Jangan lupa jaringan intel Arab di Indonesia

catatan:
termasuk Indonebia?
   
  

teogeoge <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
          
Ada benarnya Agen Mosad masuk ke Indonesia, Jendral Ryamizard
mengatakan ada 60.000 personil intel asing yang berkeliaran di NKRI.

Mosad sangat berkepentingan di NKRI, buka mata buka
telinga.............dunia tidak seindah negeri dongeng.....

Salam '45
Teogeoge

Note :
Komandan yang baik menghasilkan anakbuah yang baik,
komandan yang gombal menghasilkan anak buah yang gombal mukiyo !


Desepsi
http://www.gatra.com/2006-08-18/artikel.php?id=97132

Saya bertemu Jenderal Ryamizard Ryacudu. Saya memanggilnya Abang. Saya
tanya soal pernyataannya tentang 60.000-an agen asing yang beroperasi
di Indonesia itu apa bisa dipertanggungjawabkan. Abang menjawab bahwa
apa yang dikatakannya itu benar-benar valid. Saya yakin, karena dia
mantan KSAD.

Sebelumnya, Letnan Jenderal (purnawirawan) Z.A. Maulani (almarhum)
memberitahu saya supaya hati-hati terhadap operasi intelijen yang
menggunakan strategi desepsi. Saya ini awam soal intelijen. Saya
tanya, apa maksud desepsi itu. Pak Zen, panggilan akrab Z.A. Maulani,
menjelaskan secara praktis.

Seorang agen ditanamkan ke tubuh organisasi target, misalnya M21,
panggilan MMI di kalangan intelijen. Si agen harus mampu menjadi orang
kepercayaan dari orang yang ditarget, misalnya Ustad Abu. Tujuan
"kepercayaan" itu sangat penting, misalnya untuk membunuh target atau
mengadu domba dengan pihak lain, dan sebagainya. Nah, penyusupan
seperti itu sehingga agen dianggap "mujahid" inilah yang disebut desepsi.

Kasus Abdul Haris
Kasus Abdul Haris tahun 2002 terungkap setelah penangkapan Umar Faruq,
5 Juni 2002, di Bogor. Padahal, sejak 1995, Haris mengaku sudah
"dipercaya" oleh Irfan S. Awwas, yang kini menjadi Ketua Lajnah
Tanfidziyah MMI. Apakah Irfan tidak tahu bahwa Haris adalah agen BIN?
Saya yakin Irfan tidak tahu. Ini hebatnya Haris.

Saya pun mengenal Haris sebagai tukang pijat refleksi, karena saya
pernah dipijatnya dan saya beri upah Rp 10.000. Walhasil, tidak ada
info tentang dia yang menunjukkan bahwa Haris adalah planted agent di
tubuh MMI. Semuanya baru terkuak setelah kejadian.

Kasus Rahmatan
Sekitar Juli 2005, saya ditelepon Asep Rahmatan Kusuma, yang mengaku
sebagai mantan agen CIA di bawah mentor Mr. Erick dari Kedutaan
Amerika Serikat di Jakarta. Katanya, itu amanah dari Pak Irfan, supaya
saya menampung pertobatan Asep. Lalu saya minta Asep ke rumah untuk
merekam testimoninya. Dia menangis, bertobat, dan bersumpah tidak akan
mengulangi lagi dosanya.

Namun isi testimoninya sangat mencurigakan. Momentumnya bertepatan
ketika Kepala BIN Syamsir Siregar menyatakan bahwa pihaknya akan
menyusup dan mengadu domba para aktivis kelompok Islam radikal.
Kemudian, menurut dia, modus operasi para teroris telah berubah dari
pengeboman menjadi penculikan pejabat publik.

Asep mengaku telah minta "restu" kepada Ustad Abu terkait pengaktifan
MMI di Tangerang. Namun "restu" itu tampaknya akan dialihkan untuk
"merestui" rencana serangan little nine one-one (versi mini 911) yang
akan dioperasikan oleh JI Umar Patek dengan pesawat remote control.
Namun misi ini gagal total.

Kasus Kaparang
Sekitar September 2001, seorang yang mengaku mualaf (orang yang baru
masuk Islam dan perlu disantuni) datang ke markas MMI. Ia mengaku
bernama Lalu Muhammad Hasan alias Ihsan. Nama aslinya Andronikus
Kaparang. Ia mengklaim sebagai Komandan Laskar Kristus wilayah
Indonesia Timur. Ia mengaku disuruh CIA untuk mencari data hubungan
MMI dengan Osama bin Laden, mengetahui aliran dana yang masuk-keluar
MMI, dan melihat sejauh mana keterlibatan MMI dalam konflik Ambon.

Pada 21 September 2001, kantor Wihdah, tempat menyimpan banyak data
MMI, dibobol maling. Empat komputer lenyap. Irfan pun melaporkan
kejadian itu ke polisi. Namun sampai detik ini tidak berhasil
mengungkap siapa malingnya.

Pada 8 Juli 2006, ada acara Arimatea yang menggelar "testimoni mantan
Komandan Laskar Kristus" di Solo. Ustad Abu diundang sebagai keynote
speaker. Beberapa laskar MMI datang untuk menonton testimoni itu.
Ee... ternyata Kaparang! Hampir saja terjadi insiden kalau tidak
dicegah Ustad Abu. Ustad Abu minta supaya diselesaikan di markas MMI.

Esoknya Kaparang diantar ke markas MMI oleh pengurus Arimatea untuk
klarifikasi. Kaparang mengaku agen CIA. Dia minta maaf karena sudah
memfitnah MMI. Misalnya, waktu aktif di kelaskaran, dia sengaja
menzinai beberapa wanita untuk mencoreng nama MMI. Tapi semuanya
gagal. Permintaan maaf itu bisa dipahami. Namun hukum harus ditegakkan
karena soal pencurian itu.

Mengapa MMI?
Sejak kasus Faruq, saya menyadari bahwa M21 sudah jadi TO (target
operasi) oleh CIA dan kompradornya. Bom Pamulang yang menarget Abu
Jibril makin menguatkan keyakinan saya. Namun, kenapa M21 kebobolan terus?

Kami tidak merasa kecolongan. Semua program MMI transparan. M21 adalah
organisasi tansiq amali (aliansi strategis) untuk tathbiqus-syari'ah
(penegakan syariat Islam). Sehingga mau tidak mau harus banyak
berinteraksi dengan para aktivis pejuang syariat. Nah, longgarnya
proses interaksi itulah yang sering dimanfaatkan oleh intel untuk
menjalankan misinya.

Termasuk desepsi, operasi intelijen yang tersulit sekaligus berisiko
tinggi. Kasus syahidnya Syekh Ahmad Yasin dan Rantisi di Palestina dan
Komandan Mujahidin Chechnya Ibnu Khattab adalah korban desepsi
agen-agen CIA dan Mossad. Apakah di Indonesia ada target orang atau
organisasi melalui operasi desepsi? Fakta telah menjawab: ya!

Fauzan Al-Anshari
Ketua Departemen Data dan Informasi MMI
[Kolom, Gatra Edisi 39 Beredar Kamis, 10 Agustus 2006] 

Kirim email ke