--- In [email protected], dinda karina <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>    
>   saya sendiri sebenarnya juga tidak setuju jika harus menutup habis
IPDN, ibaratnya seperti orang sakit kepala dan mengobatinya dengan
cara menghacurkan kepalanya itu sendiri, padahal masih ada cara untuk
hanya menghilangkan rasa sakit di kepalanya. 
>    

Mbak dinda, (eh jadinya mba atau adik ya? hehehe)

bener pendapat anda, iff (if and only if) kita yakin bahwa IPDN itu
adalah kepala.
Jangan2 IPDN itu cuma bangku teras yang sudah lapuk dan membahayakan
tamu yang duduk tapi harga perawatannya mahal. Sedangkan diluar sana
banyak yang jualan bangku lebih kuat dan murah.

do we really need IPDN?

menurut rektornya: pendidikan di luar IPDN (univ) itu gagal. Cuma IPDN
yang bagus... 

menurut saya rektor ini pelawak...

banyak kisah mau masuk IPDN mesti nyogok.
banyak kisah rakyat dipalakin lurah dan camat (alumni yang sukses?)
in short: apakah pelayanan dan kinerja depdagri jadi lebih bagus dg
adanya lulusan IPDN ini?

>   well, we all have the same right to speak thou...
>    

setuju. boleh sepakat untuk tidak sepakat.

salam,

fau



Kirim email ke