Sebenarnya kalo kita jujur melihat konflik yang ada di poso, kita bisa
melihat taktik yang sama seperti yang dilakukan HISBULLAH di timur tengah.
Menggunakan masyarakat yang terprovokasi lalu menjadi kan masyarakat
tersebut itu tameng. Maka jika terjadi baku tembak akan ditulis bahwa pihak
berwajib menembaki masyarakat. Padahal kelompok teror yang mengaku Islam
keras tersebut melakukan tembakan dari belakang masyarakat tersebut dan
kadang membagikan masyarakat yang telah dipanas panasi tersebut senjata
untuk melawan petugas.
Apabila petugas telah menembak dan korban telah jatuh langsung kelompok ini
menghilang membawa senjata senjata tersebut sehingga petugas di salahkan.

Kayaknya sih memang telah banyak orang orang dengan otak teror ini masuk ke
Indonesia dan mereka juga dilindungi dan di dukung oleh kelompok kelompok
politik yang berambisi menguasai Indonesia untuk dijadikan sarang penyamun
mereka.

Kita telah bisa melihat kok, partai politik Indonesia mana yang berkiblat
kepada ajaran kelompok garis keras islam timur tengah macam Hisbullah.
Sekarang tinggal kita mau jujur gak untuk mengakuinya ?

On 1/24/07, Wido Q Supraha <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

   24/01/2007 15:47 WIB



*Ketua MPR: Densus 88 Harus Ditarik dari Poso*

Iqbal Fadil - detikcom



Jakarta - Densus 88 harus segera ditarik dari Poso, Sulawesi Tengah. Untuk
sementara, tugas pasukan khusus itu digantikan satuan lain hingga suasana
kondusif.



Hal itu disampaikan *Ketua MPR DR. H. Muhammad Hidayat Nurwahid, MA., Lc.
*usai pertemuan dengan Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin di Gedung
DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (24/1/2007).



"Mestinya Densus 88 yang terlibat bentrok ditarik dulu dan digantikan
dengan pasukan yang tidak dalam satu kesatuan yang sama," kata mantan
Presiden Partai Keadilan Sejahtera ini.



Hidayat mencontohkan, penarikan pasukan pernah dilakukan di Aceh. Saat
itu, TNI menarik pasukan yang tidak disukai masyarakat dengan pasukan
Siliwangi yang lebih bisa diterima.



Dia juga merasa prihatin dan menyesalkan banyaknya korban sipil dalam
bentrok di Poso beberapa waktu lalu.



"Tentu saja kita sepakat hukum harus ditegakkan di negeri ini. Tapi
pendekatan kekerasan yang menghasilkan korban sipil yang begitu banyak
semestinya dihindari oleh negara. Saya yakin Poso tidak lebih rumit dari
Aceh. Jadi kalau polisi berwibawa dan sabar, saya yakin penyelesaian lebih
elegan bisa dilakukan," tandasnya.(ken/nrl)



Kirim email ke