Memang seharusnyalah begitu, meskipun sering kali mereka yang mengaku militan memberikan cap 'KRISLAM' untuk Gus Dur. Jangan hanya gembar-gembor bahwa Islam itu ramatanlil'alamin, tetapi harus diikuti dengan kesejukan hati dan pikiran serta kelapangan nurani yang dilandasi kedalaman spiritualitas dalam menghadapi semua masalah seserius apapun. Yang sedikit-sedikit mengaku membela Islam tetapi justru melakukan kekerasan dan kebrutalan menurut saya memahami agama terlalu dangkal hanya sebatas stempel dan warna baju saja. Isu kristenisasi pun juga sebetulnya sering kali hanya diperruncing dan dipertajam untuk melegitimasi tindakan kekerasan dan membakar solidaritas atas dasar pemikiran yang sempit. Saya punya beberapa tetangga kristen dari beberapa 'aliran' (mereka mengistilahkan 'denominasi', ada HKBP, GPIB, Katholik, dll. biasanya dicantumkan pada papan nama Gereja) dan cukup akrab termasuk dalam hal membicarakan hal-hal lintas agama. Yang pasti saya ketahui dari hasil dialog dengan mereka secara serius bahwa untuk menjadi kristen tidak serta merta begitu saja bisa dibaptiskan, melainkan seseorang harus mengikuti pelajaran lebih dahulu dan untuk dibaptispun tidak serta merta atas kehendak Pastur atau Pendeta tetapi atas permintaan pribadi yang diucapkan sendiri tanpa paksaan. Itupun untuk selanjutnya seseorang itu bisa menjaga/mengimani terus menerus atau tidak juga tergantung pribadinya. Apabila pada suatu saat tertentu merasa tidak bisa mengikuti maka tidak ada yang bisa mencegah seseorang tersebut untuk meninggalkan kekristenannya. Hal yang sama bisa dan boleh terjadi juga sebaliknya, yang penting adalah bahwa seseorang itu pindah agama bukan karena alasan mencari keuntungan diri sendiri tetapi untuk mencari kebaikan dan memperbaiki diri sendiri. Sejauh seseorang ingin menjadi lebih baik (bukan menjadi lebih 'garang') mau pindah agama apapun seharusnya tidak soal, apalagi Indonesia adalah negara yang menjamin setiap penduduknya untuk menganut agama yang diyakininya, sekali lagi yang DIYAKININYA. Persoalannya adalah salahkan bila seseorang berubah keyakinannya ?? Selama masih banyak yang menganggap salah pada orang yang pindah keyakinan maka sia-sia harapan untuk meluruskan pemahaman agama.
Oleh sebab itu Gus Dur pernah mengatakan orang yang sedikit-sedikit gusar itu biasanya orang/kelompok orang yang minder. Selamat merebut Islam kembali. Wassalam. On 3/17/07, idakhouw <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Hallo Pak/Bu Buntaran, Saya sangat mendukung kalau ada gerakan "Mari Rebut Islam Kembali", ajakan yang pernah saya baca di sebuah milis. Saya paham terlukanya Muslim yang 'lurus' (kelompok2 anarkis itu sih Islamnya 'bengkok' :) menyaksikan Islam dicatut demikian rupa, umat terus2an dibikin addicted to conspiracy theories, dibikin paranoid melalui berbagai slogan seperti "Islam Under Attack", dll. Namun tanpa upaya aktif mencounternya, pembusukan dari dalam ini akan terus melenggang. Sejauh ini yang saya tahu baru kelompok Gus Dur yang tegas terang2an melakukan perlawanan. Saya yakin -suka atau tak suka pada Gus Dur- beliau melakukannya didorong kecintaannya yang dalam pada Islam. Sayang sekali kekuatan yang mendemonisasi kelompok Gus Dur lewat berbagai macam teori konspirasi, pelabelan seperti yg disingkat Sipilis itu demikian kuatnya. Saya pribadi tak begitu setuju anarkisme dijawab dengan anarkisme, mungkin harus dipikirkan jalan lain, pokoknya gerakan2 itu jangan diberi tempat sedikitpun. Selain karena mereka adalah piaraan orang2 kuat, saya pikir kelompok2 preman ini bisa hidup terus karena sedikit banyak masyarakat sekitar tempat kejadian 'memberi tempat' atau paling tidak melakukan pembiaran pada tindakan mereka (mungkin karena takut pada label Islam di dalamnya, mungkin juga karena ketidakpedulian karena yang jadi korban adalah umat agama lain atau tempat2 hiburan, atau mungkin malah ada yg diam2 mendukungnya walaupun tak ikut serta). Teman kita Aquino pernah menuliskan butir2 gagasannya di sini: kelompok Muslim 'lurus' turun ke tingkat akar rumput, merebut kembali warga yang sudah diracuni paham anarkis. Saya sendiri terpikir satu hal, misalnya warga sekitar TKP tampil menentang dengan mobilisasi tanda tangan (atau bentuk dukungan lain) anti gerakan anarkis tiap kali ada kejadian kekerasan yang dilakukan kelompok2 itu. Melalui tindakan2 itu kan, Insya Allah, akan nampak bahwa mereka bukan bagian dari Islam yang 'lurus'. Sementara menyangkut kristenisasi, Herry Permana (He-Man), anggota milis ini pernah berbagi cerita bagaimana melakukan counter dengan cara2 yang lebih beradab dan bisa. Salam, Ida Khouw --- In [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com>, "pbuntaran" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Saya sangat mendukung pembubaran organisasi PREMAN mengatas namakan > AGAMA!!! > > Mungkin bisa di tela'ah lebih dalam siapa orang yang menyetir dan > mendanai Organisasi PREMAN yang menamakan diri FPI, kalo tdk salah > salah satu preman profesional di kalangan pemerintahan ORDE Baru > (belum bisa dibuktikan sih,mungkin msh takut). Itu adalah salah satu > ide cemerlang bagi PREMAN PROFESIONAL dengan membentuk organisasi2 > preman kelas teri tersebut dengan mengatas namakan agama yaitu "FPI" > dan mengatas namakan rakyat yaitu "FBR", untuk kepentingan badan > usaha yang mereka geluti, karena urusan sweaping tempat2 hiburan dan > majalah porno adalah kedok saja, karena sekarang banyak badan2 usaha > pemerintah dan swasta dimintai jatah kerja oleh preman2 berorganisasi > tsb. Seperti jatah pembuangan limbah bahkan smp penempatan lahan. > > Saya seorang muslim bukan krn terlahir dr keluarga muslim, tp saya > memilih Agama saya berdasarkan hati nurani dan pembelajaran sekian > lama. Jadi kalau sewaktu2 saya di wajibkan bertempur melawan FPI dan > ortganisasi lain2nya yang merusak tatanan negara Indonesia, saya siap > & rela mati demi Negara saya. > > > --- In [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com>, "idakhouw" <idakhouw@> wrote: > > > > Tepat sekali Mbak Ani, kelompok2 spt FPI memang sudah benar2 mencoreng > > wajah Islam. > > Karenanya saya pikir umat Islam jangan terkecoh dengan label "Islam" > > dalam organisasi spt. FPI, tak perlu berbagi sentimen dengan mereka: > > artinya ketika banyak orang angkat suara menentang kelompok anarkis > > ini, janganlah merasa Islam yang sedang diserang. Sementara saya juga > > berharap kalangan yang menentang FPI tidak terjebak menjadi menyerang > > Islam. > > > > Organisasi2 preman seperti FPI harus juga dicounter oleh kalangan > > Muslim yang 'lurus'. Terus terang, terlalu berat bila non-Muslim yang > > melakukannya, sebab kelompok2 jahat itu akan mudah memobilisasi > > sentimen semacam ini: "non-Muslim menyerang Islam" dan strategi itu > > selalu berhasil, perhatikan saja yang terjadi di milis2: bahkan > > kalangan yang seharusnya bisa berpikir lebih kritispun mudah terkecoh > > dengan strategi sentimen agama semacam ini. > > > > Salam, > > Ida Khouw
