dulu yah, ada konglomerat di Jakarta, anak perempuannya nikah sama anak ortu
kaya juga tapi tidak sekaya ortu si wanita.
ayah si wanita tanya sama ayah si lelaki. " lu mau kasih anak gue tinggal
dimana?"
lalu si ayah lelaki bilang disuatu tempat. si ayah perempuan bilang : "gue
maunya anak gue tinggal disini (tempat yang lebih mahal). Kalo lu enggak bisa
beliin, gue yang beliin".
Nah, gini baru enak kan? karena gengsi, terpaksa tuh anak dibeliin rumah yang
diminta.
Yang ini jelas tidak memalukan. Ini baru :
"mahar menunjukkan 'seberapa berharganya' pihak yang dilamar.. makin
'berharga', makin besar mahar yang harus diberikan..
Bukan seperti mahar yang biasa diminta pihak perempuan. Kan siapa tuh bilang,
asalnya sebagai pengganti tenaga yang hilang dari keluarga. Yang ini jelas
dijual sebab diminta ganti rugi telah melahirkan dan ngasih kehidupan pada anak
perempuannyga.
saya tidak mengatakan ini hanya ada dalam islam saja. Ini juga ada dalam
masyarakat tionghoa tradisionil yang dikatakan sebagai ganti uang susu.
MEMALUKAN!!! jele-i bahasa jawanya. Orang tua saya sudah menghapuskan tradisi
ini.
mj
IrwanK <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Saya melihat sebenarnya bukan maharnya yang perlu dihapus.. tapi pemahaman
publik atas mahar itu yang perlu dirombak.. Fokus pada topiknya donk. jangan
suka
melebar"kan gitu.. Bagi sebagian orang, besar/kecilnya mahar menunjukkan
'seberapa
berharganya' pihak yang dilamar.. makin 'berharga', makin besar mahar yang
harus
diberikan..
Lalu soal mahar yang 'dimakan' orang tua, atau anak 'dijual' untuk menutupi
hutang
ortu, itu sih bukan salah ajaran agama.. jelas ortunya yang egois.. berhutang
tapi
koq anak yang jadi korbannya.. jadi salah alamat donk kalau moncong tembakan
diarakkan ke agama.. apalagi untuk merombak syarat/rukun nikah, misalnya..
Aya-aya wae, klo kata Jarwo Kuat..
Contoh" keliru yang terjadi mustinya menjadi bahan introspeksi, bagaimana ulama
mengingatkan umat.. dan umat sendiri mau mengubah paradigma yang keliru tadi.
Kecuali mungkin bagi yang 'membenci' (umat&ajaran) agama tertentu, kekeliruan
tersebut merupakan amunisi gratis atau sarana menumpahkan kebencian mereka..
sekaligus berusaha mempengaruhi agar orang lain ikut pendapat mereka.. :-p
Kalau dikit" hapuskan ini/itu, yang ada (ajaran) agama akan terkena abrasi..
perlahan tapi pasti.. Mau(-nya gitu)?
CMIIW..
Wassalam,
Irwan.K
On 7/12/07, Priyo Husodo < [EMAIL PROTECTED]> wrote:
yah tidak semudah itu menghapuskan mas kawin... karena budaya ini sudah masuk
ke dalam sendi agama..
kalo mau dihapus berarti khan harus mengamandemen kitab sucinya... sesuatu
yang tidak mungkin terjadi.
btw: kalo umat tidak lagi memakai mas kawin dalam perkawinan apakah ini
berarti menentang agama?
Salam,
rph
On 7/11/07, marthajan04 <[EMAIL PROTECTED] > wrote: makanya mas
Miftah, saya bilang juga hapuskan saja mas kawin itu.
Supaya sama2 tidak berat. Bukankah banyak juga lelaki yang kesulitan
melamar wanita karena tidak sanggup menyediakan mas kawin?
Nah nanti kalau sang mertua jengkel karena merasa sudah diperas,
siapa yang akan jadi luapan kemarahan itu? tentu sang menantu
perempuan bukan? maka jadilah adanya perbudakan dalam keluarga.
mj
------------------------
--- In [email protected], "Miftah Surur" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> wah repot, nanti kalu dibebankan ke perempuan, dibilang penindasan
lagi terhadap perempuan....
> Tapi begini, tradisi mas kawin seperti itu perlu dilihat dalam
konteks hubungan laki-laki dan perempuan di tanah Arab yang memang
tidak seimbang - atau dalam bahasa anak sekolahan disebut sangat
patriarkhal. itulah mengapa laki-laki mendapat posisi yang lebih
dibanding perempuan. Meskipun akhir-akhir muncul pemikiran baru dari
beberapa pemikir Islam komtemporer untuk memberikan kewajiban yang
sama bagi perempuan untuk memberi mas kawin, tapi gagasan ini belum
popular
-----------------------------------------------------
---------------------------------
Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.