Pak Hoesein,

Email ini anda kirim tahun lalu, dan masih tersimpan rapi di arsip saya. Karena 
sebentar lagi Indonesia merayakan Hari Kartini, maka saya ingin menjawab email 
pak Hoesein ini, terlambat setahun ngga apa-apa ya pak :-).

Ada kesan kolonial Belanda dulu itu mengangkat kasus Kartini hanya untuk 
"memuluskan pergantian kulitnya", ini terbaca di email pak Hoesein di bawah ini 
(maaf bila saya salah interpretasi). Namun melihat kenyataan bahwa di Belanda, 
Kartini dijunjung tinggi sampai sekarang terutama di Den Haag, tentu tesis pak 
Hoesein pantas diragukan. Maaf ya pak, tapi di website saya 
www.ikenindonesie.nl ada 2 tulisan sebagai bukti nyata, bahwa Kartini di 
Belanda dijunjung tinggi sebagai pejuang emansipasi di Hindia-Belanda dulu 
sampai sekarang. Maksud saya, bila pengangkatan kasus Kartini hanya lips 
service kolonial Belanda, mana mungkin Pemda Den Haag di tahun 2007 ini sampai 
spesial menyediakan trophy Kartini untuk perorangan/organisasi di Den Haag yang 
berjuang dalam bidang emnasipasi ala Kartini dulu. FYI. Yang meraih 
Kartini-Trophy tahun 2007 ini adalah seorang wanita Maroko bernama Rahma El 
Hamdaoui yang berjuang membela emansipasi di sebuah kampung bernama 
Schilderswijk di Den Haag.

Sebuah diskusi yang menarik dan bermanfaat, pak Hoesein.

Salam hangat, Danny Lim, Nederland

  ----- Original Message ----- 
  From: HOESEIN RUSHDY 
  To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; [email protected] ; 
[EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Tuesday, April 25, 2006 1:31 AM
  Subject: [KincirAngin] Pantaskah R.A.Kartini jadi Pahlawan Nsional ?


  Belakangan ini muncul diskusi tentang jasa-jasa kartini. Tentu saja ada yang 
mendukung dan ada yang mempertanyakan. Saya rasa banyak sudah orang yang 
mengetahui siapa sebenarnya Kartini itu. Bukankah banyak buku yang 
menginformasikan tokoh wanita ini bahkan pernah ada film Kartini yang 
diperankan Yeni Rachman dan Bambang Hermanto yang memerankan suaminya R.Adipati 
Arya. Tapi rupanya tetap saja kurang jelas. Pokok permasalahan adalah dalam hal 
pantas tidaknya beliau bergelar Pahlawan Wanita yang bergerak dibidang 
perjuangan emansipasi wanita Indonesia. Mungkin ada beberapa pendekatan yang 
bisa membantu menerangkannya. Pertama adalah pendekatan waktu. Kartini hidup 
dalam periode zaman perubahan diawal abad ke 20 yang dikenal sebagai zaman 
politik etis . Zaman itu adalah dekade keemasan kaum liberal Belanda. 
Tokoh-tokoh pejuang swasta non Pemerintah menguasai kegiatan bidang sosial dan 
politik. Para pejuang perlawanan kolonial di Hindia, baru saja menyadari apa 
yang terjadi dalam perubahan zaman ini. Pemberontakan fisik baru saja berahir 
dia Aceh (menyerahnya P.Polim pada tahun 1903) dan usaha penyerangan oleh 
Sultan Daud Syah terhadap Garnisun Belanda di Banda Aceh, yang gagal pada tahun 
1907. Mantan Panglima perang Belanda di Aceh, kemudian Panglima KNIL, van Heutz 
kemudian menjadi Gubernur Jenderal (1904-1909). Figur perlawanan kemudian 
beralih pada pejuang organisasi sosial dan politik dalam memperjuangkan kondisi 
seimbang antara penjajah dan yang dijajah. Sifatnya  antara lain adalah 
perjuangannya emansipasi  untuk menuntut persamaan hak dimuka hukum. Ini 
termasuk kaum wanita. Apa yang diusahakan dan dikerjakan Kartini saat itu 
amatlah dirasakan peranan dan manfaatnya dan amat genuine (asli). Hampir 
dikatakan belum ada orang sebelumnya yang berjuang dibidang itu. Pendekatan 
kedua adalah Program pemerintah Belanda sendiri, Bagaikan bertemu teman searah 
dan setujuan (bagaikan tumbu ketemu tutup kata orang jawa). Tokoh Belanda van 
Deventer adalah pejuang politik etis (penasihat Pemerintah dan anggota parlemen 
Belanda)  yang handal dan Abendanon adalah direktur pendidikan etis yang 
pertama. Bukan hal yang aneh karena itu adalah prinsip, bahwa pendidikan harus 
dimulai di Hindia dan awalnya adalah kaum elite Indonesia. Istri Abendanon 
adalah sahabat pena Kartini. Berarti bukan hal kebetulan kalau simpati kaum 
liberal Belanda tertuju pada tokoh emansipasi wanita Indonesia keturunan 
ningrat ini. Isi surat Kartini amat cocok dalam kampanye politik etis di Jawa 
dan juga merupakan integarsi nyata dari program-program pendidikan yang 
dijalankan. Bukankah pendidikan wanita amat terkebelakang saat itu. Bagaikan 
cerita memelas tentang wanita Indonesia sendiri, ketika surat-surat Kartini 
diterbitkan dinegeri Belanda dengan judul : "Door duisternis tot licht" Dan 
dalam hidupnya Kartini yang sempat mengecap pendidikan sekolah dasar Eropah, 
tidak bisa melanjutkannya karena harus menikah dan mematuhi adat. Meskipun ada 
beasiswa untuk itu. Dengan jujur dan tulus, dia memohon agar beasiswa untuk 
masuk HBS, selanjutnya diberikan kepada Agus Salim seorang pemuda Riau yang 
cerdas. Pendekatan ketiga, sesungguhnya harga diri dan martabat wanita 
Indonesia saat itu belum wajar. Bahkan belum mencapai titik optimal sampai 
sekarang. Kartini menilai bahwa pendidikan adalah salah satu jalan terbaik. 
Maka berdatanganlah sumbangan pemikiran dan dana, sehingga diwilayahnya sendiri 
Kartini mampu mendirikan sekolah, bukan lagi untuk kaum elite, tapi bagi rakyat 
kebanyakan. Belakangan kekuatan swasta di Indonesia dan di Belanda, berhasil 
mengumpulkan uang dan mendirikan sekolah Kartini. Kerja sama bahu membahu 
antara masyarakat Belanda dan Indonesia saat itu merupakan contoh nyata suatu 
bagian dari perjuangan kaum etis yang disebut "Een eeresculd" (suatu hutang 
kehormatan) yang menjadi kenyataan bukan hanya sekedar mimpi. Jutaan Gulden 
telah dimanfaat oleh kaum etis untuk pembangunan program edukasi, irigasi dan 
emigrasi demi mensejahterakan rakyat pribumi. Jangan lupa penangangan masalah 
kesehatan juga bagian yang tidak terpisahkan dalam program tersebut. Pendidikan 
dokter Jawa yang telah dimulai tahun 1856, pada tahun 1900 -1902 dikembagkan 
menjadi STOVIA (School tot opleiding van Inlandsche Artsen) yang lebih tinggi 
nilainya.
  Melihat diatas kita bertanya apakah sejak permulaan abad ke 20 artinya 
kolonialisme punah ?. Ternayat tidak. Mereka cuma ganti kulit. Kolonialisme 
Belanda kini menemukan benda unik lainnya yang amat pantas untuk diexploitir 
dari negeri jajahanya. Benda cair tersebut adalah minyak. Belanda tidak salah 
mengira, karena minyak adalah komoditi handal untuk memanjukan Nederland. Pada 
tahun 1883 AJ Zijler mendapat hak konsesi didaerah Langkat. Tahun 1890 dia 
mendirikan Koninklijke Nederlandsche Maatschappij  tot Exploitatie van 
Petroleum bronen  in Nederlandsch Indie. Pada tahun 1900-1905 perusahaan ini 
berhasil mengexpor minyak dalam jumlah besar dari berbagai daearah di Hindia 
(Sumatera, Kalimantan dan Jawa) keseluruh Asia. Mulai dari pelabuhan Cina di 
timur sampai pelabuhan India di barat. Usaha dibidang pertambangan ini 
dilanjutkan dengan kegiatan penyedotan hasil tambang lainnya sepertti Batu 
Bara, Emas, Perak, manggan, Timah dan masih banyak lagi.........


------------------------------------------------------------------------------

Kirim email ke