Yth Sdr Sunny.
  Senang mendengar tanggapan ini. Jadi kita bisa diskusi lebih lanjut. Semoga 
teman-temen lain juga bisa menyimak. 
  Anda benar, sejumlah ex KNIL yang membelot (istilah ini saya pakai karena 
faktanya orang-orang KNIL ini sudah melanggar sumpah pada Sri Ratu Belanda), 
mereka memutuskan untuk bergabung dalam TKR (Tentara 
  Keamanan Rakyat). Nama-nama tersebut antara lain Urip Sumohardjo, Didi 
Kartasasmita, Alex Kawilarang, AH.Nasution, Simatupang, Suryadarma dan masih 
banyak lagi. Dari yang anda sebut tersebut memang bergabung dengan tentara 
Indonesia, kecuali Muskita dan Sultan Hamid. Muskita adalah perwira Belanda 
yang baru bergabung dengan Apris (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat) 
pada tahun 50-an. Sedangkan Sultan Hamid adalah ketua BFO (Permusyawaratan 
Negara Federal) yang berpangkat Jenderal Mayor dalam tentara Belanda. Tapi 
sesudah tahun 50 tidak perlu bergabung lagi dalam Apris, karena menjabat 
Menteri Negara dalam Kabinet RIS. Sayangnya, beliau terlibat peristiwa APRA 
Westerling dan dihukum penjara selama 10 th. Ada lagi beberapa perwira KNIL 
yang juga bergabung dalam Apris antara lain Tahiya. Orang ini sudah pendapat 
pangkat Let.Kol dalam Apris, tapi minta berhenti. Sebentar jadi direktur Caltex 
Asia-Pasifik, ahirnya jadi pengusaha sukses sehingga mendapat bintang
 Mahaputra dari Presiden Soeharto. Untuk mengetahui siapa-siapa saja yang 
pindah menjadi anggota TNI lihat bukunya B.Bouman "van de drie kleur tot Merah 
Putuh". Kembali pada soal PETA, masalahnya lain sekali. Disitu ada kepentingan 
bangsa Indonesia untuk mendapat ilmu perang dari Jepang. Dan faktanya setelah 
Jepang kalah, ex perwira anggota PETA sebagian besar menjadi perwira TNI, 
sampai banyak yang berpangkat Jenderal. Misalnya Soeharto, A.Yani, Sumitro Umar 
Wirahadikusumah, A.Tahir, Poniman dan masih banyak lagi. Tentu saja ini bisa 
terjadi karena Jepang menyerah tanggal 15 Agustus 1945, kita Merdeka tanggal 17 
Agustus 1945. Tentara Sekutu baru datang pada pertengahan September 1945, BKR 
sudah berdiri dan baru tanggal 5 Oktober 1945 berdiri Tentara Keamanan Rakyat 
sebagai tentara Nasional Indonesia. Jangan dikira, cuma TKR yang menjadi 
tentara Indonesia. Semuanya memang mirip gado-gado. Disitu ada sejumlah 
kesatuan diluar TKR, misalnya Laskar Rakyat, Pesindo, Pelopor,
 Hisbullah, Bambu Runcing dan sebagainya. Belanda selain memiliki kesatuan KL, 
KNIL dan Marine atau angkatan laut sendiri juga dibela oleh sejumlah tentara 
yang pro kepada mereka. Misalnya Po An Thui (laskar Cina), Cakra (pasukan 
Madura yang pro Belanda), Pasukan penjaga perkebunan (onderneming wacht), 
polisi Belanda dan sebagainya. 
  Terima kasih ya, sampai jumpa lagi. Kalau mau diskusi didarat juga boleh 
supaya bisa saya kasi lihat dokumen, film maupun foto-foto.

Sunny <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            Pak Husein Yth,
   
  Pengertian Anda campur aduk seperti gado-gado dengan tidak membedakan 
tindakan orang-orang Peta sebagai individu dan fungsi Peta sebagai instrumen 
"negeri"  jajahan. Hendaklah Anda menegerti bahwa tentara sesuatu negara atau 
kesatuan bersenjata sesuatu organisasi adalah menjamin kepentingan politik 
negara dan penerapannya di masyarakat dan bukan kepentingan pihak ketiga. Ada 
termakan pada istilah "Pembela Tanah Air", tanpa mengerti hakekat fungsinya.
   
  Perang dunia pertama berlangsung di Europa, tidak merambat ke Ned Indie dan 
oleh karena "mungkin" saja dinilai tidak perlu, dan lagi konsep demikian dalam 
kemiliteran untuk membolisasi penduduk guna membentuk cadangan kesatuan 
bersenjata tidak diperlukan. Tentara jepang pada perang dunia II terbatas 
jumlahnya dan oleh karena itu diperlukan adanya  tenaga tambahan dengan 
merekrut pasukan  dari penduduk negeri-negeri yang dikuasai. Dalam tentara 
Jepang yang masuk ke Indonesia terdapat juga kesatuan-kesatuan korea dan 
mungkin saja dari dataran Tiongkok.
   
  Bukankah dulu itu opsir-opsir TNI  juga berasal dari pendidikan KNIL, 
contohnya Jenderal Soeharto, berpangkat sersan di Peta, masuk Peta pankatnya 
naik jadi jadi kapten, kemudian di TNI kololenel lalu dinaikan jadi Jenderal. 
Selain Soeharto ada juga Adull Harris  Nasution, Simatupang, Muskitta, Sultan 
Hamid II etc itu dulunya juga opsir-opsir muda  KNIL yang bergabung dan 
membangun TNI dan pimpin TNI.  Jadi kalau mengikuti logika Anda peranan KNIL 
juga penting dalam membangun TNI.
   
  Wassalam,
   
   
    ----- Original Message ----- 
  From: Husein Rusdhy 
  To: [email protected] 
  Sent: Saturday, February 03, 2007 6:41 AM
  Subject: Re: [mediacare] WISKINDO 20 Pebruari 2007
  

      Yth Sunny.
  Melihat Tentara PETA, tidak bisa dilihat dari hanya satu sudut pandang. 
Apalagi setelah sekian tahun masa berlalu. KIta tentu saja perlu membuat 
perspektif baru dengan melihat kenyataan sejarah. Saya baru saja 
                
---------------------------------
  We won't tell. Get more on shows you hate to love
(and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list.   

    
---------------------------------
    
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.410 / Virus Database: 268.17.18/662 - Release Date: 1/31/2007



  



  Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 

    
---------------------------------
    
No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.1.411 / Virus Database: 268.17.21/665 - Release Date: 2/2/2007
  

         

 Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke