--- In [email protected], "Ahmad Pathoni" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Maksud saya mengemukakan fakta sejarah itu adalah untuk mengjawab
> argumentasi Anda yang sepertinya menyimpulkan bahwa kebodohan dan 
kemiskinan adalah "inherent" dengan agama Islam. Dengan adanya fakta 
sejarah itu maka argumen Anda sudah dipatahkan.


++++ "dipatahkan"? oleh siapa? bilamana? inherent atau tidak, kita 
lihat dengan jelas jemelas, tak ada komunitas Muslim didunia ini 
yang tertata rapi. Tak ada sebab akibat?


> 
> Oh jadi Anda sering mengunjungi negara-negara Arab sebagai bagian 
dari kerja? Ha ha ha ha. Kalo gitu Anda makan uang  Arab juga dong? 
Yeah I love my job, I need the money.

+++ "Makan uang Arab"? kalau orang Arab beli mesin mesin harus bayar 
kan? jadi kami makan hasil keringat kami. kalau tak mau beli mesin 
dari LN ya buat sendiri dong (bisa?)




 Bagaimana Anda mengeja teknologi?
> t-e-k-h-n-o-l-o-g-y. Itu ejaan versi bahasa apa ya? Indonesia 
bukan, Inggris juga bukan.


+++ Ha ha ha ejaan Indonesia? yang 
mana? "elu", "gua", "dikerjain", "komplek" , "permak" Sejak kapan 
ada standardisasi ejaan Indonesia?

> 
> Mas Raden, pembantu-pembantu di Arab juga banyak didatangkan dari 
Filipina, negara Katolik yang taat. Apa itu karena mereka Katolik 
dan tidak memiliki "The Protestant ethic" seperti teorinya Max Weber?
> 

+++ Lho apa salahnya orantg Katholik Philippina (bukan Filipina), 
berkerja pada induk semang Arab? Asal hati hati, dan tidak 
diperkosa, bukan? By the way saya bukan katholik, emang gue pikirin? 
ha ha ha


> Yang menghuni daerah kumuh jelas kebanyakan orang Islam karena 
mayoritas penduduk Indonesia adalah orang Islam.

+++ kalau gitu, karena % Muslim mayo, harusnya hunian mewah juga 
sebagian besar dihuni Muslim? Nggak tu? Di hunian saya Muslim dapat 
dihitung dengan jari satu tangan ha ha ha

kecian deh lu, ahhh capek dehhh...

Kirim email ke