Selamat jalan rekan Tuti Gintini, semoga Tuhan Yang Esa memberikan tempat yang indah buatmu. Dan kepada keluarga yang ditinggalkan juga diberi kekuatan.
Saya senang dalam perjalanan hidup saya pernah kenal dengan Tuti, seorang wartawati yang memiliki antusiasme tinggi terhadap kebudayaan. Tak di media cetak tak di media elektronik, dia tetap konsisten mengakrabi dunia kebudayaan. Pernah selama beberapa hari saya liputan bareng Tuti di Aceh dalam acara Pekan Kebudayaan Aceh di bulan Agustus 2004 (kalo nggak keliru). Kemudian, sambil lalu, kami juga sempat ketemu di acara-acara serupa di Jakarta. Dan..., pada 2006, entah di bulan apa saya lupa, saya dan Tuti duduk berhadap-hadapan di sebuah sudut di Warung Apresiasi Bulungan, Jaksel. Saya sendiri, sedang Tuti dipijat tangannya oleh Mas Darmaji (penyair Purwokerto) yang konon memiliki kemampuan bisa membaca penyakit yang diidap oleh seseorang. Ketika pemijatan usai dan Mas Darmaji hendak membacakan diagnosanya atas penyakit Tuti, saudari kita ini mendadak bilang.. "Nggak usah dibacain, berat kan sakitku...." Saya tak menganggap serius pernyataan Tuti pada malam itu. Sekitar dua bulan lalu, mendadak saya mendengar kabar Tuti sakit parah dan harus dirawat di Singapura. Seminggu kemudian, saya telepon langsung ke Tuti, menanyakan kebenaran kabar tersebut. Suara Tuti terdengar parau dan mengiyakan kalau dirinya memang harus menjalani perawatan jalan di sebuah rumah sakit di Singapura. Lalu, pada malam Jumat Pahing (Kamis) 8/2, itu.. saya mendengar kabar, Tuti telah pergi menghadap Tuhan. Sekali lagi...., selamat jalan kawan.... kembali ke asalmu bermula, alamat kami semua nanti jodhi yudono
