Mungkin SCTV kesal atau gemes terhadap binatang bernama IPDN itu
Sudah diganti nama dari STPDN menjadi IPDN tapi tabiatnya sama

Ini bisa menjadi sentilan keras kepada pejabat Depdagri yang selama ini
bertembok dan
bermuka tebal terhadap anak asuhnya itu. Depdagri hanya jadi sarang
penyamun, kata seorang
rekan jurnalis.

Saya usulkan, pindah saja STPDN ke Jawa Tengah atau Yogyakarta
Di sana tak ada budaya plonco di kampus dengan kekerasan, hanya plonco hura2
Beda dengan kampus2 di Bandung
Taruhan, di kota ini paling banyak mahasiswanya mati konyol akibat plonco

Kalau ada yang main plonco tak bermutu seperti itu
Saya yakin warga setempat di Jawa Tengah akan rela membakar kampus itu
Para Seniornya juga tak akan nyaman karena sewaktu-waktu bisa dikeroyok oleh
teman-teman yunior ketika plesiran keluar kampus.
Matilah kau !!

Plonco tak akan berhenti ketika para yunior mati satu persatu
Plonco baru akan berhenti ketika Seniornya mati dibunuh Yunior yang kesal
diplonco sama seniornya.
Generasi berikutnya akan sadar, mereka berhak melakukan perlawanan terhadap
tindak pembodohan
seperti itu.

Lawan !!



On 4/8/07, Aswan Zanynu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  Dear rekan-rekan,

Belakangan ini saya menyaksikan Liputan 6 SCTV begitu berlebihan dalam
menayangkan kasus kekerasan di IPDN. Memang betul, IPDN meminta korban lagi.
Namun cara SCTV menyajikan berita terkesan berlebih-lebihan. Sebelum berita
di mulai, gambar-gambar pemukulan sudah terlebih dahulu disuguhkan kepada
publik. Tidak ada penjelasan atau teks yang memberi informasi kapan cuplikan
gambar itu diambil. Publik secara tidak sadar akan mengasumsikan, apa yang
mereka lihat di layar kaca itu sebagai peristiwa yang baru saja terjadi.
Belakangan ketahuan bahwa cuplikan gambar itu diambil ketika IPDN masih
bernama STPDN.

Saya dapat memahami SCTV melakukan itu untuk menekankan batapa pentingnya
masalah kekerasan di IPDN segera dituntaskan segera. Namun selayaknya itu
dilakukan dengan cara yang proporsional. Ketika sebuah peristiwa atau issu
telah diangkat sebagai berita, sesungguhnya publik sudah mengetahui bahwa
hal tersebut dianggap penting oleh media. Tidak perlu didramatisir hingga
berulang berkali-kali dalam beberapa hari. Bahkan dalam sebuah waktu
penayangan berita, topik itu di sajikan di awal, kemudian dimunculkan lagi
di tengah berita. Dengan gambar yang sama dan tanpa penjelasan waktu
pengambilannya.

Berita yang tidak proporsional adalah bentuk "kekerasan" lain yang
dilakukan media. Ini diparparah dengan gaya narasi berita yang begitu
provokatif. Saya kemudian menjadi bingung untuk mengkategorikannya sebagai
sebuah berita. Mungkin lebih tepat disebut sebagai sebuah propaganda.

Rekan-rekan, mungkin saya salah. Tetapi itulah pendapat saya.

Salam,

Aswan Zanynu




--


Rahmad Budi H
Republika
Jl Warung Buncit Raya 37 Jaksel
0856 711 2387

Kirim email ke