Pak Hadinoto dan Pak Rushdy Yth,

Sekaligus saya menulis ini untuk kalian berdua, jadi harap maklum adanya.
 
Sebagai prinsip sebaiknya dipahami terlebih dahulu  bahwa hakekat tentara atau 
angkatan bersenjata adalahi alat politik negara., tidak perduli apakah itu 
tentara surgawi meodel Laskar Jihad Sunnah Wal Jamaah, tentara iblis gendruwo, 
tentara borjuis kapitalis, tentara komunis semua mempunyai fungsi yang sama. 
Tanpa memahami hakekat tentara sebagai instrumen negara maka warna hitam bisa 
mudah diputihkan dalam sejarah, termasuk sejarah perkembangan masyarakat di 
Nusantara.

Letnan Jenderal Soeprato bisa saja cerita banyak yang muluk-muluk, tetapi 
apakah Anda telah mempertanyakan organisasi politik  apa beliau masuk sebelum 
beliau terjun ke Peta?. Apa instruksi organisasi tsb kepada beliau dan 
kawan-kawannya untuk masuk Peta? Apa isi intrusksi organsasi?.  Kalau ada 
instruksi maka dapat dimengerti bahwa Peta  hanya dipakai sebagai tempat dan 
alat memperoleh latihan militer. Tetapi, kalau Soeprato dan kawan-kawannya 
masuk Peta tanpa ada organisasi dibelakangnya berarti mereka ikut rame untuk 
mendapat pekerjaan sebagi sumber penyambung hidup,  mereka baru bergabung 
dengan unsur-unsur republik hanya karena perubahan situasi geopolitik perang 
dunia II.

Wassalam,


  ----- Original Message ----- 
  From: Pandji R. Hadinoto 
  To: [email protected] 
  Sent: Sunday, February 04, 2007 8:59 AM
  Subject: Re: [mediacare] WISKINDO 20 Pebruari 2007



  Bung Sunny Yth,

  Saya sungguh gembira bahwa kini ada wacana yang berkembang, artinya ada 
tanggapan yang konstruktif untuk lebih lanjut berbagi pendapat.

  Jangan lupa, bung Sunny, bahwa PETA terbentuk sesungguhnya sebagai buah 
sinergis antara dua kepentingan yang berbeda namun terwujud dengan pihak Jepang 
RISK TAKER terbukti lalu ada Unjuk Patriotisme oleh Shodancho Soeprijadi di 
Blitar, bahkan Gatot Mangkoepradja sampai menuliskan pernyataannya dengan 
darahnya sendiri.

  Unjuk Patriotisme itulah yang menjadi TRIGGER pelunak sikap Balatentara 
Jepang yang dengan terpaksa menerima DEAL mengijinkan dibentuknya BPUPKI menuju 
Indonesia Merdeka yang kemudian berdasarkan FAKTA kapitulasi Jepang kepada 
Sekutu 15 Agustus 1945 terjadi KEKOSONGAN kekuasaan sehingga para PEJUANG 45 
memutuskan sendiri Proklamasi Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945 ditengah 
ancaman senjata Balatentara Jepang. Proklamasi itu dikawal oleh pasukan PETA 
Jakarta.

  Selengkapnya, lebih baik mendengarkan sendiri dari para mantan PETA, karena 
pada tanggal 20 Pebruari 2007 itu ada paparan dari LetJen TNI (Purn) H. R. 
Soeprapto (kini Ketua Umum DHN45) yang alumni PETA Bogor angkatan ke-2, Mayor 
TNI (Purn) Oetarjo yang angkatan ke-4 PETA Bogor dan sempat menjadi Staf MaBes 
PETA di Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta, kemudian Mayor TNI (Purn) Alwin 
Nurdin yang mantan Giyu-gun (~PETA) Sumatera selain ulasan dari LetJen TNI 
(Purn) Himawan Soetanto MHum yang kini dikenali sebagai Sejarahwan Militer.

  Sebelumnya, tanggal 14 Pebruari 2007 ada ziarah ke Makam Pahlawan KALIBATA, 
karena ada 6 (enam) makam Tentara Sukarela PETA Blitar disana.

  Lebih jauh, sebaiknya bung Sunny membaca buku PETA Cikal Bakal TNI (terbitan 
UnPad, Bandung) dan buku PETA susunan Ketua Umum LVRI, Purbo S Soewondo yang 
mantan pendidikan PETA lanjutan (kualifikasi Tentara Gerilya, yang lalu 
berkedudukan di Nongkojajar, Jawa Timur)

  Justru, saresahan secara lintas generasi tgl 20 Pebruari 2007 itu adalah 
penting bagi kita sebagai Generasi Pasca Proklamasi untuk memperoleh pemahaman 
yang terbaik demi NKRI.

  Welcome down there, Sir.

  Pandji R. Hadinoto.

  Sunny <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
    Pak Husein Yth,

    Pengertian Anda campur aduk seperti gado-gado dengan tidak membedakan 
tindakan orang-orang Peta sebagai individu dan fungsi Peta sebagai instrumen 
"negeri"  jajahan. Hendaklah Anda menegerti bahwa tentara sesuatu negara atau 
kesatuan bersenjata sesuatu organisasi adalah menjamin kepentingan politik 
negara dan penerapannya di masyarakat dan bukan kepentingan pihak ketiga. Ada 
termakan pada istilah "Pembela Tanah Air", tanpa mengerti hakekat fungsinya.

    Perang dunia pertama berlangsung di Europa, tidak merambat ke Ned Indie dan 
oleh karena "mungkin" saja dinilai tidak perlu, dan lagi konsep demikian dalam 
kemiliteran untuk membolisasi penduduk guna membentuk cadangan kesatuan 
bersenjata tidak diperlukan. Tentara jepang pada perang dunia II terbatas 
jumlahnya dan oleh karena itu diperlukan adanya  tenaga tambahan dengan 
merekrut pasukan  dari penduduk negeri-negeri yang dikuasai. Dalam tentara 
Jepang yang masuk ke Indonesia terdapat juga kesatuan-kesatuan korea dan 
mungkin saja dari dataran Tiongkok.

    Bukankah dulu itu opsir-opsir TNI  juga berasal dari pendidikan KNIL, 
contohnya Jenderal Soeharto, berpangkat sersan di Peta, masuk Peta pankatnya 
naik jadi jadi kapten, kemudian di TNI kololenel lalu dinaikan jadi Jenderal. 
Selain Soeharto ada juga Adull Harris  Nasution, Simatupang, Muskitta, Sultan 
Hamid II etc itu dulunya juga opsir-opsir muda  KNIL yang bergabung dan 
membangun TNI dan pimpin TNI.  Jadi kalau mengikuti logika Anda peranan KNIL 
juga penting dalam membangun TNI.

    Wassalam,


      ----- Original Message ----- 
      From: Husein Rusdhy 
      To: [email protected] 
      Sent: Saturday, February 03, 2007 6:41 AM
      Subject: Re: [mediacare] WISKINDO 20 Pebruari 2007


      Yth Sunny.
      Melihat Tentara PETA, tidak bisa dilihat dari hanya satu sudut pandang. 
Apalagi setelah sekian tahun masa berlalu. KIta tentu saja perlu membuat 
perspektif baru dengan melihat kenyataan sejarah. Saya baru saja kedatangan 
seorang teman yang ahli sejarah Belanda. Awalnya dia berpikiarn dan bersikap 
seperti Sdr Sunny bahkan terkesan negatif sekali pada kelahiran TNI. Tapi 
setelah mendengar dan melihat bukti-bukti apa adanya, sikapnya berubah, bahkan 
ingin mengetahui lebih lanjut. Persoalan PETA, tentu tidak menjadi penting 
kalau saja Belanda telah melibatkan bangsa Indonesia dalam kegiatan Han-Kam 
sejak Perang Dunia pertama. Meskipun pada tahun 1916-1917, para politis 
(khususnya Boedi Oetomo) telah berusaha memajukan konsep "Indie Weerbaar", tapi 
karena satu dan lain hal konsep itu ditolak. Rupanya yang disetujui cuma orang 
Pribumi boleh menjadi tentara bayaran KNIL. Itu juga dalam status prajurit atau 
perwira rendahan dan jumlahnya terbatas. Dalam KNIL yang diterima cuma suku 
tertentu saja seperti Jawa, Ambon, Menado dll. Ketika Perang Dunia ke II 
meletus, sekali lagi Dewan rakyat (Volks Raad) mengusulkan "Milisi" secara 
besar-besaran. Tapi karena banyak pertimbangan, baru saat Jepang siap menuju 
selatan, milisi terbatas yang diadakan. Itu juga cuma orang-orang dari kelompok 
tertentu saja yang diterima (Belanda totok, Indo, Ambon, Menado dll). Dengan 
jatuhnya Belanda ketangan Jerman, Pendikan perwira juga diadakan di Hindia 
yaitu di Bandung. KMA (Koninklijke Milier Academi, gedungnya masih ada sekarang 
dijalan Suratman). Juga dibentuk Corps Reserve Officirs (CORO) . Semua ini 
dipersiapkan untuk membantu kekuatan pertahanan yang ada. Tapi semuanya tidak 
ada gunanya, karena setelah Perang Laut Jawa 28 Februari 1942, Jepang dengan 
mudah menduduki Pulau Jawa. Meskipun Kapitulasi baru terjadi pada tanggal 8 dan 
9 maret 1942, tanggal 4 Maret, Batavia sudah resmi dikuasai Jepang. Maka dari 
itu kesannya rakyat Indonesia, pasif saja. Bahkan menyambut kedatangan saudara 
tua ini (lihat film "Ned.Indie in de tweede wereld oorlog"). Peta dibentuk pada 
tahun 1943, dengan tujuan untuk Home Guard semata dan sifatnya sukarela. Para 
pimpinannya adalah orang Indonesia juga, hanya pelatihnya saja yang Jepang. 
Awal dari pelatihan ini atas inisiatip Bung Karno karena ketika berkunjung ke 
Jepang melihat Home Guard semacam ini. Saat itulah beliau berkata : "Kita harus 
memiliki Tentara Pembela Tanah Air seperti ini". Hal itu menjadi kenyatan, saat 
Be Pang (Staf intelijen) bernama Yanagawa memulai pendidikan di Tanggerang. 
Diantara yang dilatih adalah para senior perwira PETA seperti Suprijadi, Umar 
Wirahadikusumah, Kemal Idris, Yono Sewoyo, Zulkifli Lubis dsb. Dari percobaan 2 
angkatan di Tanggerang ternyata para pemuda kita lebih 50 % lolos 
penggemblengan dan dilantik sebagai perwira. Dari lulusan Tanggerang inilah 
baru dibentuk Pendikan Sekolah PETA di Bogor (gedungnya kini jadi musium PETA 
Bogor). Saat itulah Soedirman dan Soeharto masuk sebagai kadet. Jadi Soeharto 
bukan lulusan Sekolah Tanggerang. Secara menyeluruh, PETA memang dipersipakan 
untuk menangkis kedatangan sekutu kalau menyerang Jawa, tetapi secara prinsip 
tentunya untuk membela Jepang juga. Tapi keuntungan yang dirasakan adalah 
sempat dilatihnya sejumlah besar bangsa Indonesia dalam pengetahuan dan 
teknologi militer sehingga mampu melawan kembalinya kekuasaan Kolonial Belanda. 
Jadi walaupun Belanda tidak mengajarkan Bangsa Indonesia sehingga pandai 
berperang karena takut memberontak, Jepang telah memberikan semuanya. Dan itu, 
telah dipergunakan dengan baik. Bagian yang kurang menyenangkan dari sistim 
pendidikan militer Jepang, adalah mereka (para parjurit Indonesia) juga dididik 
dalam idiologi Fasisme. tentu hal ini semua menjadi tidak cocok kalau kita mau 
menegakkan tatanan demokrasi (baca Sutan Sjahrir, "Perjuangan Kita").  
      Sunny <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
        Peta pejuang kemerdekaan?  Apakah tidak salah interpertasi?  Peta 
didirikan oleh tentara Jepang untuk membela kepentingan  penjajahan mereka 
bukan untuk memerdekaan Indonesia. Jadi yang benar ialah  kalau ada 
anggota-anggota Peta yang membela itu atas inisiatif pribadi bukan policy 
kepentingan organisasinya,. dengan begitu menyatakan Peta pejuang Indonesia 
merdeka adalah keliru!  


          ----- Original Message ----- 
          From: Pandji R. Hadinoto 
          To: MediaCare 
          Sent: Thursday, February 01, 2007 12:37 PM
          Subject: [mediacare] WISKINDO 20 Pebruari 2007


          Wisata Kebangsaan Indonesia 

          20 Pebruari 2007

          PETA Pejuang Indonesia Merdeka

          Pada bulan kedua tahunan kalender tercatat setidaknya 7 (tujuh) 
peristiwa politik hukum yang berpengaruh bagi perkembangan politik kebangsaan 
Indonesia, yaki 8 Pebruari 1925 Perhimpoenan Indonesia resmi gantikan 
Indonesische Vereegining dengan catatan Majalah Hindia Putra (1916) berganti 
nama Indonesia Merdeka (1924) dan "Gedenkboek 1908 - 1923 Indonesische 
Vereegining" (terbit 1924); 11 Pebruari 1945 Kesepakatan Sekutu di YALTA 
dicapai setelah Konperensi bersidang sejak 4 Pebruari 1945; 14 Pebruari 1945 
Perlawanan Bersenjata PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar pimpinan Shodancho 
SUPRIJADI; 14 Pebruari 1946 Pengibaran Sang Merah Putih di Manado pimpinan Ch. 
Ch. Taulu dan pendirian Pemerintah RI di Sulawesi Utara; 20 Pebruari 1927 Jong 
Indonesia berdiri di Bandung oleh MR Sartono & MR Sunario yang kemudian pada 
Desember 1927 menjadi Pemuda Indonesia; 22 Pebruari 1948 Gerakan hijrah dari 
kantong2 pertahanan diawali; 26 Pebruari 1946 Sidang Lengkap KNIP di Solo.
          Amanat Kesepakatan YALTA "mengembalikan situasi di Asia kepada status 
quo seperti sebelum invasi Jepang Desember 1941" seolah pembenaran legitimasi 
politik neo kolonialisme Belanda atas wilayah Indonesia.
          PETA sebutan bagi Boei Giyugun (Tentara Sukarela Pembela Tanah Air) 
tercatat dibentuk di Jawa, Bali dan Sumatera dibentuk pada 3 Oktober 1943 
berdasarkan UU Balatentara Jepang (Osamu Seirei No. 44) yang menegaskan bahwa 
PETA adalah pasukan sukarela untuk membela tanah air, dan pada tahun 1945 telah 
terbangun 66 batalyon infantri dan 3 satuan khusus (Yugeketai) di pulau Jawa, 3 
batalyon infantri di Bali dan 55 kompi infantry Giyugun di Sumatera. PETA 
dibubarkan pada 19 Agustus 1945, dan mantan PETA menjadi inti BKR (Badan 
Keamanan Rakyat) pada 23 Agustus 1945, lalu TKR (Tentara Keamanan Rakyat) pada 
5 Oktober 1945, kemudian TRI (Tentara Rakyat Indonesia) dan akhirnya menjelma 
jadi TNI (Tentara Nasional Indonesia) sebagaimana dikenali kini. PETA diyakini 
sebagai sumber jiwa patriotisme/nasionalisme, humanisme, kerakyatan, keadilan 
yang semuanya berakar pada keimanan yang religius-monoteistis.
          Peringkat kepemimpinan PETA diatur sebagai berikut Bundancho 
(Komandan Regu, Sersan), Shodancho (Komandan Peleton. Letnan), Chudancho 
(Komandan Kompi, Kapten), Daidancho (Komandan Batalyon, Mayor).
          Sejarah mencatat bahwa ternyata PETA berperan melahirkan modal 
perangkat keras perjuangan mempertahankan Indonesia Merdeka 1945 - 1949, a.l. 
terbukti Mantan Daidancho PETA Soedirman terpilih jadi Panglima Besar TKR pada 
12 Nopember 1945.
          Dalam konteks kekinian di bulan Pebruari 2007 ini, semangat Indonesia 
Merdeka dari Perhimpoenan Indonesia, semangat Jong Indonesia menjadi Pemoeda 
Indonesia dan semangat mempertahankan Indonesia Merdeka dari para prajurit PETA 
tersebut diatas adalah layak senantiasa jadi penjuru bagi Nasionalis generasi 
pengisi Indonesia Merdeka agar sinyalemen lunturnya wawasan dan etos serta 
spirit kebangsaan dapat segera diatasi secara nasional. Artinya, kalau bukan 
kita2 lalu siapa lagi ? Peningkatan sikap kebangsaan kini menjadi penting a.l. 
ketika dipahami bahwa penguatan bagi perlindungan hak asasi di bidang politik 
di era reformasi kini justru masih ditemani oleh pelemahan bagi perlindungan 
hak asasi di bidang ekonomi, kesejahteraan sosial dan hukum [Jajak Pendapat 
Kompas, Paradoks Perlindungan HAM di Indonesia, 2 Januari 2007]. Penguatan 
sikap kebangsaan menjadi sedemikian penting perannya bilamana dipahami bahwa 
sederet ancaman, hambatan, gangguan dan tantangan bagi Persatuan dan Kesatuan 
Bangsa kini menjadi bisa tidak terhindarkan a.l. sebagai dampak daripada 
berperannya ideologi imperialisme dunia seperti neoliberalisme berikut 
kegiatan2 kontra liberalisme berkarakter radikal seperti terorisme yang 
melekat, demikian pula serangan narkoba atas generasi muda yang dapat 
menghancurkan masa depan Bangsa, dan potensi konflik perbatasan wilayah NKRI 
dengan negara2 tetangga [Kiki Syahnakri, Keamanan Nasional dan TNI-Polri, 
Kompas 19 Januari 2007]. Dengan kata lain, saatnyalah kini bagi para Nasionalis 
segera bersikap tegas terhadap pergeseran kekuasaan pasar dan korporasi akibat 
gagasan Neoliberalisme yang memang berniat pengendalian tata dunia baru 
berdasarkan pasar dan kekuatan modal dengan mengabaikan aturan Negara dan 
Negara kesejahteraan melalui doktrin liberalisasi-privatisasi-deregulasi. Sikap 
tegas Nasionalis ini pantas digelar mengingat kini tercatat 20% aset asing 
global dikuasai 100 korporasi multinasional terbesar, 51 dari 100 negara 
terbesar dunia adalah korporasi dan 49 sisanya adalah Negara bangsa, guna 
mengatasi ketimpangan dunia yang ditandai ketidakadilan dan merebaknya tingkat 
kemiskinan serta mempertimbangkan perlindungan terhadap konstitusi Negara 
Indonesia yang mengamanatkan Negara Kesejahteraan (Welfare State).
          Tidak berkelebihan, sekaligus pada kesempatan ini, dimaklumkan bahwa 
pada 20 Pebruari 2007 yad jam 14.00 s/d 17.00 wib dijadwalkan acara Riwayat 
Kejuangan PETA bagi Indonesia Merdeka dalam kerangka Gema Nasionalis 45 
(Nasionalis ber Roh Kejuangan 45) bertempat di Gedung DHN Kejuangan 45, Jl. 
Menteng Raya 31, Jakarta Pusat 10340. 
          Semoga, dengan demikian, generasi penerus Indonesia Merdeka dapat 
senantiasa terinspirasi dari pengalaman Generasi Proklamasi menuju pembangunan 
cita-cita bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebagaimana diamanatkan oleh 
Pembukaan UUD 1945.
          Jakarta, 31 Januari 2007
          Pandji R. Hadinoto / KaDep Politik & Hukum DHN Kejuangan 45
          eMail : [EMAIL PROTECTED]

----------------------------------------------------------------------
          We won't tell. Get more on shows you hate to love
          (and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list. 

----------------------------------------------------------------------

          No virus found in this incoming message.
          Checked by AVG Free Edition.
          Version: 7.1.410 / Virus Database: 268.17.18/662 - Release Date: 
1/31/2007



      Send instant messages to your online friends 
http://au.messenger.yahoo.com 

--------------------------------------------------------------------------

      No virus found in this incoming message.
      Checked by AVG Free Edition.
      Version: 7.1.411 / Virus Database: 268.17.21/665 - Release Date: 2/2/2007





------------------------------------------------------------------------------
  Need a quick answer? Get one in minutes from people who know. Ask your 
question on Yahoo! Answers.

   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition.
  Version: 7.1.411 / Virus Database: 268.17.24/668 - Release Date: 2/4/2007

Kirim email ke