"Artinya, tersiratlah Joko yang MFI dan tokoh Arswendi
Nasution yang Jero Wacik.Dalam karya fiksi, ada
imbauan:"Boleh mengarang, tapi jangan menjahati."
Artinya, nnggak boleh sesuka hati kita masukin tokoh
yang benar-benar ada (real), tapi ditampilkan dengan
menghakimi."

Hal beginian menjadi alasan anda bilang film ini nggak
bagus? Apa urusannya sama estetika? Anda kok kayak
salah satu juri FFI aja yang bilang alasan film Lentera
Merah gak bisa ikutan dinilai FFI karena sejarahnya
salah?

Yang anda sebut itu bisa jadi masalah hukum, gak usahlah
mengganggu kenikmatan menonton anda. Kalau memang
merasa dirugikan, Jero Wacik tinggal menuntut film itu
(prouser, sutradaranya, bahkan make up artist-nya kalau
dia gak suka bagaimana sosoknya ditampilkan) ke
pengadilan, dan biar majelis hakim menentukan apa benar
film itu merusak nama baiknya.

Oh iya, anak anda sudah berusia 17 tahun-kah?


On 4/25/07, Handry Utomo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  Saya apresiate dengan genre baru film dunia. Gagasan
emang mesti menjelajah, dan Joko telah berani. Saya
yang nggak bisa tangkap itu pilihannya. Absurditas,
fantasi atau realisme? Dalam lukisan aja, pelukis yang
ujug-ujug ngelukis abstrak mesti diragukan. Siapa sih
meragukan Joko Anwar? Apalagi latar belakangnya
jurnalis (tau dong, aku juga jurnalis). Sy bilang,
gambarnya oke banget nggak ada yang nyalahin. Tapi
tertangkap nggak, Joko penginnya bicara banyak hal.
Pengin nunjukin kalau dia pinter segalanya. Ya
politik, sejarah. Dan ini yang perlu didiskusikan.
Pemunculan tokoh Menteri Pariwisata dan Budaya
(Arswendi Nasution) saya yakin tidak muncul
sekonyong-konyong. Ada kaitannya dengan ketidakpuasan
kinerja Menbudpar kita (Jero Wacik) terhadap perfilman
nasional. Artinya, tersiratlah Joko yang MFI dan tokoh
Arswendi Nasution yang Jero Wacik.
Dalam karya fiksi, ada imbauan:"Boleh mengarang, tapi
jangan menjahati." Artinya, nnggak boleh sesuka hati
kita masukin tokoh yang benar-benar ada (real), tapi
ditampilkan dengan menghakimi. Itu cuma imbauan, jadi
sebenarnya seni itu bebas saja. Monggo saja. Suku saya
bilang, "Ngono ya ngono, neng aja ngono!"
Jadi, ijinkanlah saya masih terbingung-bingung hingga
sekarang. Sutradara sehebat Joko Anwar kok mau-maunya
terjebak kampanye sebuah gerakan aliran (film) yang
justru tidak mengangkat lebih tinggi dirinya. Jangan
marqah lho, ini kritik yang justrui akan membuat sang
sutradara menjadi besar. Saya sebagai penonton boleh
dong bersuara, karena saya juga dengan sukarela dan
berharap dengan sukacita membayar karcis di bisokop
yang lokasinya 20 km dari rumah tinggal saya.
Anak-anakku bilang,"Tuh, katanya film bagus.
Manaa...manaaa...?" Aku mesti berkelit dengan cara
apa?

htm
--- anton kusnanto <[EMAIL PROTECTED] <an_kusnanto%40yahoo.co.id>>
wrote:

> tapi mas Handry Utomo....
> si Xena dan sebagainya itukan cuma interpretasi,
> alias kebenaran
> menurut pikirannya hendro (agus melas). yang namanya
> pikiran yo ga bs
> dibendung dong, sah2 aja hendro punya pikiran akan
> kebenaran sprt
> itu. tp, kenyataan sebenrnya bs jd bkn sprt itu...
> nah kl aku tangkep, itulah yg jd poin dlm film yg
> rencananya trilogi
> ini : kebenaran yg ditampilkan di film pertama
> (KALA) dari kacamata
> hendro ini blm tentu adalah kenyataan yg ada.
> so... kenyataannya gmn dong? ya kita tunggu lah
> sekuel-nya...
>
> secara keseluruhan, aku suka film ini
> beda ma film indo kebanyakan. kl selama ini film
> kita msh sebatas
> memotret realita (alias menangkap kenyataan hidup yg
> ada ke dalam
> sebuah film), tp film ini dgn berani 'menciptakan'
> cerita dan tokoh..
> tidak hanya itu, cerita dan plot yg dihadirkan bs
> memlintir pikiran
> penonton dan membiarkan imajinasi penonton menjadi
> liar..
>
> bukankah film tidak melulu hrs sesuai dg logika
> berfikir kita? kl
> diluar ada LOTR, kenapa di indonesia tidak dimulai
> dgn KALA?
> dan sebagai sebuah permulaan akan genre baru ini di
> indonesia, joko
> anwar menghadirkannya dgn sangat halus, mulai dari
> ceritanya yg tetap
> dibiarkan 'membumi' dg kondisi yg ada di sekitar
> kita sampai
> minimalisasi sp.efect (mungkin krn kebentur budget
> jg...)
>
> dan kalau filmaker kita sdh mencoba memulai
> berkreasi dg genre baru
> ini, kenapa kita sebagai penonton-film-indo tidak
> pula mencoba
> merubah mindset kita dlm menikmati film indo. kita
> tdk usah
> mempedulikan logika berfikir atau apalah. namanya
> juga dunia buatan,
> murni khayalan...
> santai aja, dan nikmati..
>
>
>
>
>
> --- In [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com>, Handry
Utomo
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Pekan lalu, di milis ini ada yang memuji setinggi
> langit
> > tentang film Kala-nya Joko ANwar. Saya apreciate
> > banget, karena sang sutradara tampil meyakinkan di
> > film pertamanya, Janji Joni. Saya coba buka
> > website-nya, siapa tahu ada. Eh, nggak ada
> ternyata.
> > Saya nonton sama anak dan istri, saya yakinkan ini
> > film bagus, generasi masyarakat film indonesia
> > terkini.
> >
> > Scene demi scene kunikmati. Yahud, gambarnya oke,
> > pencahayaannya ehm, editing, special effect boleh.
> > Pada tengah durasi, baru terasa memblenya.
> Pemainnya
> > cannggung, adegan-adegannya "imitatif" dan
> kamuflase
> > semua.
> >
> > Ini film dibuat berdasarkan nonton film. Artinya,
> > sutradara sudah kebanyakan nonton film (Hollywood,
> > terutama). Jadi, adegan-adegan kayak filmnya
> Francis
> > Ford Coppola jago banget. Tapi soulnya, aduh aku
> malu.
> > Adegan scene kiss antara Fachri dan Shanti,
> kelihatan
> > sok agresif tapi masng-masing kayak "ogah" total.
> > Fachri terjun dari atas gedung disertai kepak
> sayap
> > kelelawar, lazim di film-fil suspens Barat.
> >
> > Maunya nngomong sejarah, kok jatuhnya Xena. Wah,
> wah,
> > wah, sayang. Sutradara sehebat Joko ANwar
> dibiarkan
> > "liar" dengan gagasannya." Maklum anak muda.
> Mungkin
> > janji Joni akan seperti itu kalau bukan di bawah
> > naungan Kalyana Shira Film. Nia Dinata pasti nggak
> > akan memberi cek kosong ke Joko Anwar, kalau tak
> ingin
> > tekor.
> >
> > Di kotaku, film Kala cuma ditonton nggak lebih 15
> > orang tiap show-nya entah sampai hari ke berapa.
> Dio
> > sampingnya, film nagabonar Jadi 2 malah masih
> antre
> > menolak penonton.
> >
> > Sayang Mas Joko, bakat Anda mesti digabung dengan
> yang
> > lain. Misalnya, skenario dan pengkastingan nggak
> mesti
> > diborong semua. Gambarmu sudah bagus lho, tapi
> plotnya
> > nggak cuma jelek. Tapi jueleeek banget.
> >
> >
> > htm
> >
>
>
>

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com



Kirim email ke