Wisata Kebangsaan Indonesia 
   
  20 Pebruari 2007
   
  PETA Pejuang Indonesia Merdeka
   
  Pada bulan kedua tahunan kalender tercatat setidaknya 7 (tujuh) peristiwa 
politik hukum yang berpengaruh bagi perkembangan politik kebangsaan Indonesia, 
yakni 8 Pebruari 1925 Perhimpoenan Indonesia resmi gantikan Indonesische 
Vereegining dengan catatan Majalah Hindia Putra (1916) berganti nama Indonesia 
Merdeka (1924) dan “Gedenkboek 1908 – 1923 Indonesische Vereegining” (terbit 
1924); 11 Pebruari 1945 Kesepakatan Sekutu di YALTA dicapai setelah Konperensi 
bersidang sejak 4 Pebruari 1945; 14 Pebruari 1945 Perlawanan Bersenjata PETA 
(Pembela Tanah Air) di Blitar pimpinan Shodancho SUPRIJADI; 14 Pebruari 1946 
Pengibaran Sang Merah Putih di Manado pimpinan Ch. Ch. Taulu dan pendirian 
Pemerintah RI di Sulawesi Utara; 20 Pebruari 1927 Jong Indonesia berdiri di 
Bandung oleh MR Sartono & MR Sunario yang kemudian pada Desember 1927 menjadi 
Pemuda Indonesia; 22 Pebruari 1948 Gerakan hijrah dari kantong2 pertahanan 
diawali; 26 Pebruari 1946 Sidang Lengkap KNIP di Solo.
  Amanat Kesepakatan YALTA “mengembalikan situasi di Asia kepada status quo 
seperti sebelum invasi Jepang Desember 1941” seolah pembenaran legitimasi 
politik neo kolonialisme Belanda atas wilayah Indonesia.
  PETA sebutan bagi Boei Giyugun (Tentara Sukarela Pembela Tanah Air) tercatat 
dibentuk di Jawa, Bali dan Sumatera dibentuk pada 3 Oktober 1943 berdasarkan UU 
Balatentara Jepang (Osamu Seirei No. 44) yang menegaskan bahwa PETA adalah 
pasukan sukarela untuk membela tanah air, dan pada tahun 1945 telah terbangun 
66 batalyon infantri dan 3 satuan khusus (Yugeketai) di pulau Jawa, 3 batalyon 
infantri di Bali dan 55 kompi infantry Giyugun di Sumatera. PETA dibubarkan 
pada 19 Agustus 1945, dan mantan PETA menjadi inti BKR (Badan Keamanan Rakyat) 
pada 23 Agustus 1945, lalu TKR (Tentara Keamanan Rakyat) pada 5 Oktober 1945, 
kemudian TRI (Tentara Rakyat Indonesia) dan akhirnya menjelma jadi TNI (Tentara 
Nasional Indonesia) sebagaimana dikenali kini. PETA diyakini sebagai sumber 
jiwa patriotisme/nasionalisme, humanisme, kerakyatan, keadilan yang semuanya 
berakar pada keimanan yang religius-monoteistis.
  Peringkat kepemimpinan PETA diatur sebagai berikut Bundancho (Komandan Regu, 
Sersan), Shodancho (Komandan Peleton. Letnan), Chudancho (Komandan Kompi, 
Kapten), Daidancho (Komandan Batalyon, Mayor).
  Sejarah mencatat bahwa ternyata PETA berperan melahirkan modal perangkat 
keras perjuangan mempertahankan Indonesia Merdeka 1945 – 1949, a.l. terbukti 
Mantan Daidancho PETA Soedirman terpilih jadi Panglima Besar TKR pada 12 
Nopember 1945.
   
   
   
   
  Dalam konteks kekinian di bulan Pebruari 2007 ini, semangat Indonesia Merdeka 
dari Perhimpoenan Indonesia, semangat Jong Indonesia menjadi Pemoeda Indonesia 
dan semangat mempertahankan Indonesia Merdeka dari para prajurit PETA tersebut 
diatas adalah layak senantiasa jadi penjuru bagi Nasionalis generasi pengisi 
Indonesia Merdeka agar sinyalemen lunturnya wawasan dan etos serta spirit 
kebangsaan dapat segera diatasi secara nasional. Artinya, kalau bukan kita2 
lalu siapa lagi ? Peningkatan sikap kebangsaan kini menjadi penting a.l. ketika 
dipahami bahwa penguatan bagi perlindungan hak asasi di bidang politik di era 
reformasi kini justru masih ditemani oleh pelemahan bagi perlindungan hak asasi 
di bidang ekonomi, kesejahteraan sosial dan hukum [Jajak Pendapat Kompas, 
Paradoks Perlindungan HAM di Indonesia, 2 Januari 2007]. Penguatan sikap 
kebangsaan menjadi sedemikian penting perannya bilamana dipahami bahwa sederet 
ancaman, hambatan, gangguan dan tantangan bagi Persatuan
 dan Kesatuan Bangsa kini menjadi bisa tidak terhindarkan a.l. sebagai dampak 
daripada berperannya ideologi imperialisme dunia seperti neoliberalisme berikut 
kegiatan2 kontra liberalisme berkarakter radikal seperti terorisme yang 
melekat, demikian pula serangan narkoba atas generasi muda yang dapat 
menghancurkan masa depan Bangsa, dan potensi konflik perbatasan wilayah NKRI 
dengan negara2 tetangga [Kiki Syahnakri, Keamanan Nasional dan TNI-Polri, 
Kompas 19 Januari 2007]. Dengan kata lain, saatnyalah kini bagi para Nasionalis 
segera bersikap tegas terhadap pergeseran kekuasaan pasar dan korporasi akibat 
gagasan Neoliberalisme yang memang berniat pengendalian tata dunia baru 
berdasarkan pasar dan kekuatan modal dengan mengabaikan aturan Negara dan 
Negara kesejahteraan melalui doktrin liberalisasi-privatisasi-deregulasi. Sikap 
tegas Nasionalis ini pantas digelar mengingat kini tercatat 20% aset asing 
global dikuasai 100 korporasi multinasional terbesar, 51 dari 100 negara
 terbesar dunia adalah korporasi dan 49 sisanya adalah Negara bangsa, guna 
mengatasi ketimpangan dunia yang ditandai ketidakadilan dan merebaknya tingkat 
kemiskinan serta mempertimbangkan perlindungan terhadap konstitusi Negara 
Indonesia yang mengamanatkan Negara Kesejahteraan (Welfare State).
  Tidak berkelebihan, sekaligus pada kesempatan ini, dimaklumkan bahwa pada 20 
Pebruari 2007 yad jam 14.00 s/d 17.00 wib dijadwalkan acara Riwayat Kejuangan 
PETA bagi Indonesia Merdeka dalam kerangka Gema Nasionalis 45 (Nasionalis ber 
Roh Kejuangan 45) bertempat di Gedung DHN Kejuangan 45, Jl. Menteng Raya 31, 
Jakarta Pusat 10340. 
  Semoga, dengan demikian, generasi penerus Indonesia Merdeka dapat senantiasa 
terinspirasi dari pengalaman Generasi Proklamasi menuju pembangunan cita-cita 
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebagaimana diamanatkan oleh Pembukaan 
UUD 1945.
  Jakarta, 31 Januari 2007
   
   
  Pandji R. Hadinoto / KaDep Politik & Hukum DHN Kejuangan 45
  eMail : [EMAIL PROTECTED]

 
---------------------------------
We won't tell. Get more on shows you hate to love
(and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list.

Kirim email ke