Imam2 tsb. tidak bisa disamakan dengan expatriate, Imam tsb. kerjanya khusus
untuk membimbing/mengkotbah umatnya. Dan didalam bimibingannya tsb. tentu saja
mereka melakukannya sesuai dengan ajaran2 Islam, a.l. bahwa Yahudi itu adalah
monyet, orang bukan Islam adalah kafirun, jangan berasimilasi, dsb. dsb.
Alhasil banyak orang2 Islam di negeri Belanda bukannya kemudian mengambil
contoh toleransinya orang Belanda, yang terjadi adalayh sebaliknya, Ajaran2
biadab abad ke 7 lah yang menjadi makin kental, a.l. jika merasa dihina,
kemudian mengancam, atau membunuh, seperti halnya dengan pembunuhan van Gogh.
Menurut saya, kalau tidak suka kebudayaan suatu negara, yah ...... yang
pendatang, tinggal saja di negeri mereka. Kalau ada orang Belanda asli yang
tidak suka dengan undang2 di Belanda, yah ...... imigrasi saja ke negara lain.
Belanda adalah negara yang merdeka kok, tidak ada yang melarang seseorang utk.
meninggalkan negara tsb.
Saya heran dengan muslimin yang berimigrasi ke negara2 Barat yg. menginingkan
syariah. Jelas2 mereka berimigrasi tsb. karena alasan2 ekonomi dan juga karena
kebebasan beragama dll, di negara2 tsb. (yang notabene tidak ada di negara2
Islam). Jelas2 negara2 Barat tsb. makmur karena undang2-nya yang jelas2 bukan
Syariah. Eh ....... kemudian muslimin2 tsb. menginginkan supaya undang2 di
negara2 Barat tsb. diganti dengan Syariah. Nggak mikir kali mereka ya bahwa
kalau suatu negar benar2 berdasarkan Syariah, maka akan menjadi seperti
Afganistan di jaman Taliban, atau seperti Iran sekarang ini. Atau seperti
negara2 asal mereka yang ekonominya kocar kacir. Arab Saudi saja yang kaya
minyak, penganggurannya tinggi sekali.
Erwin Budiman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Mudah2an di Indonesia tidak menerapkan hal yang sama.
Kasihan kan para expatriat eropa atau amerika yang datang ke Indonesia, terus
harus
punya diploma bahasa Indonesia.. Apalagi kalau misalnya daerah pun menerapkan
yang sama,
setelah diploma bahasa Indonesia, harus punya pula diploma bahasa sunda kalau
kerja di jawa barat,
diploma bahasa betawi kalau di jakarta, dll.
kasihan belanda, masih rasis..
----- Original Message -----
From: Danny Lim
To: Media Care
Sent: Wednesday, January 24, 2007 10:02 AM
Subject: [mediacare] Eksodus imam
EKSODUS IMAM
(De Telegraaf Online, 18 Januari 2007)
Imam meninggalkan Belanda secara massal sebab tidak betah lagi di sini.
Diperkirakan, dari 450 mesjid yang ada di seluruh Belanda, 180-nya kini zonder
imam. Tempat yang kosong sementara diduduki oleh imam ilegal. Demikian
pernyataan Mohamad Ousalah, wakil ketua Persatuan Imam Belanda. Para imam yang
meninggalkan Belanda itu rata-rata pindah ke Belgia dan Spanyol, atau kembali
ke Maroko. Mohamad Ousalah menyalahkan Belanda yang anti Islam sejak 11
September 2001, sehingga terjadi eksodus imam ke luar negeri. Juga kenyataan
bahwa para imam kini tidak lagi mendapat Permanent Residence di Belanda, hanya
mendapat Ijin Tinggal Sementara yang terus harus diperpanjang secara rutin,
membuat para imam tidak betah.
DL - UU Inburgering di Belanda juga kiranya membuat para imam itu tidak betah
di Belanda sini. Menurut UU Inburgering, pendatang asing termasuk imam, dus
bukan turis, WAJIB belajar bahasa dan budaya Belanda, dan harus ujian untuk
mendapat diploma. Imam-imam yang tadinya bertahun-tahun tinggal di Belanda
tanpa mampu berbahasa Belanda, kini segan belajar bahasa Belanda dan lebih
memilih meninggalkan Belanda. Baguslah begitu, jadi imam-imam yang masih betah
di Belanda hanyalah imam-imam yang bisa/mau belajar berbahasa Belanda dan tahu
budaya Belanda, dengan demikian kerukunan umat beragama di Belanda bisa terus
terjamin.