Semoga bisa membantu :
Sebagai agama yang sempurna, menyeluruh dan menyempurnakan, maka dalam Islam :

1. Mahar (mas kawin) disesuaikan dengan kondisi / kemampuan dan kerelaan kedua 
belah pihak yang intinya tidak memberatkan karena pernikahan adalah bagian dari 
ibadah. Nabi pernah menikahkan seorang shahabat dengan mas kawin berupa hafalan 
beberapa ayat Al-Qur'an.

2. Mahar sebagai simbol penyerahan tanggung jawab dari orang tua (mempelai 
wanita) kepada mempelai pria. Tanggung jawab sebagai pemimpin keluarga untuk 
mencapai kebahagiaan dan keselamatan dunia & akherat. Dalam Islam, ikatan ini 
dikatakan sebagai ikatan suci yang sangat kuat. 
Apabila dalam perjalanan mengarungi bahtera RT, pihak pria menghindar dari 
tanggung jawab sebagai pemimpin, maka pihak wanita bisa mengembalikan mahar 
sebagai tanda beralih (kembali)-nya tanggung jawab kepada orang tua. Disinilah, 
mengapa Islam menganjurkan untuk mempermudah Mahar. Disatu sisi, pihak pria 
akan senantiasa menjaga amanah / tanggung jawab karena kalau menghindar maka 
dengan mudah / murah pihak wanita bisa mengembalikan Maharnya. Dan disisi 
lainnya pihak wanita akan selalu terjaga dari pria yang tidak bertanggung jawab.

Semoga bermanfaat.

Wassallaam,
Budi-pc

  ----- Original Message ----- 
  From: Miftah Surur 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, July 10, 2007 12:11 PM
  Subject: Re: [mediacare] Muak - Re: Sepasang pengantin Arab ............


  Mbak Martha, tradisi mas kawin memang bukan murni tradisi islam. tradisi 
memberikan mas kawin- yang dalam Islam kemudian dirumuskan sebagai mahar - 
merupakan tradisi dari masyarakat Arab sebelum Islam. Saya kira memang betul, 
bahwa mas kawin itu hanaylah simbolik saja, ia simbol yang seharusnya dimaknai 
sebagai bentuk tanggungjawab bersama dalam perkawinan. untuk itulah, bentuk dan 
ukuran mas kawin sendiri tidak pernah ditentukan. Ia bisa berbentuk apa saja 
dan tidak harus material. Persoalan bahwa dalam praktiknya terjadi 
ketidaksamaan (ada yang mngharuskan sejumlah uang, sawah, mobil, dsb), maka 
semua itu perlu dilihat dalam konteks tradisi yang berbeda. 
  Kita boleh saja mengkritik bahwa dlam persoalan mas kawin, terdapat 
sumbangsih agama dalam mendiskriminasi perempuan. Tetapi justru, menurut saya 
tidak ada hubungannya antara mas kawin dengan jual beli atau peminggiran 
terhadap perempuan. Karena dalam kehidupan perkawinan, hubungan antara 
laki-laki dan perempuan perlu dilihat dan dicermati secara jeli. Menurut saya, 
tidak benar juga kalau hanya karena mas kawin lalu perempuan dianggap sebagai 
budak dalam perkawinan, karena banyak juga kasus yang muncul bagaimana 
perempuan juga sangat superior atas laki-laki. 
  Saya hanya ingin mengatakan bahwa perlu kiranya kita melihat dulu 
persoalannya agar kritik dan umpatan kita tidak salah kaprah. Saya sepakat 
bahwa banyak muatan dalam doktrin dan tradisi Islam (atau juga agama lain dan 
tradisi lain) yang mudah ditafsirkan sebagai penindas atas perempuan, dan 
bahkan tidak sedikit dijadikan penguat atas kepentingan kekuasaan (politik, 
patriarki, dsb) tetapi tidak sedkit pula terdapat kajian keagamaan yang cukup 
kritis melihat itu semua. 



  Pada tanggal 10/07/07, marthajan04 <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
    Mas Henry, saya mbak bukan mas. Terus terang, saya malu sekali 
    melihat budaya (bukan hanya di islam atau di Indonesia saja)
    meminta / menerima mas kawin dari pihak laki2.
    Iya benar itu adalah simbolis saja. Tapi simbolis dari apa? 
    Jaman dahulu kala memang perempuan diberikan oleh orang tuanya 
    kepada keluarga laki2 dengan tebusan mas kawin.
    Lihat saja dari cerita2 jaman dulu. Perempuan dijadikan istri, orang 
    tuanya diberi uang pengganti sesuai yang diminta pihak wanita. 
    Setelah menikah, si wanita ini harus kerja untuk keluarga lelaki, 
    dan orangtua si wanita sudah tidak berhak lagi menegur anaknya mau 
    diapakan juga. Tidak bisa diminta lagi. Malah orangtuanya kalaupun 
    tahu, akan menasihati anak wanitanya itu untuk sabar dan berkelakuan 
    lebih baik lagi. Setelah wanita itu menjadi seorang ibu dan punya 
    anak lelaki, maka dia juga berhak berlaku begitu kepada menantu 
    perempuannya.

    Jaman sekarang tentu saja wanita sudah dilindungi oleh hukum dan 
    tidak bisa diperlakukan semaunya. Berhak minta cerai dlsb.
    Tapi simbolis yang melambangkan perbudakan itu, menurut saya 
    sebaiknya dihilangkan saja. Sangat merendahkan wanita.

    salam,
    Martha Jan.

    --- In [email protected], Henry <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
    >
    > wah kalo maksudnya menjual anak gadisnya kayanya kelewatan tuh, 
    saya rasa itu hanya simbolis saja dimana biasanya istri akan ikut 
    suami (ini di banyak budaya gak hanya islam saja). Kalo malah di 
    anggap seperti digadaikan kan itu dipikiran mas marthajan saja. 
    Malah saya gak berpikiran mau membeli wanita dengan mahar tuh mas...
    > 
    > kejadian macam itu gak sering terjadi sih sepertinya, kalo memang 
    dasarnya mau rakus, ya rakus aja gak pake embel2 agama..
    > 
    > salam damai
    > 
    > marthajan04 <[EMAIL PROTECTED]> 
    wrote: mahar itu memang maksudnya 
    menjual anak gadisnya. jadi kalau 
    > orangtua si perempuan menerima mahar dari pihak laki2, artinya 
    > anaknya sudah digadaikan dan selamanya tidak berhak lagi turut 
    > campur anak perempuannya diperlakukan apapun juga, kecuali 
    tentunya 
    > melanggar hukum negara. 
    > Tapi kalau anak perempuan yang sudah dijual itu di jadikan 
    seperti 
    > pembantu, orangtuanya sudah tidak bisa protes lagi. lah wong udah 
    > dijual.
    > 
    > jadi kalau si dede bilang mengangkat derajat perempuan, hal itu 
    > sangat menggelikan.
    > 
    > makanya, lawanlah budaya menjual anak dengan tidak menerima mas 
    > kawin dari pihak laki2. Ini berlaku untuk budaya apapun juga, 
    tidak 
    > hanya untuk agama islam.
    > sudah bukan jamannya lagi anak perempuan dijual kepada pihak 
    laki2.
    > 
    > mj
    > 
    > --- In [email protected], dede hermawan <dieher81@> wrote:
    > >
    > > Kalau saya boleh ikut campur,,,tujuan Islam mewajibkan mahar 
    pada 
    > calon istri adalah sebenarnya mengangkat si perempuan 
    > tersebut..dalam kontek historis, di mana seorang perempuan 
    sebelum 
    > Rasul nyaris tidak ada penghormatan sama kaum perempuan...Kini 
    > setelah Rasul dan Islam datang, martabat kaum Hawa terangkat 
    dengan 
    > mewajibkan pada calon istri harus ada mahar...
    > > Rasul sendiri tidak memberikan batasan dalam hal mahar bahkan 
    > beliau sendiri kalau tidak mampu maka dengan cicin besi...
    > > 
    > > ISlam itu sebenarnya tidak memberatkan pada kaumnya, bahkan 
    > memudahkan.. 
    > > 
    > > trims,
    > > 
    > > Dede
    > > 
    > > Immanuel Rey <umbu_rey@> 
    > wrote: 
    > > Makin muak kok hahahahaha...MUNTAH dong, baru benar! Lagi pula 
    mau 
    > mengajari orang tatakrama yang baik, mosok ngajak ketemu pakai 
    > kondom rasa baru segala. Apa hubungannya? Akh, yang mengundang 
    > FITNAH itu siapa? Entar dia bilang, "Nah kan benar. Kamu yang 
    > biadab!"
    > > 
    > > Hei bung, Ny Muskitawati itu harus kita lawan pakai nalar. 
    Kasih 
    > alasan atawa argumen yang masuk akal bahwa dia salah. Nanti juga 
    dia 
    > keok. Itu juga kalau kau bisa. Saya pikir Ny Mus itu cuma mau 
    > mencari tahu bagaimana cara kita bernalar, sampai di mana 
    > pengetahuan kita. Gitu saja kok repot, Hehehe.
    > > 
    > > Salam, 
    > > IUR 
    > > 
    > > erick enggano <erick_enggano@> wrote:
    > > Hahahaha.... saya sekarang makin muak dengan opini-opini 
    > nyonya yang satu ini. Kerjanya mengundang FITNAH aja. Selaku 
    orang 
    > Indonesia saya merasa Nyonya Muskitawati perlu diajarkan 
    tatakrama 
    > yang baik...!!!
    > > 
    > > Nyonya Mus, ketemuan yuk??? Saya punya kondom rasa baru nih, 
    > khusus untuk Muskitawati.
    > > 
    > > salam,
    > > 
    > > erick enggano
    > > 
    > > --- Hafsah Salim <muskitawati@> wrote:
    > > 
    > > > > Batul <jereweh@> wrote:
    > > > > Sana`a (ANTARA News) - Setelah beberapa tahun
    > > > berpacaran dan menunggu
    > > > > bersanding dengan istri tercinta, harapan itu
    > > > kandas ketika pesta
    > > > > pernikahan berlangsung. Sang mertua bersikeras
    > > > meminta sejumlah uang 
    > > > > yang tergolong besar kepada menantunya sebagai
    > > > syarat dapat memboyong 
    > > > > puterinya. Tanpa pikir panjang pengantin pria
    > > > langsung mencerai 
    > > > > pengantin wanita itu di hadapan para tamu. Pesta
    > > > bahagia yang 
    > > > > diharapkan terwujud berganti dengan kesedihan. (*)
    > > > >
    > > > 
    > > > 
    > > > Tragedy diatas ini khan bisa terjadi hanya sebagai
    > > > akibat dari ajaran
    > > > Islam itu sendiri. Apa yang dilakukan meretua itu
    > > > sesuai dengan
    > > > aturan dalam agama Islam itu sendiri. Namun dalam
    > > > kacamata peradaban
    > > > sekarang ini perbuatan ayah mertua itu adalah amoral
    > > > dan unethical.
    > > > 
    > > > Banyak sekali tragedy dalam kehidupan umat Islam
    > > > akibat ajaran2nya
    > > > yang sebenarnya sangat biadab untuk ukuran kehidupan
    > > > dizaman modern
    > > > ini. Namun tragedy2 ini wajib ditutupi oleh setiap
    > > > umat Islam karena
    > > > dilarang men-jelek2an agama sendiri dalam hal ini
    > > > juga ada ajarannya
    > > > dalam Al-Taqya.
    > > > 
    > > > Wanita dalam Islam memang dianggap barang yang bisa
    > > > dijual beli.
    > > > 
    > > > Ny. Muslim binti Muskitawati.
    > > 
    > > 
    > > 
    > > 
    > > 
    > > ---------------------------------
    > > Pinpoint customers who are looking for what you sell. 
    > > 
    > > 
    > > 
    > > 
    > > ---------------------------------
    > > Luggage? GPS? Comic books? 
    > > Check out fitting gifts for grads at Yahoo! Search.
    > >
    > 
    > 
    > 
    > 
    > 
    > 
    > Henry Prihanto Nugroho 
    > 2/9 Edison Road 
    > Bedford Park, Adelaide, SA 5042 
    > www.ppiasa.com & www.ppiasa.com/forum/
    > (+61) 406533058 (mobile)
    > 
    > ---------------------------------
    > Sick sense of humor? Visit Yahoo! TV's Comedy with an Edge to see 
    what's on, when.
    >






   

Kirim email ke