Betul! Morales yang petani, pemimpin buruh, Lula yang juga pemimpin buruh 
belajar sendiri sampai diakui sebagai ekonom pintar dan HUGO CHAVEZ, yang 
"hanya" kolonel Baret Merah tapi sudah 3 kali menang pemilu dan dipilih oleh 64%
  rakyat miskin, semuanya yang tidak punya S1 itu sedang memimpin negaranya 
dengan program yang jelas pro rakyat dan memakai SDA untuk rakyat. Mereka 
berani "duduk sama rendah, berdiri sama tinggi" dengan "iblis agung" Bush!
   
  Ini beda dengan Indonesia yang pada punya Prof PhD Msci, MA, MBA dan 
sederetan lagi gelar akademis termasuk PhD ekonomi pertanian IPB waktu jadi 
presiden: tong kosong yang justru sangat giat memperluas kemiskinan rakyat.
   
  Btw, di Nusantara tidak hanya Mojopahit yang feodal, kalau tidak salah kan 
ada juga Kesultanan Ternate, Tidore dan banyak lagi. Tapi memang negaranya 
Mahapatih Gajah Mada itulah yang terbesar dan terkuat.
   
  Salam, TCh 

Sunny <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
              Refleksi; Bersyarat S1 berarti negara seribu bencana tidak akan 
memiliki presiden dari kelas bawah seperti Evo Morales [Bolivia] dari Bolivia 
atau Luiz Inácio Lula da Silva [Brasilia]. Dengan lain kata  dimarginalisasikan 
hak demokratis rakyat lapisan bawah. Jayalah neo-Mojopahit! 
   
  http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=286483&kat_id=23
   
  Kamis, 15 Maret 2007  22:00:00

  Syarat S1 Capres akan Jadi Pembahasan Krusial di DPR 
Laporan: Yusuf Assidiq

Jakarta-RoL--Persyaratan agar calon presiden dan anggota parlemen harus 
berpendidikan sarjana [S1] seperti tercantum dalam draf RUU Pilpres versi 
Pemerintah, diperkirakan akan menjadi masalah krusial dalam pembahasannya. 
Prasyarat tersebut dipastikan akan membuat polemik baru di DPR. 
  Dikatakan oleh Sekjen Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia, Sebastian 
Salang, menganggap jika masih sekedar usulan, persyaratan minimal sarjana itu 
boleh-boleh saja. Akan tetapi dirinya memprediksi hal tersebut bakal menjadi 
masalah krusial apabila sudah sampai pada tahap pembahasan di DPR.”Pasti akan 
terjadi perdebatan alot, karena banyak hal akan menjadi pertimbangan,” 
tandasnya di Jakarta, Kamis (15/3). 
  Sejauh ini dia belum melihat bahwa usulan itu adalah untuk menjegal calon 
presiden tertentu. Tapi dia meminta agar pemerintah memperhatikan hal tersebut 
dengan seksama mengingat persyaratan pendidikan formal harus juga dilihat dari 
realitas yang ada di masyarakat. 
  “Kalau kita lihat kenyataanya, maka prasyarat sarjana itu belum cocok. 
Pemerintah sendiri baru bisa menerapkan program pendidikan dasar 9 tahun. Jadi 
idealnya kalau mau dibatasi, ya SMP, sebab kalau sarjana kok terlalu tinggi,” 
ujarnya lagi. 
  Maka dari itu, dia meminta Pemerintah supaya jangan hanya melihat sisi 
pendidikan formal. Karena selama ini pengalaman menunjukan banyak politisi yang 
tidak punya gelar formal cukup mampu menunjukkan kualitasnya dan tak kalah 
dengan para profesor atau doktor. “Sehingga jangan menyederhanakan persoalan 
semata-mata dilihat dari gelar,” katanya.
  Bahkan Sebastian khawatir jika standar itu diterapkan, praktek jual beli 
ijazah palsu akan semakin marak.“Kita lihat bahwa kasus ijazah palsu tidak 
hanya terjadi di DPR dan DPRD tetapi juga dalam beberapa kali Pilkada. Sekarang 
'kan tidak sulit untuk memperoleh ijazah, orang tidak perlu susah-susah belajar 
untuk itu,” dia menambahkan. 
  Pada kesempatan terpisah, Ketua Fraksi PAN DPR, Zulkifli Hasan juga kurang 
sependapat dengan syarat capres atau anggota dewan harus sarjana, terlebih jika 
dimaksdkan untuk menjegal capres tertentu.”Kalau seperti itu, kita tidak bisa 
memahami syarat tersebut, tapi sejauh ini kita belum melihat kecenderungan ke 
arah sana,” kata dia kepada pers. 
  Menurutnya, dalam berpolitik, sebenarnya bukan syarat pendidikan formal yang 
diutamakan, melainkan dukungan maupun kepercayaan yang diberikan masyarakat. 
Sebab tidak ada jaminan bahwa seseorang yang memiliki gelar akademis lantas 
bisa diterima oleh masyarakat. Oleh karenanya, pihaknya akan tetap melihat 
perkembangannya ke depan.
  
pur 
  

         


 
---------------------------------
Sucker-punch spam with award-winning protection.
 Try the free Yahoo! Mail Beta.

Kirim email ke