Pekan lalu, di milis ini ada yang memuji setinggi langit
tentang film Kala-nya Joko ANwar. Saya apreciate
banget, karena sang sutradara tampil meyakinkan di
film pertamanya, Janji Joni. Saya coba buka
website-nya, siapa tahu ada. Eh, nggak ada ternyata.
Saya nonton sama anak dan istri, saya yakinkan ini
film bagus, generasi masyarakat film indonesia
terkini.

Scene demi scene kunikmati. Yahud, gambarnya oke,
pencahayaannya ehm, editing, special effect boleh.
Pada tengah durasi, baru terasa memblenya. Pemainnya
cannggung, adegan-adegannya "imitatif" dan kamuflase
semua.

Ini film dibuat berdasarkan nonton film. Artinya,
sutradara sudah kebanyakan nonton film (Hollywood,
terutama). Jadi, adegan-adegan kayak filmnya Francis
Ford Coppola jago banget. Tapi soulnya, aduh aku malu.
Adegan scene kiss antara Fachri dan Shanti, kelihatan
sok agresif tapi masng-masing kayak "ogah" total.
Fachri terjun dari atas gedung disertai kepak sayap
kelelawar, lazim di film-fil suspens Barat. 

Maunya nngomong sejarah, kok jatuhnya Xena. Wah, wah,
wah, sayang. Sutradara sehebat Joko ANwar dibiarkan
"liar" dengan gagasannya." Maklum anak muda. Mungkin
janji Joni akan seperti itu kalau bukan di bawah
naungan Kalyana Shira Film. Nia Dinata pasti nggak
akan memberi cek kosong ke Joko Anwar, kalau tak ingin
tekor. 

Di kotaku, film Kala cuma ditonton nggak lebih 15
orang tiap show-nya entah sampai hari ke berapa. Dio
sampingnya, film nagabonar Jadi 2 malah masih antre
menolak penonton.

Sayang Mas Joko, bakat Anda mesti digabung dengan yang
lain. Misalnya, skenario dan pengkastingan nggak mesti
diborong semua. Gambarmu sudah bagus lho, tapi plotnya
nggak cuma jelek. Tapi jueleeek banget.


htm

Kirim email ke