saya setuju dengan anda ibu Roslina, sebagai orang tua kita justru punya
kelebihan pengalaman dari anak-anak, yaitu "pengalaman menjadi anak" sedangkan
anak-anak belum punya "pengalamana sebagai ortu" maka sebagai orang yang
sudah pernah menjadi anak, kemudian menjadi orang tua, sebaiknya belajar untuk
memperbaiki / mengisi kekurangan yang kita alami waktu menjadi anak (baca
semua usia, khususnya remaja - dewasa yang menjadi pokok bahasan kita)
dibawah ini, saya copy kan artikel yang ditulis anak gadis saya, dimana
artikel ini dia tulis sebagai jawaban atau pendapatnya sebagai remaja/ dewasa
muda, waktu saya sebagai ibunya membicarakan dan merasa prihatin dgn
terbunuhnya seorang mahasiswi yang menuntut dinikahi pacarnya karena hamil.
artikel ini menarik karena ditulis oleh seorang remaja yang baru mulai dewasa
(20 thn) dan diterbitkan di koran Suara Pembaruan Minggu edisi 22 Agustus
2004. dan ada 1 artikel lagi yang ditulis adiknya usia (17 thn) saya lupa tgl
terbitnya di SPM, artikel yang menyuarakan pendapat seorang anak tentang film
"Buruan cium gue" yang dilarang beredar tayang. menarik membaca pendapat para
"anak"
Roslina Podico <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sebenarnya saya ngak mau berkomentar, maka e-mail itu saya delete, tapi
kemudian saya berpikir ada baiknya memberi komentar seperti subject ini.
Khusus bagi orangtua yg merasa khawatir ttg pertumbuhan para remajanya
akibat kehadiran Play Boy saya pikir anda-anda adalah orangtua yg belum
siap menjadi orangtua.
Saat Rawan Menuju Dewasa
Artikel ini terbitkan SPM tgl: 22 Agst 2004
disumbangkan untuk buku ke 5 mamaku ,
dari aku anakmu, Imelda Ganie Hendranata
Rentang waktu antara Remaja menuju dewasa muda adalah saat saat rawan,
dimana seorang anak yang biasanya terlindung dibalik pundak Ayah atau Ibunya
mulai ingin diakui sebagai seseorang
,masa inilah yang disebut orang sebagai
Pencarian Jati Diri.
Remaja mulai Show Off, ingin menunjukan kepada Dunia kalau dirinya Ada
hal ini berakibat fatal apabila para orang tua kurang-kurang mendekatkan diri
dengan seorang anak pada saat mereka kanak-kanak dan remaja, inilah yang
sering kita sebut sebagai Anak Kurang Perhatian. Mereka biasanya akan
mencari perhatian diluar rumah, mereka akan mulai mencoba Dunia baru yang bisa
mereka jajaki dan mereka anggap hebat contohnya, mereka akan mulai merokok,
rokok akan menarik bagi mereka karena mereka anggap bahwa rokok merupakan
gerbang kedewasaan, karena biasanya orang tua yang merokok melarang anaknya
merokok dengan dalih kalau rokok hanya boleh untuk orang dewasa. Maka anak
akan merasa sudah dianggap dewasa, jika mulai merokok.
Contoh lainnya, jangan kaget jika suatu hari mobil anda pulang malam dalam
keadaan rusak berat padahal supir pribadi anda sangat handal dan berhati-hati
dalam mengemudi, dan setelah diselidiki ternyata anak anda yang baru duduk di
bangku SLTP itu menjadi biang keladinya. Usut punya usut ternyata setiap malam
ketika anda sedang dinas diluar kota anak anda memaksa sang sopir untuk
mengajarinya mengemudi, mengapa? Karena bagi anak di usia remaja yang ingin
mencoba segalanya dan berkeinginan segera dianggap dewasa beranggapan bahwa
dapat mengemudi di usianya adalah hal luar biasa karena pada umumnya anak-anak
seusianya belum boleh mengemudi karena SIM baru dapat dimiliki bagi yang telah
berusia 17 tahun.
Hal menggoda lainnya adalah minuman beralkohol. Di Indonesia minuman
beralkohol yang resmi (legal) dapat diperoleh setelah seseorang berusia 17
tahun, tetapi ada beberapa peraturan contohnya di beberapa negara bagian di
Amerika Serikat, seseorang baru diperbolehkan mengkonsumsi minuman beralkohol
bila telah berusia 21 tahun, karena dengan usia dewasa anda dianggap telah
dapat mempertimbangkan dan bertanggung jawab atas diri anda pribadi dan apa
yang anda lakukan. Maka diam-diam anak yang ingin segera dianggap dewasa, akan
mengkonsumsi minuman beralkohol, dengan akibat yang tidak diperhitungkan,
jangan heran dalam keadaan mabuk, anak menjadi seorang pemerkosa temannya
sendiri dan berbagai tingkah laku negatif lainnya yang diperbuat tanpa
kesadaran karena diperngaruhi alkohol.
Baik rokok maupun minuman keras akan membawa putra putri kita mencicipi hal
baru yaitu obat terlarang, yang entah bagaimana semakin mudah ditemukan dan
didapat walaupun pemerintah dan aparat hukum begitu gencar memeranginya. Maka
saat inilah peran orang tua harus lebih mendekati diri pada anak-anaknya,
jangan lepaskan perhatian anda padanya, tapi jangan mengekang langkah anak
untuk menuju dewasa! Anak yang merasa terkekang, akan menjadi seekor kuda liar
yang terlepas dari kandang, jika kesempatan didapat. Maka disinilah saatnya
pendekatan yang butuh tak-tik menuju keakraban dan pengertian yang perlu
dilaksanakan.
Satu hal lagi yang tak kalah pentingnya untuk dibahas karena tak akan
mungkin lepas dari masalah remaja adalah masalah seksualitas. Seperti telah
kita ketahui bahwa pada usia 12 tahun (wanita) dan usia 14 tahun (bagi pria),
organ-organ reproduksi beserta hormon-hormonnya mulai berkembang. Hal ini
memberikan sensasi baru bagi putra-putri anda yaitu keinginan seksual.
Disinilah kelemahan budaya kita, sebagai orang timur masih banyak orangtua
yang enggan memberikan informasi-informasi yang menyangkut masalah seksualitas
karena menganggap hal tersebut masih tabu untuk didengar oleh anak usia
remaja. Hal ini yang mendorong anak remaja mencari akses informasi lain. Oleh
karena itu tidak jarang orang tua malah memarahi anaknya yang bertanya
mengenai masalah seksualitas ini. Padahal disini peran orang tua sangatlah
penting karena perlu kita melihat bahwa keingintahuan seorang anak sangatlah
besar, maka jika kita sebagai orang tua tidak membekali mereka dengan
informasi yang benar mereka (kaum remaja) akan mencari akses informasi dengan
jalurnya sendiri, tentu saja zaman sekarang teknologi demikian maju, akses
untuk mendapatkan informasi melalui situs-situs porno di internet,
majalah-majalah dan video-video pornografi, bahkan sekarang telepon genggampun
bisa menjadi sarana penyebaran pornografi tersebut, dan daya tariknya sangat
ampuh.
Nah
dapat kita bayangkan bagaimana akibatnya bagi putra-putri anda,
hidupnya dipenuhi hal-hal yang sebenarnya belum waktunya untuk dikonsumsi oleh
jiwa mereka yang masih labil.
Maka sebagai orang tua, tentu saja kita menginginkan mempunyai anak-anak
yang baik, dan menjadi kebanggaan orang tua. Kita tidak menginginkan kegagalan
dalam perkembangan remaja anak-anak, Maka suatu kewajiban bagi anda sebagai
orang tua untuk memberikan bekal informasi yang benar, juga membekali mereka
dengan pendidikan moral dan agama agar terbentuk menjadi manusia yang
berakhlak dan berbudi luhur selain berilmu tinggi, karena keduanya tidak dapat
terlepaskan.
Kita melihat, nasihat Albert Einstein (1879-1955) sebagai berikut: Religion
without science, is lame, Science without religion is blind. (Agama tanpa
ilmu pengetahuan akan timpang, Ilmu pengetahuan tanpa agama, akan buta) maka
penting bagi kita orang tua membekali puta-putri dengan akhlak yang baik,
karena dengan pengetahuan dan ilmu yang tinggi, seseorang bisa menjadi manusia
jenius tetapi jika mempunyai aklhlak yang rendah jadilah dia seorang Amrosi,
Hitler ataupun tokoh lainnya yang setipe.
Saat ini banyak orang tua, yang mendidik anak hanya berdasarkan pengolahan
memberdayakan kecerdasan otak yang optimal, maka anak-anak yang terdidik
demikian, menjadi sosok yang condong asosial, pergaulan mereka hanya terbatas
pada teman-teman yang selevel, tidak membaur untuk juga mendapat masukan bagi
kecerdasan spiritualnya. Dan kecerdasan emosinya tidak berkembang dengan
seimbang, maka jika mendapat masalah (tekanan) dalam melaksanakan perjalanan
hidupnya dari anak menuju dewasa, mereka condong mudah patah, dan sulit untuk
bangkit kembali. Sebaiknya, anak-anak mendapat latihan dalam menghadapi cuaca
kehidupan mereka dibiarkan berkembang dengan seimbang.
Sedangkan anak yang dilindungi, dijaga seperti benda kristal, yang mudah
pecah, sehingga butuh pengamanan sekuat mungkin, menjadi anak yang tidak tahu
dunia luar, menjadi seseorang yang terlalu steril akan mudah terjangkit /
tertular penyakit karena inum sistimnya tidak terasah. Maka pertahanan dirinya
tidak kuat, begitu perlindungan (baca pemgawasan orang tua) mengendur sedikit
saja, dan kemasukan pergaulan yang negatif, sang anak akan mudah terpengaruh
dan sulit untuk mempertahankan dirinya. Tapi anak-anak yang terlatih dengan
cuaca kehidupan, diberi kepercayaan dan dibekali dengan informasi tentang yang
baik dan buruk, serta yang boleh dan terlarang untuk dirinya, dia akan
mempunyai kendali yang lebih baik untuk memilah dan menentukan apa yang akan
mereka hadapi.
Anak-anak yang dibiasakan bergaul akrab dengan orang tuanya, dan sikap
demokrasi yang ditanamkan (memberi kesempatan dan menghargai pendapatnya) maka
akan menjadi anak yang bisa diberi kepercayaan, orang tua yang mempunyai
kepercayaan bahwa naka-anak mereka akan berlaku yang seharusnya, tahu yang
mana harus mereka jalankan, walaupun disekelilingnya banyak anak-nak yang
lepas kendali, dan menjadi contoh yang buruk, maka mempunyai kelegaan
tersendiri dalam membesarkan anak-anak menuju remaja dewasa. Percayalah mam..!
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com