kepada mbak tuti, dan yang ditinggalkannya.
   
  mungkin saya masih pagi dan dini kenal mbak tuti.
  tapi pada sebuah persilangan nasib, saya pernah bersama sepeliputan dengan 
almarhum di Bali, mungkin 2003 dan di Aceh pada AGustus 2004 (bareng mas Djodi, 
dan beberapa kawan lainnya.). Dan tidak terhitung pada berbagai perhelatan 
budaya di Jakarta, tentu saja.
   
  Almarhum banyak mendongeng seputar orang-orang pertama yang bergiat dalam 
peliputan di seni dan budaya kepada saya. Saya hanya mengangguk-angguk, 
mengamini, karena kalah 'awu', demikian orang jawa bilang. Selebihnya, kami 
berkawan dengan baek-baek saja, atas nama kebaikan dan kesabaran.
   
  Sebagai wartawan perempuan yang mempunyai antusiasme yang sangat bisa 
dibanggakan dalam peliputan seni dan budaya, akan sangat sulit sekali mencari 
pengganti almarhum. Saya sontak kaget, dan nyaris tidak percaya ketika sms 
Yusuf Susilo Hartono dibisikkan kepada saya, pada sebuah acara persiapan come 
back-nya Mutiara Sani, beberapa waktu lalu.
   
  Selamat jalan mbak.
  Orang baek datang dengan baek, pergi dengan baek dan diterima dengan baek.
   
  benny benke
   
  

jodhi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            Selamat jalan rekan Tuti Gintini, semoga Tuhan Yang Esa memberikan 
tempat yang indah buatmu. Dan kepada keluarga yang ditinggalkan juga diberi 
kekuatan.
   
  Saya senang dalam perjalanan hidup saya pernah kenal dengan Tuti, seorang 
wartawati yang memiliki antusiasme tinggi terhadap kebudayaan. Tak di media 
cetak tak di media elektronik, dia tetap konsisten mengakrabi dunia kebudayaan. 
   
  Pernah selama beberapa hari saya liputan bareng Tuti di Aceh dalam acara 
Pekan Kebudayaan Aceh di bulan Agustus 2004 (kalo nggak keliru). Kemudian, 
sambil lalu, kami juga sempat ketemu di acara-acara serupa di Jakarta. Dan..., 
pada 2006, entah di bulan apa saya lupa, saya dan Tuti duduk berhadap-hadapan 
di sebuah sudut di Warung Apresiasi Bulungan, Jaksel. Saya sendiri, sedang Tuti 
dipijat tangannya oleh Mas Darmaji (penyair Purwokerto) yang konon memiliki 
kemampuan bisa membaca penyakit yang diidap oleh seseorang.
   
  Ketika pemijatan usai dan Mas Darmaji hendak membacakan diagnosanya atas 
penyakit Tuti, saudari kita ini mendadak bilang.. "Nggak usah dibacain, berat 
kan sakitku...."
   
  Saya tak menganggap serius pernyataan Tuti pada malam itu.
   
  Sekitar dua bulan lalu, mendadak saya mendengar kabar Tuti sakit parah dan 
harus dirawat di Singapura. Seminggu kemudian, saya telepon langsung ke Tuti, 
menanyakan kebenaran kabar tersebut. Suara Tuti terdengar parau dan mengiyakan 
kalau dirinya memang harus menjalani perawatan jalan di sebuah rumah sakit di 
Singapura.
   
  Lalu, pada malam Jumat Pahing (Kamis) 8/2,  itu..  saya mendengar kabar, Tuti 
telah pergi menghadap Tuhan.
   
  Sekali lagi...., selamat jalan kawan.... kembali ke asalmu bermula, alamat 
kami semua nanti
   
  jodhi yudono 

  

         

 
---------------------------------
Don't pick lemons.
See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos.

Kirim email ke