Dear rekan-rekan, Belakangan ini saya menyaksikan Liputan 6 SCTV begitu berlebihan dalam menayangkan kasus kekerasan di IPDN. Memang betul, IPDN meminta korban lagi. Namun cara SCTV menyajikan berita terkesan berlebih-lebihan. Sebelum berita di mulai, gambar-gambar pemukulan sudah terlebih dahulu disuguhkan kepada publik. Tidak ada penjelasan atau teks yang memberi informasi kapan cuplikan gambar itu diambil. Publik secara tidak sadar akan mengasumsikan, apa yang mereka lihat di layar kaca itu sebagai peristiwa yang baru saja terjadi. Belakangan ketahuan bahwa cuplikan gambar itu diambil ketika IPDN masih bernama STPDN.
Saya dapat memahami SCTV melakukan itu untuk menekankan batapa pentingnya masalah kekerasan di IPDN segera dituntaskan segera. Namun selayaknya itu dilakukan dengan cara yang proporsional. Ketika sebuah peristiwa atau issu telah diangkat sebagai berita, sesungguhnya publik sudah mengetahui bahwa hal tersebut dianggap penting oleh media. Tidak perlu didramatisir hingga berulang berkali-kali dalam beberapa hari. Bahkan dalam sebuah waktu penayangan berita, topik itu di sajikan di awal, kemudian dimunculkan lagi di tengah berita. Dengan gambar yang sama dan tanpa penjelasan waktu pengambilannya. Berita yang tidak proporsional adalah bentuk "kekerasan" lain yang dilakukan media. Ini diparparah dengan gaya narasi berita yang begitu provokatif. Saya kemudian menjadi bingung untuk mengkategorikannya sebagai sebuah berita. Mungkin lebih tepat disebut sebagai sebuah propaganda. Rekan-rekan, mungkin saya salah. Tetapi itulah pendapat saya. Salam, Aswan Zanynu
