Handry Utomo <[EMAIL PROTECTED]>    to mediacare
Ha ha ha, ampun-ampun.
Apa urusannya dengan 17 tahun, selagi gedung bioskop
membuka lebar-lebar siapa aja asal bayar. Ampuun,
ampuun, generasi baru lagi marah nih.

saya to mediacare:

Waduh, bukan marah Oom,

Saya gak akan bawa-bawa kepedulian orang tua kepada
perkembangan moral anak yang dibiarkan menonton adegan-
adegan yang belum siap dia saksikan, bodo amat dengan
konsep pendidikan yang anda anut bagi keluarga anda
sendiri.

Serius nih Oom nanya apa urusannya? Masa gak kepikir?

Yang saya khawatirkan adalah hak penonton lain. Sikap
penonton seperti anda ini yang akan menjadi legitimasi bagi
lembaga-lembaga yang mendukung sensor untuk segala hal
yang mereka anggap tidak sesuai dengan keinginan mereka.
Tukul sun-sunan sama bintang tamu pun sudah mau dilarang,
alasannya apa? Moral anak muda dan anak-anak. Karena
semua orang punya akses menonton adegan-adegan itu.
Anak-anak dibiarkan orang tuanya menonton film orang
dewasa, tidak adanya pengawasan apa yang bisa diakses
anak dari video rental dan bioskop, ini semua dijadikan alasan
paling utama, walau tujuan sebenarnya bisa kita lihat adalah
membuat penonton dewasa pun tidak bisa mengakses hal-hal
yang sudah sepantasnya mereka tonton.

Jalan keluarnya simpel, oom, taati batas usia menonton, dan
kelompok semacam itu akan menghadapi argumen bahwa yang
diperlukan bukan lembaga sensor yang tugasnya memotong film
bagi semua usia penonton, tapi lembaga klasifikasi film yang
bertugas menentukan penggolongan usia penonton yang pantas
bagi setiap film. tentunya semua pihak harus ikut berdisiplin
mentaati pembatasan usia ini, termasuk bioskop dan rental
video. Mustahil? Nggak ada yang mustahil di dunia ini, Suharto
aja bisa jatuh.

Dan kalau anda ikut mentaati batas usia penonton, ada bonus
lho buat kesehatan perkembangan jiwa anak anda. Eh, tadi
saya bilang bodo amat ya sama cara anda mendidik keluarga?
Ternyata saya peduli juga, bukan pada cara anda sih, tapi
pada akibatnya sama anak anda. Kaciaan deh dia, punya
bapak kayak andaa...  :)

salam,
t


On 4/25/07, Handry Utomo <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  Ha ha ha, ampun-ampun.
Apa urusannya dengan 17 tahun, selagi gedung bioskop
membuka lebar-lebar siapa aja asal bayar. Ampuun,
ampuun, generasi baru lagi marah nih.

--- tito imanda <[EMAIL PROTECTED] <imanda%40gmail.com>> wrote:

> "Artinya, tersiratlah Joko yang MFI dan tokoh
> Arswendi
> Nasution yang Jero Wacik.Dalam karya fiksi, ada
> imbauan:"Boleh mengarang, tapi jangan menjahati."
> Artinya, nnggak boleh sesuka hati kita masukin tokoh
> yang benar-benar ada (real), tapi ditampilkan dengan
> menghakimi."
>
> Hal beginian menjadi alasan anda bilang film ini
> nggak
> bagus? Apa urusannya sama estetika? Anda kok kayak
> salah satu juri FFI aja yang bilang alasan film
> Lentera
> Merah gak bisa ikutan dinilai FFI karena sejarahnya
> salah?
>
> Yang anda sebut itu bisa jadi masalah hukum, gak
> usahlah
> mengganggu kenikmatan menonton anda. Kalau memang
> merasa dirugikan, Jero Wacik tinggal menuntut film
> itu
> (prouser, sutradaranya, bahkan make up artist-nya
> kalau
> dia gak suka bagaimana sosoknya ditampilkan) ke
> pengadilan, dan biar majelis hakim menentukan apa
> benar
> film itu merusak nama baiknya.
>
> Oh iya, anak anda sudah berusia 17 tahun-kah?
>
>
> On 4/25/07, Handry Utomo <[EMAIL PROTECTED] <handrytm%40yahoo.com>>
wrote:
> >
> > Saya apresiate dengan genre baru film dunia.
> Gagasan
> > emang mesti menjelajah, dan Joko telah berani.
> Saya
> > yang nggak bisa tangkap itu pilihannya.
> Absurditas,
> > fantasi atau realisme? Dalam lukisan aja, pelukis
> yang
> > ujug-ujug ngelukis abstrak mesti diragukan. Siapa
> sih
> > meragukan Joko Anwar? Apalagi latar belakangnya
> > jurnalis (tau dong, aku juga jurnalis). Sy bilang,
> > gambarnya oke banget nggak ada yang nyalahin. Tapi
> > tertangkap nggak, Joko penginnya bicara banyak
> hal.
> > Pengin nunjukin kalau dia pinter segalanya. Ya
> > politik, sejarah. Dan ini yang perlu didiskusikan.
> > Pemunculan tokoh Menteri Pariwisata dan Budaya
> > (Arswendi Nasution) saya yakin tidak muncul
> > sekonyong-konyong. Ada kaitannya dengan
> ketidakpuasan
> > kinerja Menbudpar kita (Jero Wacik) terhadap
> perfilman
> > nasional. Artinya, tersiratlah Joko yang MFI dan
> tokoh
> > Arswendi Nasution yang Jero Wacik.
> > Dalam karya fiksi, ada imbauan:"Boleh mengarang,
> tapi
> > jangan menjahati." Artinya, nnggak boleh sesuka
> hati
> > kita masukin tokoh yang benar-benar ada (real),
> tapi
> > ditampilkan dengan menghakimi. Itu cuma imbauan,
> jadi
> > sebenarnya seni itu bebas saja. Monggo saja. Suku
> saya
> > bilang, "Ngono ya ngono, neng aja ngono!"
> > Jadi, ijinkanlah saya masih terbingung-bingung
> hingga
> > sekarang. Sutradara sehebat Joko Anwar kok
> mau-maunya
> > terjebak kampanye sebuah gerakan aliran (film)
> yang
> > justru tidak mengangkat lebih tinggi dirinya.
> Jangan
> > marqah lho, ini kritik yang justrui akan membuat
> sang
> > sutradara menjadi besar. Saya sebagai penonton
> boleh
> > dong bersuara, karena saya juga dengan sukarela
> dan
> > berharap dengan sukacita membayar karcis di
> bisokop
> > yang lokasinya 20 km dari rumah tinggal saya.
> > Anak-anakku bilang,"Tuh, katanya film bagus.
> > Manaa...manaaa...?" Aku mesti berkelit dengan cara
> > apa?
> >
> > htm
> > --- anton kusnanto <[EMAIL PROTECTED]<an_kusnanto%40yahoo.co.id>
> <an_kusnanto%40yahoo.co.id>>
> > wrote:
> >
> > > tapi mas Handry Utomo....
> > > si Xena dan sebagainya itukan cuma interpretasi,
> > > alias kebenaran
> > > menurut pikirannya hendro (agus melas). yang
> namanya
> > > pikiran yo ga bs
> > > dibendung dong, sah2 aja hendro punya pikiran
> akan
> > > kebenaran sprt
> > > itu. tp, kenyataan sebenrnya bs jd bkn sprt
> itu...
> > > nah kl aku tangkep, itulah yg jd poin dlm film
> yg
> > > rencananya trilogi
> > > ini : kebenaran yg ditampilkan di film pertama
> > > (KALA) dari kacamata
> > > hendro ini blm tentu adalah kenyataan yg ada.
> > > so... kenyataannya gmn dong? ya kita tunggu lah
> > > sekuel-nya...
> > >
> > > secara keseluruhan, aku suka film ini
> > > beda ma film indo kebanyakan. kl selama ini film
> > > kita msh sebatas
> > > memotret realita (alias menangkap kenyataan
> hidup yg
> > > ada ke dalam
> > > sebuah film), tp film ini dgn berani
> 'menciptakan'
> > > cerita dan tokoh..
> > > tidak hanya itu, cerita dan plot yg dihadirkan
> bs
> > > memlintir pikiran
> > > penonton dan membiarkan imajinasi penonton
> menjadi
> > > liar..
> > >
> > > bukankah film tidak melulu hrs sesuai dg logika
> > > berfikir kita? kl
> > > diluar ada LOTR, kenapa di indonesia tidak
> dimulai
> > > dgn KALA?
> > > dan sebagai sebuah permulaan akan genre baru ini
> di
> > > indonesia, joko
> > > anwar menghadirkannya dgn sangat halus, mulai
> dari
> > > ceritanya yg tetap
> > > dibiarkan 'membumi' dg kondisi yg ada di sekitar
> > > kita sampai
> > > minimalisasi sp.efect (mungkin krn kebentur
> budget
> > > jg...)
> > >
> > > dan kalau filmaker kita sdh mencoba memulai
> > > berkreasi dg genre baru
> > > ini, kenapa kita sebagai penonton-film-indo
> tidak
> > > pula mencoba
> > > merubah mindset kita dlm menikmati film indo.
> kita
> > > tdk usah
> > > mempedulikan logika berfikir atau apalah.
> namanya
> > > juga dunia buatan,
> > > murni khayalan...
> > > santai aja, dan nikmati..
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > --- In [email protected] <mediacare%40yahoogroups.com>
> <mediacare%40yahoogroups.com>, Handry
> > Utomo
> > > <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > >
> > > > Pekan lalu, di milis ini ada yang memuji
> setinggi
> > > langit
> > > > tentang film Kala-nya Joko ANwar. Saya
> apreciate
> > > > banget, karena sang sutradara tampil
> meyakinkan di
> > > > film pertamanya, Janji Joni. Saya coba buka
> > > > website-nya, siapa tahu ada. Eh, nggak ada
> > > ternyata.
> > > > Saya nonton sama anak dan istri, saya yakinkan
> ini
> > > > film bagus, generasi masyarakat film indonesia
> > > > terkini.
> > > >
> > > > Scene demi scene kunikmati. Yahud, gambarnya
> oke,
> > > > pencahayaannya ehm, editing, special effect
> boleh.
> > > > Pada tengah durasi, baru terasa memblenya.
> > > Pemainnya
> > > > cannggung, adegan-adegannya "imitatif" dan
> > > kamuflase
> > > > semua.
> > > >
> > > > Ini film dibuat berdasarkan nonton film.
> Artinya,
> > > > sutradara sudah kebanyakan nonton film
> (Hollywood,
>
=== message truncated ===

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com



Kirim email ke