Begitulah penerapan syariat yang tidak pada tempatnya. Syariat itu diterapkan untuk mengaca diri sendiri bukan untuk menghakimi orang lain. Sepertinya sudah berpangkat malaikat sehingga mendapat mandat untuk mengkritisi orang miskin. Orang miskin itu wajib ditolong bukan dikritik dengan hukum Agama, kalau menilai harta benda asalnya dari mana, saya pernah tulis : memangnya negara ini 100 % halal ? Memangnya nasi yang kita makan bebar dari tindakan suap-menyuap ataupun riba ? Lha wong pengelolaannya penuh dengan korupsi dan wakil rakyatnya pada berselingkuh, belum lagi soal hukum yang serba pat gulipat.. maju tak gentar membela yang bayar. Belum lagi kalau anda berpegang kepada pemahaman bahwa bank-bank (selain bank syariah) adalah riba, so.. tidak ada yang halal.. apa yang kita makan dan kita pakai semua haram. Jadi nggak usak terlalu ideal, hadapi yang real-real saja semampunya. Ketahuilah Tuhan Maha Adil dan Maha Bijaksana bukan seperti yang anda pikirkan... jangan-jangan justru anda nantinya dimurkaiNya karena memberhalakan syariat. Wallahu'alam bisawab.
Wassalam. On 2/21/07, claudi teranova <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Indonebia itu sesat. Sudah dipengaruhi setan. The real satanic is Indonebia. claudi --- ati gustiati <[EMAIL PROTECTED] <hatiku_rumahku%40yahoo.com>> wrote: > Ah, kita memang bangsa pengemis kok, bisanya minta > minta minta...kasihanilah kami, bantulah kami, > ......dari pemerintah sampai rakyatnya bisanya > minta..minta minta....pinjam pinjam pinjam......ini > masalah mentalitas dan harga diri sebagai bangsa yg > yg terus menerus kekurangan .
