salam

smoga rahmat Allah menyertai sahabat sekalian di bulan sya'ban ini
bagi saya adalah hak setiap insan untuk beribadah beramal kebaikan yang
semoga menjadi kesolehan di mata Allah SWT...jadi bagi mereka yang berilmu
mengetahui pengetahuan tentang manfaat beribadah di bulan ini silahkan saja
...tapi dengan ilmu dan niat...tulus .mungkin yang harus di garis bawahi
adalah jangan berharap pahala dulu ...berharaplah ampunan Allah
...bertaubatlah karena jika yang di harap ampunan dan bertaubat maka  *
sayyiah* keburukan/kejahatan mereka akan di ganti Allah dengan *khasanah k*
ebajikan.

QS.25:70.  Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal
saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.



KALO ADA YANG MENGKLAIM IBADAH KITA TERTOLAK DI BULAN SYA'BAN INI ...DIA TDK
PUNYA OTORITAS  SAMA SEKALI ..HANYA ALLAH AZZA WAJALLA PEMILIK SEGALA AMAL
PERBUATAN IA MENGETAHUI ISI HATI STIAP HAMBANYA ...



QS.3:154.  Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu
keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu, sedang
segolongan lagi Telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka
yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah]. mereka berkata:
"Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?".
Katakanlah: "Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah". mereka
menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu;
mereka berkata: "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan)
dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini".
Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang
Telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka
terbunuh". dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam
dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu*. Allah Maha
mengetahui isi hati.*



jadi sahabat sekalian ibadah kita haruslah tulus ikhlas berangkat dari
kecintaan ...atau paling tidak ketakutan kita akan banyaknya dosa dan
kesalahan ....bukan karena iming iming pahala...(yang konon di bulan ini di
lipat gandakann)



carilah rujukan (berbagai sumber)..tanyakan pada ulama...kalo gak ngerti
juga BINGUNG...tanyalah kepada Allah pemilik segala urusan (Shalat
Istikharah)...







QS. 2:255.  *Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia
yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk
dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang
dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui
apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak
mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.
Kursi[ Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat
memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.*



SILAHKAN DI RENUNGKAN KEMBALI

WASSALAM


On 8/31/07, teddy septiadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Assalammu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh
>
> Semoga artikel dibawah cukup bermanfaat bagi saya dan antum.  Afwan jika
> kurang berkenan...
>
> Wassalammu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh
>
>
> HUKUM UPACARA PERINGATAN MALAM NISFI SYA'BAN
>
>
> Oleh
> Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
>
>
>
> Segala puji hanyalah bagi Allah yang telah menyempurnakan agama-Nya bagi
> kita, dan mencukupkan nikmat-Nya kepada kita, semoga shalawat dan salam
> selalu dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad shalallahu
> 'alaihi wasallam pengajak ke pintu tobat dan pembawa rahmat.
>
> Amma ba'du:
>
> Sesungguhnya Allah telah berfirman:
>
> "Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah
> Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama
> bagimu." [Al-Maidah :3]
>
> "Artinya : Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang
> mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diridhoi Allah? Sekirannya tak
> ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka sudah
> dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zhalim itu akan memperoleh
> adzab yang pedih." [Asy-Syura' : 21]
>
> Dari Aisyah radhiallahu 'anha dari Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi
> wasallam, bahwa beliau bersabda, "Barangsiapa mengada-adakan suatu perkara
> (dalam agama) yang sebelumnya belum pernah ada, maka ia tertolak."
>
> Dalam lafazh Muslim: "Barangsiapa mengerjakan perbuatan yang tidak kami
> perintahkan (dalam agama), maka ia tertolak."
>
> Dalam Shahih Muslim dari Jabir radhiallahu 'anhu bahwasanya Nabi pernah
> bersabda dalam khutbah Jum'at: Amma ba'du, sesungguhnya sebaik- baik
> perkataan adalah Kitab Allah (Al-Qur'an), dan sebaik-baik petunjuk adalah
> petunjuk Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam, dan sejahat-jahat perbuatan
> (dalam agama) ialah yang diada-adakan, dan setiap bid'ah (yang diada-adakan)
> itu adalah sesat."
>
> Masih banyak lagi hadits-hadits yang senada dengan hadits ini, hal mana
> semuanya menunjukkan dengan jelas, bahwasanya Allah telah menyempurnakan
> agama ini untuk umat-Nya. Dia telah mencukupkan nikmat- Nya bagi mereka; Dia
> tidak mewafatkan Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam kecuali sesudah
> beliau menyelesaikan tugas penyampaian risalahnya kepada umat dan
> menjelaskan kepada mereka seluruh syariat Allah, baik melalui ucapan maupun
> pengamalan. Beliau menjelaskan segala sesuatu yang akan diada-adakan oleh
> sekelompok manusia sepeninggalnya dan dinisbahkan kepada ajaran Islam baik
> berupa ucapan maupun perbuatan, semuanya itu bid'ah yang tertolak, meskipun
> niatnya baik. Para shahabat dan ulama' mengetahui hal ini, maka mengingkari
> perbuatan-perbuatan bid'ah dan memperingatkan kita darinya. Hal itu
> disebutkan oleh mereka yang mengarang tentang pengagungan sunnah dan
> pengingkaran bid'ah, seperti Ibnu Wadhdhoh Ath Tharthusyi dan Abu Syaamah
> dan lain sebagainya.
>
> Di antara bid'ah yang biasa dilakukan oleh banyak orang ialah bid'ah
> mengadakan upacara peringatan malam Nisfu Sya'ban dan mengkhususkan pada
> hari tersebut dengan puasa tertentu. Padahal tidak ada satupun dalil yang
> dapat dijadikan sandaran, ada hadist-hadits tentang fadhilah malam tersebut
> tetapi hadits-hadits tersebut dlaif sehingga tidak dapat dijadikan landasan.
> Adapun hadits-hadits yang berkenaan dengan keutamaan shalat pada hari itu
> adalah maudhu'.
>
> Dalam hal ini, banyak di antara para 'ulama yang menyebutkan tentang
> lemahnya hadits-hadits yang berkenaan dengan pengkhususan puasa dan fadhilah
> shalat pada hari Nisfu Sya'ban, selanjutnya akan kami sebutkan sebagian dari
> ucapan mereka. Pendapat para ahli Syam di antaranya Hafizh Ibnu Rajab dalam
> bukunya "Lathaiful Ma'arif" mengatakan bahwa perayaan malam Nisfu Sya'ban
> adalah bid'ah dan hadits-hadits yang menerangkan keutamaannya lemah.
> Hadits-hadits lemah bisa diamalkan dalam ibadah jika asalnya didukung oleh
> hadits-hadits shahih, sedangkan upacara perayaan malam Nisfu Sya'ban tidak
> ada dasar hadits yang shahih sehingga tidak bisa didukung dengan dalil
> hadits- hadits dhaif.
>
> Ibnu Taimiyah telah menyebutkan kaidah ini dan kami akan menukil pendapat
> para ahli ilmu kepada sidang pembaca sehingga masalahnya menjadi jelas; para
> ulama' telah bersepakat bahwa merupakan suatu keharusan untuk mengembalikan
> segala apa yang diperselisihkan manusia kepada Kitab Allah (Al-Qur'an) dan
> Sunnan Rasul (Al-Hadits), apa saja yang telah digariskan hukumnya oleh
> keduanya atau salah satu daripadanya, maka wajib diikuti dan apa saja yang
> bertentangan dengan keduanya maka harus ditinggalkan, serta segala sesuatu
> amalan ibadah yang belum pernah disebutkan adalah bid'ah; tidak boleh
> dikerjakan apabila mengajak untuk mengerjakannya atau memujinya.
>
> Allah berfirman dalam surat An-Nisaa':
>
> "Artinya : Hai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya,
> dan Ulil Amri (pemimpin-pemimpin) di antara kamu, maka jika kamu berselisih
> pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan
> Rasul (Sunnah) jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.
> Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya."
> [An-Nisaa': 59]
>
> "Artinya : Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka keputusannya
> (terserah) kepada Allah (yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah
> Tuhanku. Kepada-Nyala aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali."
> [Asy-Syuraa: 10]
>
> "Artinya : Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman
> hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka
> perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa sesuatu keberatan dalam hati
> mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima sepenuhnya."
> [An-Nisaa' : 65]
>
> Dan masih banyak lagi ayat-ayat Al-Qur'an yang semakna dengan ayat- ayat
> di atas, ia merupakan nash atau ketentuan hukum yang mewajibkan agar supaya
> masalah-masalah yang diperselisihkan itu dikembalikan kepada Al-Qur'an dan
> Hadits, selain mewajibkan kita agar rela terhadap hukum yang ditetapkan oleh
> keduanya (Al-Qur'an dan Hadits).
>
> Demikianlah yang dikehendaki oleh Islam, dan merupakan perbuatan baik bagi
> seorang hamba terhadap Tuhannya, baik di dunia atau di akherat nanti,
> sehingga pastilah ia akan menerima balasan yang setimpal.
>
> Dalam pembicaraan masalah malam Nisfu Sya'ban Ibnu Rajab berkata dalam
> bukunya "Lathaiful Ma'arif", "Para Tabi'in dari ahli Syam (Syiria, sekarang)
> seperti Khalid bin Ma'daan, Makhul, Luqman dan lainnya pernah
> mengagung-agungkan dan berijtihad melakukan ibadah pada malam Nisfu Sya'ban
> kemudian orang- orang berikutnya mengambil keutamaan dan pengagungan itu
> dari mereka.
>
> Dikatakan bahwa mereka melakukan perbuatan demikian itu karena adanya
> cerita-cerita israiliyat, tatkala masalah itu tersebar ke penjuru dunia,
> berselisihlah kaum muslimin; ada yang menerima dan menyetujuinya ada juga
> yang mengingkarinya. Golongan yang menerima adalah Ahli Bashrah dan lainyya
> seang golongan yang mengingkarinya adalah mayoritas ulama Hijaz (Saudi
> Arabia, sekarang), seperti Atha' dan Ibnu Abi Malikah dan dinukil oleh
> Abdurrahman bin Zaid bi Aslam dari fuqaha' Madinah, yaitu ucapan Ashhabu
> Malik dan lain-lainnya. Mereka mengatakan bahwa semua perbuatan itu bid'ah.
> Adapun pendapat ulama' ahli Syam berbeda dalam pelaksanaannya dengan dua
> pendapat:
>
> [1]. Menghidup-hidupkan malam Nisfu Sya'ban dalam masjid dengan berjamah
> adalah mustahab (disukai Allah).
> Dahulu Khalid bin Ma'daan dan Luqman bin Amir memperingati malam tersebut
> dengan memakai pakaian paling baru dan mewah, membakar menyan, memakai celak
> dan mereka bangun malam menjalankan shalatul lail di masjid. Ini disetujui
> oleh Ishaq bin Ruhwiyah, ia berkata: "Menjalankan ibadah di masjid pada
> malam itu secara jamaah tidak bid'ah." Hal ini dicuplik oleh Harbu
> Al-Kirmany.
>
> [2]. Berkumpulnya manusia pada malam Nisfu Sya'ban di masjid untuk shalat,
> bercerita dan berdo'a adalah makruh hukumnya, tetapi boleh jika menjalankan
> shalat khusus untuk dirinya sendiri. Ini pendapat Auza'iy Imam Ahlu Syam,
> sebagai ahli fiqh dan cendekiawan mereka. Insya Allah pendapat inilah yang
> mendekati kebenaran, sedangkanpendapat Imam Ahmad tentang malam tentang
> malam Nisfu Sya'ban ini,tidak diketahui."
>
> Ada dua riwayat sebagai sebab cenderungnya diperingati malam Nisfu
> Sya'ban, dari antara dua riwayat yang menerangkan tentang dua malam hari
> raya (Idul Fitri dan Idul Adha). Dalam satu riwayat berpendapat bahwa
> memperingati dua malam hari raya dengan berjamaah adalah tidak disunnahkan,
> karena hal itu belum pernah dikerjakan oleh Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi
> wasallam dan para shahabatnya. Riwayat lain berpendapat bahwa malam tersebut
> disunnahkan, karena Abdurrahman bin Yazid bin Aswad pernah mengerjakannya,
> dan ia termasuk tabi'in, begitu pula tentang malam Nisfu Sya'ban, Nabi belum
> pernah mengerjakannya atau menetapkannya, termasuk juga para sahabat, itu
> hanya ketetapan dari golongan tabi'in ahli fiqih Syam. Demikian maksud dari
> Al-Hafizh Ibnu Rajab (semoga Allah melimpahkan rahmat kepadanya).
>
> Ia mengomentari bahwa tidak ada suatu ketetapan pun tentang malam Nisfu
> Sya'ban ini, baik itu dari Nabi maupun dari para shahabat. Adapun pendapat
> Imam Auza'iy tentang bolehnya (istihbab) menjalankan shalat pada malam hari
> itu secara individu dan penukilan Al-Hafizh Ibnu Rajab dalam pendapatnya itu
> adalah gharib dan dhaif, karena segala perbuatan syariah yang belum pernah
> ditetapkan oleh dalil-dalil syar'iy, tidak boleh bagi seorang pun dari kaum
> muslimin mengada- adakannya dalam Islam, baik itu dikerjakan secara individu
> ataupun kolektif, baik itu dikerjakan secara sembunyi-sembunyi ataupun
> terang- terangan, sebab keumuman hadits Nabi:
>
> "Barangsiapa mengerjakan suatu amalan (dalam agama) yang tidak kami
> perintahkan, maka ia tertolak."
>
> Dan banyak lagi hadits-hadits yang mengingkari perbuatan bid'ah dan
> memperingatkan agar dijauhi.
>
> Imam Abubakar Ath-Thurthusyiy berkata dalam bukunya, "Al-Hawadits wal
> Bida", "Diriwayatkan oelh Wadhdhah dari Zaid bin Aslam berkata: kami belum
> pernah melihat seorang pun dari sesepuh dan ahli fiqih kami yang menghadiri
> perayaan malam Nisfu Sya'ban, tidak mengindahkan hadits Makhul (dhaif) dan
> tidak pula memandang adanya keutamaan pada malam tersebut terhadap
> malam-malam lainnya. Dikatakan kepada Ibnu Malikah bahwasanya Ziad An
> Numairiy berkata: Pahala yang didapat (dari ibadah) pada malam Nisfu Sya'ban
> menyamai pahala Lailatul Qadar. Ibnu Malikah menjawab: Seandainya saya
> mendengarnya sedang di tangan saya ada tongkat, pasti saya pukul. Ziad
> adalah seorang penceramah.
>
> Al-'Allaamah Syaukani menulis dalam bukunya, Al-Fawaaidul Majmu'ah,
> sebagai berikut: Hadits:
>
> "Wahai Ali, barangsiapa melakukan shalat pada malam Nisfu Sya'ban sebanyak
> 100 rakaat; ia membaca setiap rakaat Al-Fatihah dan Qul Huwallahu Ahad
> sebanyak sepuluh kali, pasti Allah memenuhi segala kebutuhannya... dan
> seterusnya."
>
> Hadits ini adalah maudhu', pada lafazh-lafazhnya menerangkan tentang
> pahala yang akan diterima oleh pelakunya adalah tidak diragukan kelemahannya
> bagi orang berakal, sedangkan sanadnya majhul (tidak dikenal). Hadits ini
> diriwayatkan dari jalan kedua dan ketiga, kesemuanya maudhu' dan
> perawi-perawinya majhul.
>
> Dalam kitab "Al Mukhtashar" Syaukani melanjutkan : Hadits yang menerangkan
> shalat Nisfu Sya'ban adalah batil. Ibnu Hibban meriwayatkan hadits dari Ali
> radhiallahu 'anhu: Jika datang malam Nisfu Sya'ban bershalat malamlah dan
> berpuasalah pada siang harinya, adalah dhaif. Dalam buku Allaali'
> diriwayatkan bahwa: Seratus rakaat dengan tulus ikhlas pada malam Nisfu
> Sya'ban adalah pahalanya sepuluh kali lipat. Hadits riwayat Ad Dailamiy,
> hadits ini maudhu' tetapi mayoritas perawinya pada jalan ketiga majhul dan
> dhaif (leman). Imam Syaukani berkata: Hadits yang menerangkan bahwa dua
> belas rakaat dengan tulus ikhlas pahalanya adalah tiga puluh kali lipat,
> maudhu'. Dan hadits empat belas rakaat ... dan seterusnya adalah maudhu'
> (tidakbisa diamalkan dan harus ditinggalkan, pent).
>
> Para fuqaha' banyak tertipu dengan hadits-hadits di atas, seperti
> pengarang Ihya' Ulumuddin dan lainnya juga sebagian dari mufassirin. Telah
> diriwayatkan bahwa, shalat pada malam ini, yakni malam Nisfu Sya'ban yang
> telah tersebar ke seluruh pelosok dunia itu, semuanya adalah bathil/tidak
> benar dan haditsnya adalah maudhu'.
>
> Anggapan itu tidak bertentangan dengan riwayat Tirmidzi dari hadits Aisyah
> bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam pergi ke Baqi' dan Tuhan turun
> ke langit dunia pada malam Nisfu Sya'ban untuk mengampuni dosa sebanyak
> jumlah bulu domba dan bulu kambing. Sesungguhnya perkataan tersebut berkisar
> tentang shalat pada malam itu, tetapi hadits Aisyah ini lemah dan sanadnya
> munqathi' (terputus) sebagaimana hadits Ali yang telah disebutkan di atas
> mengenai malam Nisfu Sya'ban, jadi dengan jelas bahwa shalat malam itu juga
> lemah dasarnya.
>
> Al-Hafizh Al-Iraqi berkata: Hadits (yang menerangkan) tentang shalat Nisfu
> Sya'ban maudhu' dan pembohongan atas diri Rasulullah shalallahu 'alaihi
> wasallam. Dalam kitab Al Majmu', Imam Nawawi berkata: Shalat yang sering
> kita kenal dengan shalat Raghaib ada (berjumlah) dua belas raka'at
> dikerjakan antara Maghrib dan Isya' pada malam Jum'at pertama bulan Rajab;
> dan shalat seratus rakaat pada malam Nisfu Sya'ban. Dua shalat itu adalah
> bid'ah dan mungkar. Tak boleh seseorang terpedaya oleh kedua hadits itu
> hanya karena telah disebutkan di dalam buku Quutul Quluub dan Ihya'
> Ulumuddin. Sebab pada dasarnya hadits-hadits tersebut batil (tidak boleh
> diamalkan). Kita tidak boleh cepat mempercayai orang-orang yang menyamarkan
> hukum bagi kedua hadits, yaitu dari kalangan Aimmah yang kemudian mengarang
> lembaran-lembaran untuk membolehkan pengamalan kedua hadits, dengan demikian
> berarti salah kaprah.
>
> Syaikh Imam Abu Muhammad Abdurrahman Ibnu Ismail al Muqadaasiy telah
> mengarang sebuah buku yang berharga; Beliau menolak (menganggap batil) kedua
> hadits (tentang malam Nisfu Sya'ban dan malam Jum'at pertama pada bulan
> Rajab), ia bersikap (dalam mengungkapkan pendapatnya) dalam buku tersebut,
> sebaik mungkin. Dalam hal ini telah banyak pengapat para ahli ilmu; maka
> jika kita hendak memindahkan pendapat mereka itu, akan memperpanjang
> pembicaraan kita. Semoga apa-apa yang telah kita sebutkan tadi, cukup
> memuaskan bagi siapa saja yang berkeinginan untuk mendapat sesuatu yang haq.
>
> Dari penjelasan di atas tadi, seperti ayat-ayat Al-Qur'an dan beberapa
> hadits serta pendapat para ulama, jelaslah bagi pencari kebenaran (haq)
> bahwa peringatan malam Nisfu Sya'ban dengan pengkhususan shalat atau
> lainnya, dan pengkhususan siang harinya dengan puasa; itu semua adalah
> bid'ah dan mungkar tidak ada dasar sandarannya dalam syariat ini (Islam),
> bahkan hanya merupakan pengada-adaan saja dalam Islam setelah masa hidupnya
> para shahabat radhiallahu 'anhu. Marilah kita hayati ayat Al-Qur'an di
> bawah:
>
> "Artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah
> Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama
> bagimu."[Al-Maidah : 3]
>
> Dan banyak lagi ayat-ayat lain yang semakna dengan ayat di atas.
> Selanjutnya Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa
> mengada-adakan sesuatu perkara dalam agama (sepeninggalku), yang sebelumnya
> belum pernah ada, maka ia tertolak."
>
> Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah pernah
> bersabda: "Janganlah kamu sekalian mengkhususkan malam Jum'at daripada
> malam-malam lainnya dengan suatu shalat, dan janganlah kamu sekalian
> mengkhususkan siang hariny autk berpuasa daripada hari-hari lainnya, kecuali
> jika (sebelumnya) hari itu telah berpuasa seseorang di antara kamu." [Hadits
> Riwayat. Muslim]
>
> Seandainya pengkhususan suatu malam dengan ibadah tertentu itu dibolehkan
> oleh Allah, maka bukanlah malam Jum'at itu lebih baik daripada malam-malam
> lainnya, karena pada hari itu adalah sebaik-baik hari yang disinari
> matahari? Hal ini berdasarkan hadits-hadits
> Rasulullah yang shahih.
>
> Tatkala Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam melarang untuk
> mengkhususkan shalat pada malam hari itu daripada malam lainnya, hal itu
> menunjukkan bahwa pada malam lain pun lebih tidak boleh dikhususkan dengan
> ibadah tertentu, kecuali jika ada dalil shahih yang
> mengkhususkannya/menunjukkan atas kekhususannya. Menakala malam Lailatul
> Qadar dan malam-malam blan puasa itu disyariatkan supaya shalat dan
> bersungguh-sungguh dengan ibadah tertentu. Nabi mengingatkan dan
> menganjurkan kepada umatnya agar supaya melaksanakannya, beliau pun juga
> mengerjakannya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih dari Nabi
> Muhammad shalallahu 'alaihi
> wasallam, bahwasanya beliau bersabda:
>
> "Artinya : Barangsiapa berdiri (melakukan shalat) pada bulan Ramadhan
> dengan penuh rasa iman dan harapan (pahala), niscaya Allah akan mengampuni
> dosanya yang telah lewat. Dan barangsiapa berdiri (melakukan shalat) pada
> malam Lailatul Qadar dengan penuh rasa iman dan harapan (pahala), niscaya
> Allah akan mengampuni dosanya yang telah lewat." [Muttafaqun 'alaih]
>
> Jika seandainya malam Nisfu Sya'ban, malam Jum'at pertama pada bulan
> Rajab, serta malam Isra' Mi'raj diperintahkan untuk dikhususkan dengan
> upacara atau ibadah tentang, pastilah Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi
> wasallam menunjukkan kepada umatnya atau beliau menjalankannya sendiri. Jika
> memang hal itu pernah terjadi, niscaya telah disampaikan oleh para shahabat
> kepada kita; mereka tidak akan menyembunyikannya,
> karena mereka adalah sebaik-baik manusia dan yang paling banyak memberi
> nasehat setelah para nabi.
>
> Dari pendapat-pendapat ulama' tadi anda dapat menyimpulkan bahwasanya
> tidak ada ketentuan apapun dari Rasulullah ataupun dari para shahabat
> tentang keutamaan malam Nisfu Sya'ban dan malam Jum'at pertama pada bulan
> Rajab. Dari sini kita tahu bahwa memperingati perayaan kedua malam tersebut
> adalah bid'ah yang diada-adakan dalam Islam, begitu pula pengkhususan dengan
> ibadah tentang adalah bid'ah mungkar; sama halnya dengan malam 27 Rajab yang
> banyak diyakini orang sebagai malam Isra' dan Mi'raj, begitu juga tidak
> boleh dikhususkan dengan ibadah- ibadah tertentu selain tidak boleh
> dirayakan dengan ibadah-ibadah tertentu selain tidak boleh dirayakan dengan
> upacara-upacara ritual, berdasarkan dalil-dalil yang disebutkan tadi.
>
> Demikianlah, maka jika anda sekalian sudah mengetahui, bagaimana sekarang
> pendapat anda? Yang benar adalah pendapat para ulama' yang menandaskan tidak
> diketahuinya malam Isra' dan Mi'raj secara tepat. Omongan orang bahwa malam
> Isra dan Mi'raj itu jatuh pada tanggal 27 Rajab adalah batil, tidak
> berdasarkan pada hadits-hadits shahih. Maka benar orang yang mengatakan;
>
> "Dan sebaik-baik suatu perkara adalah yang telah dikerjakan oleh para
> salaf, yang telah mendapat petunjuk. Dan sehina-hina perkara (dalam agama),
> yaitu perkara yang diada-adakan berupa bid'ah-bid'ah."
>
> Allahlah yang bertanggung jawab untuk melimpahkan taufiq-Nya kepada kita
> dan kaum muslimin semua, taufiq untuk tetap berpegang teguh dengan sunnah
> dan konsisten di atasnya, serta waspada terhadap hal-hal yang bertentangan
> dengannya, karena hanya Allah yang terbaik dan termulia.
>
> Semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada hamba-nya dan
> Rasul-Nya Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam begitu pula atas keluarga dan
> para shahabat beliau. Amiin.
>
> [Disalin dari kitab Waspada Terhadap Bid'ah Oleh Syaikh Abdul Aziz bin
> Abdullah bin Baz, Penerjemah Farid Ahmad Oqbah, Riyadh: Ar-Raisah Al-'Ammah
> li-IdaratiAl-Buhuts Al-'Ilmiah wa Al-Ifta' wa Ad-Da'wah wa Al-Irsyad, 1413
> H]
>
>
>
> Sumber :
> http://almanhaj.or.id/index.php?action=more&article_id=788&bagian=0
>
>
>
> [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
>
> assalamu'alaikum wr wb
> tolong beritahukan tentang kebiasaaan Rasulullah SAW pada bulan yang mulia
> ini.
> wassalam
>
>
> --------------------------------
> E-mail Provide by. TrunojoyoMail
> http://mail.trunojoyo.ac.id/
>
>
> ------------------------------
> Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo!
> Answers<http://sg.rd.yahoo.com/mail/id/footer/def/*http://id.answers.yahoo.com/>>
>


-- 
lebih baik nekat ke surga dari pada terencana masuk neraka

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs http://www.mediamuslim.info). Kirim artikel, 
pendapat/opini, informasi dan lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke