People, let's not take this Muskitawati seriously. It's useless to argue with someone with a warped mind. His/her arguments show that he/she is not interested in rational debate.
On 6/18/07, M. Irwan Hrp <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Dear All, > > Saya mendapat email japri dari seseoarang bernama Budi P. > Isi emailnya mengenai diskusi antara Bapak Radit dan Muskitawati (saya > berikan dibawah komentar saya) > > Dari email tersebut, terlihat muskitawati memang tidak memiliki pengetahuan > dan itikad baik terhadap bangsa Indonesia, bahkan sampai berkata lulusan > Indonesia satupun tidak ada yang professional :(. Sehingga diskusi mengenai > Habibie dan pesawat-nya tidak akan saya teruskan karena apapun bukti yg > diberikan pasti akan langsung Muskitawati tolak. > > Hanya sekedar memberi info kepada muskitawati, saya mengenal (walaupun hanya > lewat milis) orang Indonesia yang bekerja sbg Embedded Engineer di Juniper ( > www.juniper.net), uP designer, beberapa CCIE yg kerja di Cisco dan Juniper, > Software Architect, Telecommunication Engineer di Europe & Middle East. > Ahhh, bodohnya perusahaan Cisco, Juniper, QTel, Microsoft, Intel, Infineon > yang meng-hire orang-orang tidak professional itu :) > > > > ----------------------------------------------------------------------------------------------------- > > From: Hafsah Salim <[EMAIL PROTECTED]> > Date: Jun 17, 2007 12:23 PM > Subject: [zamanku] Re: Habibie Bangun Pabrik Pesawat Dari Pengalaman Main > Layangan !!! > To: [EMAIL PROTECTED] > > --- In [EMAIL PROTECTED] <zamanku%40yahoogroups.com>, radityo > djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> > > > > Bu Mus, biasanya kan kalau profesional saling memperkenalkan, ada > adegan saling tukar nama. Jadi saya ragu kalau namanya masuk ke > telinga kanan keluar telinga kiri. Minimal, saat bikin janjian untuk > ketemu kan sudah saling tahu nama dan profesinya. Lha kalau Bu Mus > bukan siapa-siapa, ngapain juga 3 pakar itu ketemu Bu Mus di Amerika? > > > > Lulusan Indonesia tak pernah ada yang professional, gelar apapun dari > Indonesia enggak berguna. Phillipina-lah yang masih sebagian ada yang > diakui. Semua gelar kesarjanaan saya dari Indonesia sama sekali > enggak laku. Terutama enggak laku kalo digunakan cari kerja, > sedangkan untuk sekolah atau kuliah disini enggak dibutuhkan sepotong > suratpun dari Indonesia, semua sekolah cukup memberi kita test > kemudian langsung ditentukan tingkatannya. > > Kebiasaan disini membuat saya juga wajar kebiasaan standard disini, > sehingga gelar apapun kalo datang dari Indonesia enggak pernah menjadi > perhatian khusus saya. Bahkan sampai presiden ataupun menteri2nya > berkunjung kemari sama saja diperlakukan seperti tukang koran, kalo > mau ketemu pejabat gedung putih harus bikin appointment dulu yang bisa > waktunya ber-hari2. > > Tetapi bukan semua kepala negara yang diperlakukan seperti itu, > biasanya kalo dari negara berkembang tak dipandang orang penting lah. > > Lalu apanya yang mau anda anggap sarjana Indonesia yang kemari harus > jadi perhatian saya??? Enggak ada orang Indonesia satupun yang > berprestasi baik di Amerika, itu memang kenyataan bukan saya > meng-ada2. Mungkin gen-nya sudah dirusak oleh keimanannya. >
