Thank you, Boss.
  Excuse me, Madame Fau Swasono. Andai bertemu saya 'kan serahkan lima mawar
  warna rosiate sebagai pertanda apresiasi total pada seorang lady economist.
   
  Sekait BPS, pasalnya yang bukan ekonom juga pada konsern (concerned) karena 
begitu banyak tengara "tiada asap bila tiada api". Sampai tokoh nasional 
seperti Amien Rais begitu bertemu, atau "sowan", apalagi yang dipanggil 
menghadap, SBY lalu kok
  pendapat, posisi dan sikap dapat berbalik 180 derajat, seperti dulu kawula 
yang dipanggil Raja yah? Karena itu sekait BPS pun saya kira wajar ada 
kecurigaan, memang tidak mudah dibuktikan, namun Mbak FS di email lain juga 
menulis BPS bisa underestimate (juga over-estimate?) sesuatu. Jadi saya anggap 
sejumlah ekonom lain yang lebih dekat dengan
  kepentingan rakyat (banyak dari UGM) daripada yang ber paradigm neolib, dapat 
menjadi semacam imbangan terhadap hegemoni pemikiran neolib dalam establishment 
sejak awal Orba, dan ini lambat atau cepat dapat mematikan NKRI bila tidak 
dikalahkan lewat kekuasaan demokratis. (Konstelasi puncak BPS pasti ditentukan 
oleh yang berkuasa)
   
  Salam, RPr
  

radityo djadjoeri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            Sedikit koreksi:
   
  Fau (ziah) Swasono itu perempuan bukan Bapak. Kalau tak salah beliau bekerja 
di Bappenas.
   
  

Rudy Patirajawane <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
        Maaf ikutan "bicara", pasalnya untuk negeri yang begini besar luas dan 
majemuk sangat
  sedikit polling agencies yang aktif dan sudah kredibel. BPS bisa mudah putar 
balik data sejak awal dari sampling dan lain sbgnya. Dalam sikon sektor riil 
macet banget dan banyak
  nya "indikator kasat mata" disekeliling kita, bagaimana kemiskinan bisa 
anjlok? Yakin tentang neolib yang sangat lebat diwakili dalam pemerintahan dan 
juga para "pakar" yang paradigma nya terbentuk di AS, Australia jadinya "visi 
misi" perekonomian establishment sangat jauh dari kepentingan rakyat, atau 
malah bisa dikatakan anti-rakyat.
   
  Maaf pak FAU Swasono, being middle-of-the-roaders is also highly sexy, 
perhaps even hyper-sexy, namun betul juga bahwa "turunnya kemiskinan" hanya 1% 
itu juga sangat sedikit. Apa pula dalam "prestasi" pemerintah yang sebetulnya 
didukung oleh DPR, TNI, Polri, intel dll notwithstanding dipilih langsung oleh 
63%. Jadi kekuatannya jauuh lebih daripada kabinet Gus Dur atau Mega. Parahnya 
tidak tampak akan ada perbaikan dalam governance menjelang 2009, apalagi Beliau 
ingin dipilih kembali. Kan negara bisa makin sekarat. Belum kita singgung 
faktor separatisme dan radikalisme quasi-religus yang makin menggebu 
mepergunakan sikon kontinyuitas keterpurukan multidimensial. So what pak?
   
  RPr

fau swasono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
      Saya meragukan kalau sampel itu hanya diambil dari kota, karena setahu 
saya 68 ribu keluarga yang disampel datanya didapat dari data BLT. Lihat 
disini: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=298671&kat_id=3 yang 
jelas2 menunjukkan bahwa petani di pedesaan juga adalah bagian dari sampel. 

Dan perhatikan lagi, bagaimana argumen ekonom dari TIB ini. Saya malas menulis 
ulang karena kebetulan ada yang sudah pernah menuliskan hal ini. 
http://nalarekonomi.blogspot.com/2006/09/masalah-tidak-transparannya-garis.html
Ini argumen mereka tahun lalu yang ternyata mirip lagu rekaman ulang yg 
dinyanyikan tahun ini. 

Imel saya mempertanyakan ada 2 alasan. Pertama, saat itu saya tidak tahu banyak 
informasi (saya tidak bisa mengakses situs BPS... *sigh*).  Kedua, agar publik 
tidak menelan berita bulat2 baik dari pemerintah maupun dari lawan politiknya. 
Masing2 bisa punya hidden interests. Itu bisa dilihat dari sensasi yang 
diinginkan dg mendramatisir polemik2 seperti ini. 

Saya sendiri -saat ini- menilai bahwa -tampaknya- data BPS masih dalam range of 
acceptance. Asumsinya berdasarkan apa yang diungkapkan oleh BPS mengenai 
sampling dan metodologi. Tetapi apakah saya bergembira ria? Hmmm... menurut 
saya, penurunan sekitar 1% angka kemiskinan ini dalam waktu satu tahun masih 
sangat kecil, seharusnya bisa menurunkan lebih banyak. 
Supaya tidak disalahpamahi, saya dasarkan hal ini dari data BPS demi menjaga 
konsistensi. Jadi lupakan dulu apakah anda setuju kalau "miskin-nya BPS" ini 
adalah "miskin-nya menurut si A si B dst". Itu perdebatan lain kamar. 
Jadi kita bicara relativitas kondisi Maret 2006 dan Maret 2007. 

Menurut kelompok Iman-Hendri-Drajad data BPS ini bohong karena "ditengah 
mahalnya sembako, mana mungkin kemiskinan turun?" 
Jadi lebih pake "rasa2". That's why I was questioning about their arguments, 
not their feeling. Kalo feeling sadjah, semua sudah tau bagaimana feeling 
mereka thd pemerintah. :D Lagipula jelas2 disebut bahwa susenas itu dilakukan 
Maret 2007 pada saat harga minyak goreng juga belum naik, lha kenapa 
membantahnya pake argumen minyak goreng? Tidak ada klaim dari BPS bahwa data 
itu adalah angka bulan Juni. 

Jadi menurut saya, assuming bahwa data BPS itu within the acceptance range, 
maka pemerintah terlalu berlebihan untuk bergembira atau tergesa2 mencatatkan 
hal itu sebagai prestasi. Sebaliknya tuduhan bahwa BPS pembohong oleh Indef ini 
patut disikapi kritis pula, walau saya yakin sebentar lagi koran2 dan milis 
akan berhias berita yang berdasarkan tuduhan Indef ini. Conspiracy theory is 
always sexy. 

Saya pikir sebagai bagian dari masyarakat yang mempunyai kesempatan dan 
kemampuan berpikir kritis, kita bersikap proporsional saja. Berikan kredit pada 
yang berhak, jika ada prestasi pemerintah ya patut diakui, jika pemerintah 
salah ya harus dikritisi. Kalau data memang begitu ya memang begitu, tidak 
perlu repot untuk selalu bersikap menyalahkan. Yang perlu diwaspadai adalah 
politisasi yang berlebihan oleh siapapun (baik pemerintah maupun politikus). 

Sayangnya banyak dari kita yang cenderung hanya mau percaya apa yg mau kita 
percaya. Misalnya kalau kita adalah orang yang tengah bergelut dg beratnya 
kompetisi dan hampir kalah, maka kita akan mempercayai teori konspirasi neo-lib 
lewat MNC untuk menguasai RI. Tetapi kalau kita adalah bagian yang mendapat 
berkah lewat globalisasi atau sedang bekerja di MNC dg bayaran gede, mungkin 
akan bilang sebaliknya ;-) Padahal tidak ada yang 100% benar... CMIIW. 

just my two-cent, 

salam
fau


  On 7/5/07, IrwanK <[EMAIL PROTECTED]> wrote:   Quote:
"..
Jika angka itu diambil dari 44 kota di Indonesia, berarti tidak bisa mewakili 
realitas. Kenapa ? 
Karena sebagian besar penduduk miskin itu berada di pedesaan. Dengan realitas 
seperti itu, 
kenapa BPS dengan tega hati mengeluarkan angka kemiskinan yang menurun.
.."
  
Maaf, saya cuma orang awam yang ikutan nimbrung diskusi, gpp ya.. Tolong jangan 
dimintai 
data".. karena saya gak tahu persis cara & metodenya.. :-) 
Tapi berdasarkan tajuk rencana dari Suara Merdeka disebutkan data tersebut 
(kemungkinan
besar) diambil dari 44 kota di Indonesia; dan tidak bisa mewakili realitas.
Apakah ini masih kurang untuk menunjukkan 'ada yang kurang/tidak beres' dari 
output BPS? 

Kalau (ini misalkan saja) ada orang/lembaga non formal/di luar lembaga 
resmi/pemerintah(an) 
& bisa menunjukkan kesalahan BPS, misalnya, apakah lembaga tersebut bisa 
menggantikan 
BPS? Buat apa kita punya (dan membayar) lembaga resmi yang tidak independen 
dan/atau 
tidak bisa dipercaya? :-)

CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K



  



    
---------------------------------
  Fussy? Opinionated? Impossible to please? Perfect. Join Yahoo!'s user panel 
and lay it on us.   






  e-mail: [EMAIL PROTECTED]
  blog: http://mediacare.blogspot.com
    
---------------------------------
  Boardwalk for $500? In 2007? Ha! 
Play Monopoly Here and Now (it's updated for today's economy) at Yahoo! Games.  
 

         



 
---------------------------------
Food fight? Enjoy some healthy debate
in the Yahoo! Answers Food & Drink Q&A.

Kirim email ke