tapi mas Handry Utomo.... si Xena dan sebagainya itukan cuma interpretasi, alias kebenaran menurut pikirannya hendro (agus melas). yang namanya pikiran yo ga bs dibendung dong, sah2 aja hendro punya pikiran akan kebenaran sprt itu. tp, kenyataan sebenrnya bs jd bkn sprt itu... nah kl aku tangkep, itulah yg jd poin dlm film yg rencananya trilogi ini : kebenaran yg ditampilkan di film pertama (KALA) dari kacamata hendro ini blm tentu adalah kenyataan yg ada. so... kenyataannya gmn dong? ya kita tunggu lah sekuel-nya...
secara keseluruhan, aku suka film ini beda ma film indo kebanyakan. kl selama ini film kita msh sebatas memotret realita (alias menangkap kenyataan hidup yg ada ke dalam sebuah film), tp film ini dgn berani 'menciptakan' cerita dan tokoh.. tidak hanya itu, cerita dan plot yg dihadirkan bs memlintir pikiran penonton dan membiarkan imajinasi penonton menjadi liar.. bukankah film tidak melulu hrs sesuai dg logika berfikir kita? kl diluar ada LOTR, kenapa di indonesia tidak dimulai dgn KALA? dan sebagai sebuah permulaan akan genre baru ini di indonesia, joko anwar menghadirkannya dgn sangat halus, mulai dari ceritanya yg tetap dibiarkan 'membumi' dg kondisi yg ada di sekitar kita sampai minimalisasi sp.efect (mungkin krn kebentur budget jg...) dan kalau filmaker kita sdh mencoba memulai berkreasi dg genre baru ini, kenapa kita sebagai penonton-film-indo tidak pula mencoba merubah mindset kita dlm menikmati film indo. kita tdk usah mempedulikan logika berfikir atau apalah. namanya juga dunia buatan, murni khayalan... santai aja, dan nikmati.. --- In [email protected], Handry Utomo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pekan lalu, di milis ini ada yang memuji setinggi langit > tentang film Kala-nya Joko ANwar. Saya apreciate > banget, karena sang sutradara tampil meyakinkan di > film pertamanya, Janji Joni. Saya coba buka > website-nya, siapa tahu ada. Eh, nggak ada ternyata. > Saya nonton sama anak dan istri, saya yakinkan ini > film bagus, generasi masyarakat film indonesia > terkini. > > Scene demi scene kunikmati. Yahud, gambarnya oke, > pencahayaannya ehm, editing, special effect boleh. > Pada tengah durasi, baru terasa memblenya. Pemainnya > cannggung, adegan-adegannya "imitatif" dan kamuflase > semua. > > Ini film dibuat berdasarkan nonton film. Artinya, > sutradara sudah kebanyakan nonton film (Hollywood, > terutama). Jadi, adegan-adegan kayak filmnya Francis > Ford Coppola jago banget. Tapi soulnya, aduh aku malu. > Adegan scene kiss antara Fachri dan Shanti, kelihatan > sok agresif tapi masng-masing kayak "ogah" total. > Fachri terjun dari atas gedung disertai kepak sayap > kelelawar, lazim di film-fil suspens Barat. > > Maunya nngomong sejarah, kok jatuhnya Xena. Wah, wah, > wah, sayang. Sutradara sehebat Joko ANwar dibiarkan > "liar" dengan gagasannya." Maklum anak muda. Mungkin > janji Joni akan seperti itu kalau bukan di bawah > naungan Kalyana Shira Film. Nia Dinata pasti nggak > akan memberi cek kosong ke Joko Anwar, kalau tak ingin > tekor. > > Di kotaku, film Kala cuma ditonton nggak lebih 15 > orang tiap show-nya entah sampai hari ke berapa. Dio > sampingnya, film nagabonar Jadi 2 malah masih antre > menolak penonton. > > Sayang Mas Joko, bakat Anda mesti digabung dengan yang > lain. Misalnya, skenario dan pengkastingan nggak mesti > diborong semua. Gambarmu sudah bagus lho, tapi plotnya > nggak cuma jelek. Tapi jueleeek banget. > > > htm >
