Dear Roslina,

Soal intel asing yang jumlahnya ribuan di Indonesia sudah pasti terlalu 
dibesar-besarkan. Kalau toh ada jumlahnya paling ratusan. Mossad juga pasti 
ada, tapi mengingat Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, 
jumlahnya tentu bisa dihitung dengan jari. Di zaman internet dan era 
telekomunikasi yang sudah maju saat ini, tiap negara tak perlu menyebar intel 
berwujud manusia di beberapa negara sebanyak zaman dulu kala.

Setahuku, di masing-masing kedubes selalu ada intelnya. Biasanya mereka 
menduduki jabatan Sekretaris (wakil dubes). Untuk Kedubes Indonesia di LN, 
mereka tak atas nama staf BIN lagi, tapi atas nama staf Deplu. Kalau tak salah, 
Dubes RI di Timor Leste adalah mantan pejabat BIN.










  ----- Original Message ----- 
  From: Roslina Podico 
  To: [email protected] 
  Sent: Sunday, September 09, 2007 6:35 PM
  Subject: Re: [mediacare] Intel Arab - Re: Ada Mossad di Indonesia?


  Mungkinkah saya manusia paling naif dan bodoh yg mempertanyakan: Apa 
  kira-kira kepentingan Mosad di Indonesia? Adakah kemungkinan bahwa Mosad 
  sangat menakuti Indonesia? Setelah membaca ulang uraian teogeoge ttg 
  jumlah 60.000 personil intel asing di Indonesia dan bukan 60.000 intel 
  Israel, sedikit melegakan.
  Coba bayangkan kalau 60.000 personil tersebut semua dari Mosad???

  Langkah berikut, berapa banyak kantor kedutaan/perwakilan bangsa-bangsa 
  lain yg ada di Indonesia? Apakah para ambasador itu menjalankan dua 
  fungsi (representaif) dalam arti mewakili bangsa untuk dikenal negara 
  penerima sekaligus mengenal negara penerima, alias mengamati keadaan 
  negara penemrima ambasador, bin intel atau jadi nara suber bagi negara 
  pengutus?

  Siapakah 60.000 personil yg dimaksud? Berapa persen dari 60.000 tsb. 
  diperkirakan sebagai intel mosad? Mohon petromax!!!

  Salam
  Roslina

  Sunny wrote:
  >
  > Arab itu tidak perlu punya agen, karena telah mendarah daging tiap tahun
  > kurang lebih 200.000 orang pergi ke sana, pasti banyak cerita "rahasia"
  > dibawa oleh mereka. Dan bukan itu saja turut pula mereka menyumbang ke 
  > kas
  > devisa Arab Saudia. Jadi kalah itu si Mosad.
  >
  > ----- Original Message -----
  > From: "urban opini" <[EMAIL PROTECTED] 
  > <mailto:urban_opini%40yahoo.com>>
  > To: <[email protected] <mailto:mediacare%40yahoogroups.com>>
  > Sent: Friday, September 07, 2007 2:03 PM
  > Subject: [mediacare] Intel Arab - Re: Ada Mossad di Indonesia?
  >
  > > Jangan lupa jaringan intel Arab di Indonesia
  > >
  > >
  > > catatan:
  > > termasuk Indonebia?
  > >
  > >
  > >
  > > teogeoge <[EMAIL PROTECTED] <mailto:teogeoge%40yahoo.co.id>> wrote:
  > >
  > > Ada benarnya Agen Mosad masuk ke Indonesia, Jendral Ryamizard
  > > mengatakan ada 60.000 personil intel asing yang berkeliaran di NKRI.
  > >
  > > Mosad sangat berkepentingan di NKRI, buka mata buka
  > > telinga.............dunia tidak seindah negeri dongeng.....
  > >
  > > Salam '45
  > > Teogeoge
  > >
  > > Note :
  > > Komandan yang baik menghasilkan anakbuah yang baik,
  > > komandan yang gombal menghasilkan anak buah yang gombal mukiyo !
  > >
  > >
  > > Desepsi
  > > http://www.gatra.com/2006-08-18/artikel.php?id=97132 
  > <http://www.gatra.com/2006-08-18/artikel.php?id=97132>
  > >
  > > Saya bertemu Jenderal Ryamizard Ryacudu. Saya memanggilnya Abang. Saya
  > > tanya soal pernyataannya tentang 60.000-an agen asing yang beroperasi
  > > di Indonesia itu apa bisa dipertanggungjawabkan. Abang menjawab bahwa
  > > apa yang dikatakannya itu benar-benar valid. Saya yakin, karena dia
  > > mantan KSAD.
  > >
  > > Sebelumnya, Letnan Jenderal (purnawirawan) Z.A. Maulani (almarhum)
  > > memberitahu saya supaya hati-hati terhadap operasi intelijen yang
  > > menggunakan strategi desepsi. Saya ini awam soal intelijen. Saya
  > > tanya, apa maksud desepsi itu. Pak Zen, panggilan akrab Z.A. Maulani,
  > > menjelaskan secara praktis.
  > >
  > > Seorang agen ditanamkan ke tubuh organisasi target, misalnya M21,
  > > panggilan MMI di kalangan intelijen. Si agen harus mampu menjadi orang
  > > kepercayaan dari orang yang ditarget, misalnya Ustad Abu. Tujuan
  > > "kepercayaan" itu sangat penting, misalnya untuk membunuh target atau
  > > mengadu domba dengan pihak lain, dan sebagainya. Nah, penyusupan
  > > seperti itu sehingga agen dianggap "mujahid" inilah yang disebut 
  > desepsi.
  > >
  > > Kasus Abdul Haris
  > > Kasus Abdul Haris tahun 2002 terungkap setelah penangkapan Umar Faruq,
  > > 5 Juni 2002, di Bogor. Padahal, sejak 1995, Haris mengaku sudah
  > > "dipercaya" oleh Irfan S. Awwas, yang kini menjadi Ketua Lajnah
  > > Tanfidziyah MMI. Apakah Irfan tidak tahu bahwa Haris adalah agen BIN?
  > > Saya yakin Irfan tidak tahu. Ini hebatnya Haris.
  > >
  > > Saya pun mengenal Haris sebagai tukang pijat refleksi, karena saya
  > > pernah dipijatnya dan saya beri upah Rp 10.000. Walhasil, tidak ada
  > > info tentang dia yang menunjukkan bahwa Haris adalah planted agent di
  > > tubuh MMI. Semuanya baru terkuak setelah kejadian.
  > >
  > > Kasus Rahmatan
  > > Sekitar Juli 2005, saya ditelepon Asep Rahmatan Kusuma, yang mengaku
  > > sebagai mantan agen CIA di bawah mentor Mr. Erick dari Kedutaan
  > > Amerika Serikat di Jakarta. Katanya, itu amanah dari Pak Irfan, supaya
  > > saya menampung pertobatan Asep. Lalu saya minta Asep ke rumah untuk
  > > merekam testimoninya. Dia menangis, bertobat, dan bersumpah tidak akan
  > > mengulangi lagi dosanya.
  > >
  > > Namun isi testimoninya sangat mencurigakan. Momentumnya bertepatan
  > > ketika Kepala BIN Syamsir Siregar menyatakan bahwa pihaknya akan
  > > menyusup dan mengadu domba para aktivis kelompok Islam radikal.
  > > Kemudian, menurut dia, modus operasi para teroris telah berubah dari
  > > pengeboman menjadi penculikan pejabat publik.
  > >
  > > Asep mengaku telah minta "restu" kepada Ustad Abu terkait pengaktifan
  > > MMI di Tangerang. Namun "restu" itu tampaknya akan dialihkan untuk
  > > "merestui" rencana serangan little nine one-one (versi mini 911) yang
  > > akan dioperasikan oleh JI Umar Patek dengan pesawat remote control.
  > > Namun misi ini gagal total.
  > >
  > > Kasus Kaparang
  > > Sekitar September 2001, seorang yang mengaku mualaf (orang yang baru
  > > masuk Islam dan perlu disantuni) datang ke markas MMI. Ia mengaku
  > > bernama Lalu Muhammad Hasan alias Ihsan. Nama aslinya Andronikus
  > > Kaparang. Ia mengklaim sebagai Komandan Laskar Kristus wilayah
  > > Indonesia Timur. Ia mengaku disuruh CIA untuk mencari data hubungan
  > > MMI dengan Osama bin Laden, mengetahui aliran dana yang masuk-keluar
  > > MMI, dan melihat sejauh mana keterlibatan MMI dalam konflik Ambon.
  > >
  > > Pada 21 September 2001, kantor Wihdah, tempat menyimpan banyak data
  > > MMI, dibobol maling. Empat komputer lenyap. Irfan pun melaporkan
  > > kejadian itu ke polisi. Namun sampai detik ini tidak berhasil
  > > mengungkap siapa malingnya.
  > >
  > > Pada 8 Juli 2006, ada acara Arimatea yang menggelar "testimoni mantan
  > > Komandan Laskar Kristus" di Solo. Ustad Abu diundang sebagai keynote
  > > speaker. Beberapa laskar MMI datang untuk menonton testimoni itu.
  > > Ee... ternyata Kaparang! Hampir saja terjadi insiden kalau tidak
  > > dicegah Ustad Abu. Ustad Abu minta supaya diselesaikan di markas MMI.
  > >
  > > Esoknya Kaparang diantar ke markas MMI oleh pengurus Arimatea untuk
  > > klarifikasi. Kaparang mengaku agen CIA. Dia minta maaf karena sudah
  > > memfitnah MMI. Misalnya, waktu aktif di kelaskaran, dia sengaja
  > > menzinai beberapa wanita untuk mencoreng nama MMI. Tapi semuanya
  > > gagal. Permintaan maaf itu bisa dipahami. Namun hukum harus ditegakkan
  > > karena soal pencurian itu.
  > >
  > > Mengapa MMI?
  > > Sejak kasus Faruq, saya menyadari bahwa M21 sudah jadi TO (target
  > > operasi) oleh CIA dan kompradornya. Bom Pamulang yang menarget Abu
  > > Jibril makin menguatkan keyakinan saya. Namun, kenapa M21 kebobolan 
  > terus?
  > >
  > > Kami tidak merasa kecolongan. Semua program MMI transparan. M21 adalah
  > > organisasi tansiq amali (aliansi strategis) untuk tathbiqus-syari'ah
  > > (penegakan syariat Islam). Sehingga mau tidak mau harus banyak
  > > berinteraksi dengan para aktivis pejuang syariat. Nah, longgarnya
  > > proses interaksi itulah yang sering dimanfaatkan oleh intel untuk
  > > menjalankan misinya.
  > >
  > > Termasuk desepsi, operasi intelijen yang tersulit sekaligus berisiko
  > > tinggi. Kasus syahidnya Syekh Ahmad Yasin dan Rantisi di Palestina dan
  > > Komandan Mujahidin Chechnya Ibnu Khattab adalah korban desepsi
  > > agen-agen CIA dan Mossad. Apakah di Indonesia ada target orang atau
  > > organisasi melalui operasi desepsi? Fakta telah menjawab: ya!
  > >
  > > Fauzan Al-Anshari
  > > Ketua Departemen Data dan Informasi MMI
  > > [Kolom, Gatra Edisi 39 Beredar Kamis, 10 Agustus 2006]
  > >
  > >
  > > Mailing list:
  > > http://groups.yahoo.com/group/mediacare/ 
  > <http://groups.yahoo.com/group/mediacare/>
  > >
  > > Blog:
  > > http://mediacare.blogspot.com <http://mediacare.blogspot.com>
  > >
  > > http://www.mediacare.biz <http://www.mediacare.biz>
  > >
  > >
  > >
  > > Yahoo! Groups Links
  > >
  > >
  > >
  > >
  > >
  > > --
  > > No virus found in this incoming message.
  > > Checked by AVG Free Edition.
  > > Version: 7.5.485 / Virus Database: 269.13.8/993 - Release Date: 
  > 9/6/2007
  > > 3:18 PM
  > >
  > >
  >
  > 


   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.485 / Virus Database: 269.13.9/994 - Release Date: 07/09/2007 
16:40

Kirim email ke