Memang mas, dengan akal sehat anak kecil, manusia Indonesia dapat 
memahami apa yang dimaksud dengan terror atau terrorisme.

kalau mau, bisa juga lihat definisi ilmiah, misale:

"The calculated use of violence or threat of violence to inculcate 
fear. Terrorism is intended to coerce or intimidate governments or 
societies in the pursuit of goals that are generally political, 
religious, or ideological."

Kalau ada bom njebluk ditempat sipil, melukai dan menyayat tubuh 
warga sipil, dengan sengaja untuk mencapai tujuan kelompok, inilah 
terror. Tujuannya adalah me-nakut nakuti.

Saya harap, mereka yang mati matian memeluk mencium mesra para 
tersangka teroris suatu ketika mengalami jadi korban pemboman 
teroris, atau istri dan anaknya. Saya ingin tahu, apa yang dikatakan 
mereka. Minta tolong polisi? Lho, polisi kan jahat? tanya bung 
Ba'ashir...

Salam

Danardono



--- In [email protected], "Al-Mahmud Abbas" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Tak perlu definisi lae... Apa yang sudah jelas diperbuat merugikan 
dan
> menghilangkan nyawa orang lain, merencanakan dan menyebar luaskan 
faham yang
> destruktif itu saja sudah cukup untuk dimintai pertanggung jawaban, 
atas
> dasar etik moral yang umum berlaku sajalah tidak usah atas dasar 
agama
> apapun.
> Apa menunggu sanak keluarga anda ikut jadi korban baru anda mau 
teriak
> menyalahkan Polisis kebobolan gitu ? Nggak usak ngurusi definisi 
orang lain,
> tindakan dan jaringannya sudah jelas ada, nggak usah diingkari, 
lebih baik
> ikuti langkah bang Nasir Abas yang dengan keinsyafannya berani 
menanggung
> resiko diburu oleh mantan organisasinya (karena sudah pasti dianggap
> berkhianat).
> Apapun definisinya organisasi yang mendukung tindakan 'penyalah 
gunaan bahan
> peledak dan senjata api' (atau apapun istilahnya) adalah organisasi 
yang
> tidak tahu diri bahwa hanya sebagai manusia, bukan malaikat 
pencabut nyawa.
> Jangan menyelimuti bara api dengan daun kering bung... !
> 
> Wassalam.
> 
> 
> On 6/28/07, M. Irwan Hrp <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >   Dear All,
> >
> > Berbicara tentang terorisme, belum ada definisi yang jelas akan 
hal
> > tersebut, karena seingat saya pada saat pembahasa mengenai 
definisi
> > terorisme, Amerika Serikat menggunakan hak veto-nya. Mungkin 
karena Amerika
> > Serikat (dan juga sekutunya) takut dituduh sebagai teroris juga.
> >
> > Berikut adalah proposed definitions of terrorism
> > ( taken from 
http://www.unodc.org/unodc/terrorism_definitions.html )
> >
> > Proposed Definitions of Terrorism
> >
> > 1. League of Nations Convention (1937):
> >
> > "All criminal acts directed against a State and intended or 
calculated to
> > create a state of terror in the minds of particular persons or a 
group of
> > persons or the general public".
> >
> > 2. UN Resolution language (1999):
> >
> > "1. Strongly condemns all acts, methods and practices of 
terrorism as
> > criminal and unjustifiable, wherever and by whomsoever committed;
> >
> > 2. Reiterates that criminal acts intended or calculated to 
provoke a state
> > of terror in the general public, a group of persons or particular 
persons
> > for political purposes are in any circumstance unjustifiable, 
whatever the
> > considerations of a political, philosophical, ideological, 
racial, ethnic,
> > religious or other nature that may be invoked to justify them". 
(GA Res.
> > 51/210 Measures to eliminate international terrorism)
> >
> > 3. Short legal definition proposed by A. P. Schmid to United 
Nations Crime
> > Branch (1992):
> >
> >     Act of Terrorism = Peacetime Equivalent of War Crime
> >
> > 4. Academic Consensus Definition:
> >
> > "Terrorism is an anxiety-inspiring method of repeated violent 
action,
> > employed by (semi-) clandestine individual, group or state 
actors, for
> > idiosyncratic, criminal or political reasons, whereby - in 
contrast to
> > assassination - the direct targets of violence are not the main 
targets. The
> > immediate human victims of violence are generally chosen randomly 
(targets
> > of opportunity) or selectively (representative or symbolic 
targets) from a
> > target population, and serve as message generators. Threat- and
> > violence-based communication processes between terrorist 
(organization),
> > (imperilled) victims, and main targets are used to manipulate the 
main
> > target (audience(s)), turning it into a target of terror, a 
target of
> > demands, or a target of attention, depending on whether 
intimidation,
> > coercion, or propaganda is primarily sought" (Schmid, 1988).
> >
> > On 6/27/07, Sunny <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > >
> > >   http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=291732
> > >
> > > Rabu, 27 Juni 2007,
> > >
> > > Mendidik atau Merusak?
> > > Oleh M. Syamsul Maarif
> > >
> > > Dua tersangka teroris di bawah umur, yaitu Nur Fauzan, 19, dan 
Isa
> > > Ansori, 16, Jumat sore mungkin akan dilepas dari tahanan. 
Berita ini menjadi
> > > makanan hangat media massa minggu-minggu ini. Mereka adalah 
teroris kecil
> > > yang terkecoh doktrin yang dianggap baik, tapi merugikan banyak 
pihak dengan
> > > dalih agama dan kuasa Tuhan untuk menghukum setiap yang mereka 
anggap salah
> > > dan tidak sesuai dengan ajaran mereka.
> > >
> > > 
> >
>


Kirim email ke