Selain mengkritisi "aspek gontok-gontokan" ada yang terlewatkan, Pak.
Orang-orang Kubilai Khan datang ketika sudah ada Kerajaan Singosari (skg di
wilayah Kab Malang) yang pada waktu itu diperintah oleh Raja Kartanegara (pada
kira-kira 1289). Pimpinan utusan Mongol yang bernama Meng Chi itu dianggap
kurang ajar oleh Sang Raja Singosari dan, konon, langsung dipotong daun
telinganya. Inilah yang membuat Kubilai Khan marah.
Kubilai Khan pun mengirimkan marinirnya lagi ke Jawa untuk "menghukum"
Singosari. Tapi Singosari sudah runtuh akibat serangan kerajaan Kediri.
Alih-alih menyerang Singosari, tentara Mongol itupun ditipu oleh Raden Wijaya
(menantu Kertanegara) bahwa Kediri merupakan penerus Singosari. Maka, Raden
Wijaya pun memanfaatkan pasukan Mongol untuk menyerang Kediri. Kerajaan Kediri
memang akhirnya kalah dan setelah itupun marinir-marinir Mongol itu diserang
pula oleh Raden Wijaya bersama panglima-panglimanya, seperti Ranggalawe, Lembu
Sora dan Mpu Nambi. Paukan Mongolpun jadi kocar kacir dan beberapa kapalnya
ditenggelamkan di Tuban.
Akhirnya, Raden Wijaya inilah yang mendirikan Majapahit. Beliau mendirikan
kerajaan di alas Tarik yang sekarang terletak di wilayah Mojokerto.
Perlu diingat, raja-raja kerajaan Mataram Islam sebenarnya juga keturunan
Majapahit. Raden Patah pendiri Demak adalah keturunan Raja Majapahit.
Setelah Demak runtuh, timbul dulu kerajaan Pajang yang diperintah Hadi Wijaya
alias Mas karebet alias Jaka Tingkir yang juga keturunan Raja Brawijaya V
(Raja Majapahit).
Baru setelah Pajang runtuh, lahir Mataram (Islam) yang didirikan oleh
Sutawijaya alias Panembahan Senopati (anak kandung Ki Gede Pemanahan dan
merupakan anak angkat Mas Karebet). Ki Gede Pemanahan pun adalah keturunan
Majapahit.
Ki Gede Pemanahan membangun Mataram di atas alas Mentaok yang dihadiahkan
oleh Sultan Hadiwijaya. Alas Mentaok inilah yang sekarang menjadi Yogyakarta.
Salam,
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sejarah Indonesia Posted by: "Danny Lim" [EMAIL PROTECTED] kincir_angin
Wed Mar 14, 2007 6:37 pm (PST) SEJARAH INDONESIA
(Dari buku "Indonesië" oleh Dirk Vlasblom)
Penghuni pertama wilayah yang sekarang menjadi Republik Indonesia adalah ras
Melanesia yang berkulit hitam dan berambut kriting. Ras Melanesia dulu itu
menduduki juga wilayah India yang sekarang, sampai ke wilayah Philipina yang
sekarang. Kemudian sekitar 4000 tahun sebelum masehi, masuklah ras Astronesia
yang berkulit kuning, yang dulu itu menghuni wilayah China dan Taiwan yang
sekarang. Akibat kedatangan ras Astronesia, ras Melanesia di wilayah yang
sekarang menjadi Indonesia, tersingkir ke wilayah Papua yang sekarang. Sebagian
ras Melanesia berasimilasi dengan ras Astronesia menjadi ras baru yang berkulit
sawo matang. Ras campuran Melanesia-Astronesi a itu berdagang rempah-rempah
dengan China dan Taiwan, asal ras Astronesia, dan berdagang rempah-rempah
dengan India, asal ras Melanesia. Baik ras Melanesia di India mau pun ras
Astronesia di China jago berdagang, jadi tak heran bila ras asimilasi
Melanesia-Astronesi a di Indonesia juga piawai dalam berdagang.
Ras Melanesia menganut animisme sedangkan ras Astronesia menganut Hindu dan
Budha. Sekitar abad ke tiga setelah masehi, agama Hindu dan Budha tumbuh subur
di wilayah yang sekarang menjadi Republik Indonesia. Kerajaan top pertama
adalah kerajaan Sriwijaya yang Budha dan berpusat di Sumatra Selatan. Enam abad
lamanya kerajaan Sriwijaya berjaya di wilayah yang sekarang menjadi Indonesia
itu. Di abad ke sembilan, lahirlah di wilayah yang menjadi pulau Jawa yang
sekarang, kerajaan Mataram yang juga Budha. Dinasti Syailendra dari Mataram
memerintahkan pembangunan Borobudur. Saat Mataram diperintah oleh raja
Airlangga, kerajaan Mataram terlibat pertempuran dengan kerajaan Sriwijaya,
meski pun dua kerajaan itu sama-sama Budha. (Cikal-bakal budaya gontok-gontokan
Indonesia dimulai oleh Sriwijaya dan Mataram? - DL). Dua kerajaan itu menjadi
lemah akibat peperangan dan akhirnya punah sendiri. Di saat vakum itu masuklah
pasukan Mongolia/China di bawah komando Kublai Khan ke Indonesia,
namun bangsa Mongolia/China itu hanya datang untuk minta upeti dari
kerajaan-kerajaan yang (masih) ada di Indonesia ketika itu. Dari reruntuhan
kerajaan Sriwijaya dan kerajaan Mataram itu lahirlah kerajaan baru yang lebih
akbar, yaitu kerajaan Majapahit yang Hindu. Kerajaan Majapahit diduga merupakan
kerajaan terbesar yang pernah ada di jaman prehistoris Indonesia. Namun tidak
terjadi perang antara pasukan Kublai Khan dengan pasukan Majapahit, sebaliknya
terjadi kerjasama dagang erat yang saling menguntungkan. Ekspor rempah-rempah
Majapahit pun meluas sampai ke Eropa.
Di bawah raja Hayam Wuruk dan patihnya yang terkenal Gajah Mada, kerajaan
Majapahit yang Hindu itu menguasai Sumatra, Jawa, Bali dan Kalimantan. Beberapa
sejarahwan berkata wilayah Majapahit mencakup juga Philipina, Maluku dan Papua.
Kebesaran kerajaan Majapahit ditulis oleh Empu Prapanca dalam bukunya
Negarakertagama. Kerajaan Majapahit bukan cuma jago berdagang, juga kebudayaan
tumbuh cemerlang. Bendera kerajaan Majapahit adalah Dwiwarna, yaitu
Merah-Putih. Warna bendera itu pula yang kini menjadi warna bendera Republik
Indonesia. Kerajaan Majapahit yang Hindu kemudian runtuh akibat kedatangan
pedagang Islam dari Gujarat dan Persia. Perkembangan agama Islam di Indonesia
terjadi dari abad ke tiga belas sampai abad ke tujuh belas, di saat agama Islam
telah berusia seribu tahun sejak diperkenalkan pertama kalinya oleh Mohamad.
Daerah Indonesia yang pertama dijejak oleh Islam adalah Aceh. Kerajaan Islam
pertama di Indonesia adalah kerajaan Demak di Jawa, yang menggantikan
kemashuran kerajaan Majapahit. Orang-orang Majapahit yang Hindu pun mengungsi
ke Bali. Setelah Demak, satu persatu kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia
menjadi Islam, seperti kerajaan Banten di Jawa dan kerajaan Makassar di
Sulawesi.
Seperti telah diceritakan di atas, di jaman Majapahit perdagangan rempah-rempah
mampu menembus pasaran Eropa. Perdagangan itu pula yang membawa orang-orang
Eropa datang ke Indonesia untuk mencari rempah-rempah di lumbungnya langsung.
Bangsa Eropa pertama yang menjejakkan kakinya di wilayah Indonesia adalah
bangsa Spanyol dan Portugis. Lain dengan bangsa Mongolia/China yang hanya
menarik upeti sekaligus berdagang dengan kerajaan-kerajaan di Indonesia, bangsa
Spanyol/Portugis datang sekaligus untuk menjajah. Wilayah yang pertama dikuasai
oleh bangsa Spanyol/Portigis adalah Malakka, kemudian Maluku. (Metode
devide-et-impera rupanya ditemukan pertama kalinya di Maluku itu - DL). Ketika
itu sultan Ternate dan sultan Tidore saling berkelahi sendiri, membuat dua
sultan itu mudah diadu-domba oleh bangsa Spanyol/Portugis. Akibat termakan adu
domba, akhirnya kesultanan Ternate dan kesultanan Tidore dua-duanya berhasil
dikuasai oleh Spanyol/Portugis.
Orang Inggeris dan Belanda belakangan menyusul Spanyol/Portugis ke Indonesia,
ikut-ikutan mengadu untung di sana. Belanda datang ke Indonesia diwakili oleh
VOC di tahun 1602. Pasukan VOC berhasil melumpuhkan Portugis di Maluku dan VOC
pun menduduki Maluku. Kesultanan Ternate berhasil melepaskan diri dari jajahan
Spanyol/Portugis, kemudian bersama tentara VOC berhantam menaklukkan Tidore.
Namun akhirnya baik Ternate mau pun Tidore dijajah oleh VOC. (Makanya sesama
bangsa sendiri jangan suka gontok-gontokan, yang untung selalu pihak asing,
haiyaaa ....... - DL). Kerajaan Demak yang Islam di Jawa pun menjadi lemah
karena keturunan raja Demak berhantam sendiri rebutan tahta. Dari puing-puing
Kerajaan Demak kemudian muncul dua kerajaan, satu di Surabaya dan satunya di
Yogyakarta. Yang di Yogyakarta memakai nama kerajaan Mataram, nama yang sama
dengan nama kerajaan Budha/Hindu di jaman baheula yang berperang melawan
kerajaan Sriwijaya. Karenanya para ahli sejarah sering juga
memakai nama "Old Mataram" untuk Mataram yang Budha/Hindu, dan "New Mataram"
untuk Mataram yang Islam.
VOC sendiri menancapkan kakinya di kota Jayakarta di Banten, yang kemudian
diganti namanya menjadi Batavia oleh Jan Pieterzoon Coen. Dalam pertempuran
perebutan kekuasaan antara VOC dan pasukan Inggeris di Batavia, VOC berhasil
mengungguli pasukan Inggeris. Sementara itu kerajaan New Mataram makin kuat di
bawah Sultan Agung, maka ketika kerajaan rival di Surabaya berhasil ditaklukkan
dan seluruh Jawa jatuh di bawah kekuasaan kerajaan Mataram, mata Sultan Agung
seperti kelilipan ketika melihat VOC masih enak-enakan bercokol di Batavia.
Namun kekuatan kerajaan Mataram tak mampu menaklukkan VOC. VOC sendiri
sebetulnya tidak mau berperang dengan kerajaan Mataram, maka VOC mencoba
membaiki Sultan Agung dengan mengirim duta besarnya ke Yogyakarta membawa
banyak kado-kado. (Kata orang-orang, VOC membawa upeti noni-noni cantik
langsing berkulit kuning langsat ke kerajaan Mataram, membuat mata sultan Agung
yang tadinya kelilipan menjadi membelalak tidak kelilipan lagi, ihik ihik -
DL). Kerajaan New Mataram kemudian terseok-seok jalannya akibat
ketidak-mampuan Amangkurat I (putra sultan Agung) yang menggantikan ayahnya,
ditambah munculnya perlawanan dari sesama kerajaan Islam, Madura, yang dipimpin
oleh raja Trunojoyo. Kerajaan New Mataram minta tolong VOC menghantam kerajaan
Madura ('tuh 'kan, gontok-gontokan sendiri hobbynya orang Indonesia ini - DL).
VOC bersedia membantu Mataram namun minta konsesi yang mencekik kerajaan
Mataram. Sementara itu peran pendatang China di Jawa pun makin besar, bekerja
sama dengan VOC. VOC yang tadinya membantu kerajaan New Mataram kemudian
pelan-pelan menggerogoti New Mataram. Upaya VOC sukses, di tahun 1757 kerajaan
New Mataram pun dipecah dua menjadi kesultanan Surakarta dan kesultanan
Yogyakarta, plus Mangkunegaran. VOC sendiri belakangan terseok-seok akibat
digerecoki terus-terusan oleh Inggeris, dan di Eropa sendiri Belanda diserbu
oleh Perancis, ditambah korupsi di tubuh VOC membuat VOC failit di tahun 1796.
Semua asset VOC menjadi milik kerajaan Belanda.
DL - sampai di sini kepala ogut keleyengan nih menerjemahkan buku "Indonesië"
ini. Kapan-kapan sambungannya akan ogut kerjakan bila masih ada moed ya. Namun
sampai di sini saja kita sudah dapat menarik pelajaran, bahwa bangsa yang gemar
perang/gontok- gontokan sendiri bakalan menjadi santapan empuk luar negeri.
Anehnya, bangsa Indonesia sampai tahun 2007 ini pun masih tetap saja hobby
gontok-gontokan sendiri, kalau ngga soal agama, ya soal suku bangsa atau soal
parpol atau soal lainnya. Lha perayaan agama Hindu Ogoh-Ogoh di Bali mesti
dikawal 7400 polisi, dan Kebaktian Natal di Jakarta setiap tahun harus dikawal
belasan ribu polisi plus barisan pemuda plus metal detector, apa ngga gawat
'tuh? ......... :-(.
---------------------------------
Découvrez une nouvelle façon d'obtenir des réponses à toutes vos questions !
Profitez des connaissances, des opinions et des expériences des internautes sur
Yahoo! Questions/Réponses.