Komentar:
GENOCIDE nampaknya akan menjadi sejarah Papua dimasa yang akan datang kalau
tidak segera mencegah penyebaran HIV/AIDS yang semakin tidak terkontrol.
-----------------------------------------
Selasa, 22 Mei 2007 HIV/AIDS di Papua (1)
Menyelamatkan Papua dari AIDS Elok Dyah Messwati
Sabtu malam, 12 Mei 2007, di tikungan pom bensin lama, Terminal Mesran di
Jalan Koti, Jayapura, Papua, lima waria sedang menanti pelanggan. Mereka memang
pekerja seks komersial yang beroperasi di tikungan tersebut.
Seorang di antara mereka, Henny Iswayudi namanya. Ia merupakan waria yang
disegani kawan-kawan waria di lingkungan itu. Tak pelak, dalam pertemuan
Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) setanah Papua beberapa waktu lalu yang
difasilitasi oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua, Henny
terpilih menjadi ketua. "Dulu yang mangkal di sini ada 19 orang, sudah
meninggal 11 karena positif HIV," papar Henny tentang nasib kawan-kawannya.
Menurut dia, 90 persen waria di Papua sudah positif HIV. Mereka pun selalu
menjelaskan kondisi mereka itu kepada pelanggan mereka dan menyarankan agar
menggunakan kondom saat berhubungan dengan mereka. "Tapi banyak yang tidak
mau pakai kondom. Sudah dijelaskan nanti bisa mati karena AIDS... eh, malah
bilang: tak usahlah pakai kondom, sudah biar kita mati sama-sama," tutur Henny.
Henny dan kawan-kawan waria adalah sekumpulan orang yang hidup pada
situasi terdesak. Karena tidak memiliki pekerjaan, mereka terpaksa menjadi
pekerja
seks komersial (PSK) untuk melanjutkan hidup. "Sebenarnya kami sangat
ingin punya tempat untuk berkumpul dan berusaha. Di sana nanti kami bisa
berbagi keterampilan salon, membuat kue, sehingga kami tidak perlu ke jalanan
lagi," begitu keinginan Henny yang sampai saat ini belum terpenuhi karena
ketiadaan dana untuk menyewa tempat bersama. Padahal, jika mereka tidak lagi
berpraktik, tentunya penularan HIV bisa diminimalisasi. Penularan
Penularan HIV/AIDS hanya bisa terjadi melalui beberapa cara, antara lain
melalui hubungan seksual berisiko tinggi (tanpa kondom dan bukan dengan
pasangan tetap), melalui jarum suntik narkoba dan alat-alat tajam yang
digunakan secara bersama misalnya silet, ataupun saat ibu menyusui, bayinya
bisa tertular. Jika di Jakarta angka pengidap HIV/AIDS yang terbanyak
adalah mereka yang menggunakan jarum suntik narkoba, yang terjadi di Papua
penularan HIV umumnya adalah melalui hubungan seks yang berisiko tinggi, yaitu
tanpa kondom.
Karena itu, pemerintah dan KPA Provinsi Papua sangat gencar mengampanyekan
pemakaian kondom, baik melalui baliho, poster, maupun iklan di radio. Bahkan,
iklan gambar para pemain sepak bola Persipura yang di bawahnya bertuliskan
"Kitorang Semua Pakai Kondom" dipasang di tempat-tempat strategis, termasuk di
Bandar Udara Sentani, Jayapura. Tak hanya itu, saat KPA Provinsi Papua
mengampanyekan hidup "aman", Pendeta Canon Gideon Byamugisha dari Uganda
(Afrika Timur) datang ke tanah Papua atas undangan World Vision Indonesia
justru mengampanyekan hidup "benar". Dalam berbagai pertemuan baik dengan
para tokoh agama, mahasiswa, pejabat eselon II-IV, kalangan pengusaha, DPRD,
LSM, maupun dalam ibadah Oikumene, Canon Gideon Byamugisha selalu mengingatkan
bahaya HIV dan cara menghindari serta mencegahnya, yakni setia kepada pasangan
hidup (baik suami atau istri). Canon Gideon Byamugisha yang baru
mengetahui dirinya positif HIV pada tahun 1992 ini memberikan pemahaman
bahwa mereka dengan HIV/AIDS tidak perlu rendah diri atau malu karena nantinya
justru tidak akan mendapatkan pertolongan yang tepat. Byamugisha menduga ia
positif karena selama hidupnya pernah mendapatkan empat kantong transfusi darah
dan 350 kali suntikan malaria. "Mungkin karena itu saya positif. Tetapi,
saya memutuskan untuk memecahkan kebisuan ini dan menyebarluaskan informasi
agar HIV dapat dicegah," papar Byamugisha. Ironi Pemaparan Canon Gideon
Byamugisha kepada para pejabat eselon II-IV, Jumat siang, 11 Mei 2007, di
Gedung Sasana Krida Kantor Gubernur Papua di Jalan Soa Siu Dok 2 Jayapura
menjadi suatu ironi karena ternyata malam harinya di Dok 2 tersebut justru
menjadi tempat rendezvous anak-anak muda Papua yang bisa jadi berujung pada
seks bebas. Tengoklah malam hari di Dok 2 tersebut, sepanjang 1-2
kilometer anak-anak muda bebas tanpa rikuh berpelukan, berciuman, bahkan
melakukan hal lebih jauh di balik pagar tembok pinggir jalan. Tidak
hanya itu, di lingkaran Abe, pusat kota kecamatan Abepura, di mana banyak
terdapat perguruan tinggi dan sekolah, dengan mudah kita bisa temui remaja
putri yang bisa diajak berkencan oleh siapa saja. "Pokoknya, kalau ada
cewek pakai baju adik atau baju miskin dan bawa handphone, dia pasti bisa
diajak. Apalagi kalau membawa mobil, cewek itu akan langsung naik mobil," tutur
Arnold, warga Jayapura. Dalam pergaulan di Jayapura, baju adik yang
dimaksud adalah baju ketat, sedangkan baju miskin adalah baju minim tank top
tanpa lengan. Meski tidak semua perempuan muda bisa diajak berkencan, ciri-ciri
fisik dan pakaian seperti itulah sebagai penanda perempuan bisa diajak
berkencan. Ironi lainnya adalah saat menyambangi Tanjung Elmo. Menurut
Ketua Harian KPA Provinsi Papua Constant Karma, semula tempat itu merupakan
tempat untuk merehabilitasi para PSK. Namun, Tanjung Elmo justru berubah
menjadi lokalisasi. Jika Anda melintas dari arah Jayapura menuju Sentani
menggunakan angkutan umum, sopir akan meneriakkan pertanyaan, "Ada yang turun
puskesmaskah?" Itu kode khusus karena puskesmas ini dipelesetkan menjadi "Pusat
Kesenangan Mas-mas" atau karena arahnya dari Jayapura di sebelah kiri jalan dan
menurun, maka muncul sebutan "Turki" alias Turun ke Kiri. Itu guyonan orang
kalau mau ke lokalisasi di Tanjung Elmo. Di sana pun terpasang dua hal
yang bertentangan: Yang satu sebuah papan larangan melakukan praktik prostitusi
dan yang satunya pada 13 Mei 2007 terpasang spanduk bertuliskan "Area 100
Persen Menggunakan Kondom". Efektifkah larangan itu? Karena praktik prostitusi
ternyata tetap berjalan. 3.252 kasus HIV/AIDS merupakan kasus yang
serius di tanah Papua. Karena itu, semua pihak harus benar-benar berjibaku
mencegah agar virus ini tidak kian menular ke mana-mana. Sampai 31 Maret 2007,
data dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua mencatat ada 3.252 kasus HIV/AIDS.
Yang terbanyak adalah di Kabupaten Mimika, yaitu 1.182
kasus. "Angka ini adalah jumlah kasus yang mampu kami data. Namun, kami
perkirakan jumlah kasus HIV/AIDS di Papua sebanyak 11.000-12.000 kasus," kata
Constant Karma. Sebuah angka yang mengkhawatirkan. Keseriusan pemerintah
terpapar dalam ungkapan Gubernur Papua Barnabas Suebu yang mengatakan bahwa
jalan terbaik untuk mengatasi HIV/AIDS adalah dengan pertobatan total.
"Selama orang setia kepada istri, penyakit ini akan hilang. Tapi kalau masih
ada orang berzinah, maka akan sulit diatasi," kata Barnabas Suebu. Nilai-nilai
yang dipegang Gubernur Papua ini sejalan dengan apa yang dikampanyekan Canon
Gideon Byamugisha bahwa kita harus hidup "benar", bukan hidup "aman" saja.
Keseriusan Pemprov Papua terlihat dari alokasi dana Rp 20 miliar untuk
mengatasi HIV/AIDS. Banyak yang berharap para waria dan PSK yang positif HIV
pun akan menjadi prioritas untuk ditolong. Semoga saja....
Resources:
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0705/22/humaniora/3543244.htm
---------------------------------
Never miss an email again!
Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail arrives. Check it out.