Dengan adanya internet, pembandingan gaji seseorang dengan mobilnya gampang 
sekali. Di Belanda misalnya, Dinas Pajak mencatat di komputernya berapa 
pajak yang dibayar seseorang, maka akan diketahui penghasilannya (gaji atau 
keuntungan perusahaan). Komputer Dinas Pajak dikopel dengan komputer Polisi 
Lalu Lintas yang punya catatan nomor polisi mobil. Maka orang yang gajinya 
kecil tapi punya mobil Mercedes pastilah menggelapkan pajak atau mendapat 
uangnya dari praktek kriminal. Pengkopelan database Dinas Pajak dan Polisi 
Lalu Lintas itu legal, diatur oleh UU Belanda. Kuncinya SoFi-nummer, sejak 
mbrojol dari perut sampai gamepoint, seseorang di Belanda memiliki sebuah 
SoFi-nummer. Pemerintah tinggal mentik SoFi-nummer seseorang, maka seluruh 
riwayat hidupnya akan terbaca di monitor. Misalnya pernah menikah berapa 
kali dengan siapa, alamatnya di kota apa, bekerja di mana, pernah dihukum 
atau tidak dll.

Mengapa Indonesia tidak mau mencontek sistim SoFi-nummer Belanda untuk 
mengganyang korupsi? Walahualam.

Salam kincir, Danny Lim, Nederland

----- Original Message ----- 
From: "Satrio Arismunandar" <[EMAIL PROTECTED]>
To: "news Trans TV" <[EMAIL PROTECTED]>; "student EMBA" 
<[EMAIL PROTECTED]>; "Begundal Salemba" 
<[EMAIL PROTECTED]>; "PJTV PJTV" <[EMAIL PROTECTED]>; 
"Cikeas Cikeas" <[EMAIL PROTECTED]>; "mediacare mediacare" 
<[email protected]>; "jurnalisme" <[EMAIL PROTECTED]>; 
"pantau" <[EMAIL PROTECTED]>; "AJI INDONESIA" 
<[EMAIL PROTECTED]>; "Kincir Angin" <[EMAIL PROTECTED]>; 
"Forum Kompas" <[email protected]>
Sent: Thursday, February 22, 2007 11:49 AM
Subject: [KincirAngin] Essay - Sebuah prasangka terhadap teman yang 
kebetulan anggota DPR


> Essay - SEBUAH PRASANGKA TERHADAP TEMAN, YANG KEBETULAN ANGGOTA DPR
>
> Prasangka di hati kita terkadang terlalu kuat, dan mempengaruhi penilaian 
> kita pada hal-hal yang secara umum dianggap seolah-olah sudah pasti 
> kebenarannya. Misalnya, anggapan bahwa anggota DPR hampir semuanya pasti 
> korup, busuk, atau menerima uang haram. Padahal prasangka kita bisa jadi 
> sangat keliru, atau minimal tidak seakurat yang kita bayangkan.
>
> Hal ini pernah menimpa saya. Sebagai jurnalis dan mantan aktivis, yang 
> merasa ikut andil dalam gerakan prodemokrasi menumbangkan kekuasaan 
> Soeharto tahun 1998, saya punya rasa kecurigaan yang tinggi terhadap 
> mereka yang menjadi pejabat negara, entah itu di pemerintahan atau pun di 
> DPR.
>
> Nah, suatu saat ada teman saya aktivis, yang melangsungkan pernikahan di 
> Jakarta (2006). Saya sebagai teman lama seperjuangan tentu saja memerlukan 
> hadir. Karena yang menikah ini aktivis yang punya jaringan luas, maka 
> ramailah acara pernikahan itu dihadiri para mantan aktivis, termasuk yang 
> sudah menjadi pimpinan di partai politik dan mendapat jabatan di DPR.
>
> Salah satu dari mereka, sebut saja namanya XY, datang ke acara pernikahan 
> dengan mobil mewah, yang harganya saya taksir pasti di atas Rp 650 juta. 
> Saya kenal akrab dengan XY ketika sama-sama menggalang aksi mahasiswa 
> pasca sarjana di Universitas Indonesia tahun 1998. Tetapi sesudah itu kami 
> jarang bertemu dan jarang kontak. Saya tetap berkarir di jalur 
> jurnalistik, sedangkan dia memilih terjun ke dunia politik.
>
> Saya pun berbisik ke seorang mantan aktivis lain, yang kenal dekat dengan 
> XY. "Apakah XY itu ketika jadi anggota DPR termasuk 'bersih"?" Dia 
> menjawab, "Yah, di dunia politik seperti ini sulitlah kalau kita mencari 
> orang yang benar-benar 100% bersih. Tapi XY ini masih lumayanlah..."
>
> "Lho, tapi bagaimana dia bisa punya mobil mewah, yang harganya pasti tak 
> terjangkau dengan sekadar gaji anggota DPR?" tanya saya, penasaran. "Oh, 
> dia tidak membeli mobil itu. Dia bernasib baik memenangkan undian 
> berhadiah mobil dari sebuah bank. Bank 'kan sering bikin undian untuk 
> memancing nasabah baru," sahut rekan saya.
>
> Saya terhenyak. Ternyata prasangka dan kecurigaan saya tidak terbukti. 
> Saya memang tidak tahu persis, apakah XY betul-betul "bersih." Tetapi, 
> setidaknya, khusus untuk kasus mobil mewah ini, dia memperolehnya bukan 
> dari korupsi seperti yang saya duga semula.
>
> Sejak saat itu, saya bertekad untuk lebih berhati-hati, sebelum 
> tergesa-gesa menilai atau menghakimi "bersih-tidaknya" orang lain. 
> Walaupun, kalau sekadar mengikuti pandangan umum yang populer, dengan 
> mudah pasti kita akan mengatakan: "mayoritas anggota DPR pasti korupsi."
>
> Manila, 22 Februari 2007
>
>
> Satrio Arismunandar
> Producer - News Division, Trans TV, Floor 3
>
> http://satrioarismunandar6.blogspot.com


Kirim email ke