuk menyelesaikan skripsinya, karena
idealismenya untuk membangun desa tempat ia praktek
lapangan.
Sayang sekali, diantara komentar tentang buku ini,
yang paling tidak bermutu adalah komentar Menteri
Kesehatan. Seperti pujian basa-basi, tidak menangkap
satupun pesan penting apa yang bisa diberikan buku ini
kepada kita.
Salam,
Andrinof A. Chaniago
>
>
> ----- Original Message -----
> From: bambang murtianto
> To: [email protected]
> Sent: Monday, January 22, 2007 3:57 PM
> Subject: [mediacare] Buku paling dahsyat tentang
> Papua
>
>
>
>
>
>
> Kepada Moderator,
> Please titip info untuk salah satu buku yang
> paling dahsyat dekade ini ya!!
>
> Salam dan hormat,
> Bambang
>
> Dear kawan-kawan milis,
>
> Telah terbit salah satu buku yang paling dahsyat
> dekade ini,
> berjudul:
>
> PAPUA SEBUAH FAKTA DAN TRAGEDI ANAK BANGSA.
>
> Penulis: Dr John Manangsang, seorang dokter
> yang berkarya di Papua.
> Diterbitkan oleh: Yayasan Obor Indonesia, 2007
> Jl Plaju 10 Jakarta 10230
> Telp: 021-31926978; faks-31924488
>
> Buku ini merupakan revisi dan perluasan dari
> buku yang pernah terbit tahun 1994
> Berjudul CATATAN SEORANG DOKTER DARI BELANTARA
> BOVEN DIGUL
> Dan pernah mendapat penghargaan dari LIPI -TVRI
> di tahun 1996 sebagai Pemenang Lomba Karya Tulis
> Ilmiah "Peneliti Muda bidang sosial, kebudayaan dan
> Kemanusiaan 1995" .
>
> Dalam edisi baru ini, ini 19 Pakar Indonesia
> memberi komentarnya, sebagai berikut"
>
>
> KOMENTAR
>
> ". luar biasa, menggetarkan hati siapapun yang
> membacanya." (Erros Djarot)
>
>
> ".sangat dahsyat bara hati cinta pedulinya
> kepada yang sakit. (Prof. Mudji Sutrisno, SJ)
>
>
> "Tak dapat saya lupakan kerusakan lingkungan
> saat terbang di atas daerah Mimika.. Daerah yang
> kaya ini dapat dikembangkan bila seluruh masyarakat
> di Nusantara bekerja terpadu." (Prof. Supartondo)
>
> "Dia bukan model dokter yang pasif lalu
> menyerah, hanya karena tidak ada fasi litas.. Dia
> mau menikmati keberhasilan sekaligus kegagalannya."
> (Prof. Daldiyono)
>
> "Saya salut kepadanya. Saya pernah bertugas di
> Irian Jaya selama 7 tahun (1963-1970), jadi dapat
> merasakan betapa beratnya bertugas di sana." (Adi
> Andojo Soetjipto, SH)
>
>
> ". Selama kita terus mengembangkan ilmu dengan
> empati yang tinggi terhadap pasien, kita tidak perlu
> ta kut menghadapi siapapun". (Dr. Amir Thayeb)
>
>
> "Di Pelosok terpencil Indonesia (tak hanya di
> Papua) masih diperlukan dokter-dokter "umum"
> sekaliber dia. Maka buku ini sepantasnya menjadi
> buku pegangan." (Ani Sekarningsih)
>
>
> "Ia seorang hu manis yang mencintai manusia
> dengan semangat kasih untuk semua..Orang Papua
> sangat mencintainya. (Agus A. Alua, Ketua MRP)
>
>
> "Bukan lagi sebuah pengalaman yang menakjubkan,
> tetapi "teror mental", membuat kita terpekur dihajar
> sebuah pengalaman spiritual yang memaksa kita
> 'lahir' sekali lagi" (Putu Wijaya)
>
>
> "Dengan UU Praktik Kedokteran, apabila penegak
> hukum tidak memahami, serta selalu mempergunakan
> ancaman pidana, maka sudah dapat dipastikan tidak
> akan muncul dokter-dokter muda pemberani yang
> lain." (Prof. Wiyadi, Dekan FK-UNAIR)
>
>
> "Ini kisah yang heroik dan menggugah rasa
> kemanusiaan. Sangat merangsang idealisme pengabdian
> dan cita-cita profesional ... (Prof. Toeti Heraty)
>
> & nbsp;
> ".Merupakan contoh yang jarang ada duanya di
> dunia. " (Prof. Umar Anggara Jenie, Ketua LIPI)
>
>
> ".Suatu "dokumentasi" yang sulit dicari . Suatu
> peringatan bagi para ko-asisten untuk memanfaatkan
> waktu yang sangat terbatas sebaik-baiknya." (Prof.
> Kabulrachman, Dekan FK-UNDIP)
>
>
> "Sangat menarik dari awal hingga akhir.
> .Mengalir, berisi dan orisinil, tanpa kehilangan
> kedalaman dan membangun jembatan komunikasi
> kesehatan antara berbagai pihak. (DR. Siti Fadilah
> Supari, Menkes RI)
>
>
> Ia telah menemukan apa artinya cinta,
> keberanian, kejujuran, ketabahan dan kesetiaan. Ia
> sosok kombinasi antara Marco Polo dan Joseph
> Conrad." (Mien R. Uno)
>
>
> "Sejak di bangku kuliah, dia pintar dan
> kreatif. Karena kreativitas dan keberaniannyalah, ia
> bisa mengambil tindakan dengan sarana seadanya".
> (Prof. Arjatmo Tjokronegoro)
>
>
> "Keberaniannya untuk bertindak kadang melampaui
> batas garisan yang ditetapkan oleh birokrasi. Tetapi
> akhirnya kebajikan menang atas keangkuhan". (Prof.
> Wardiman Djojonegoro)
>
> 'Jangan ragu jangan bimbang hai pahlawan
> kemanusiaan! Percayalah tangan Tuhan memberi
> perlindungan, melebihi perlindungan
> hukum/undang-undang yang sering diperjual-belikan.
> (Bismar Siregar, SH)
>
> "Inilah kisah seorang manusia yang lagi "lelaku"
> mencari jati dirinya. Diambilnya resiko kesusahan,
> kelaparan, sakit, keterasingan, dan mara bahaya
> .Tiada lain agar ia bisa lebih mengenali kesejatian
> dirinya." (Prof. Dr. Bambang Sudibyo MBA,
> Mendiknas)
---------------------------------
Sucker-punch spam with award-winning protection.
Try the free Yahoo! Mail Beta.