sing sabar pak, semoga tulisan dibawah ini bisa membuat kita
merenung.
           Wass,
=====================================================
           
Segala puji bagi Allah swt. yang telah menyematkan cinta dalam sanubari
umat manusia. Shalawat dan salam semoga tercurah selalu kehadirat
baginda rasul Muhammad saw. yang telah menghantarkan umat manusia dari
alam kebohongan, dunia yang haus akan cinta, kegelapan kasih sayang dan
kubangan dosa menuju surga kejujuran, taman makrifat, kebun keyakinan,
dan pekarangan iman. 
 
 Rasulullah saw. bersabda; "Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian
beriman dan iman kalian (tidak sempurna) hingga kalian saling mencintai.
Maukah kalian aku tunjukkan suatu perbuatan, jika kalian melakukannya,
niscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkan salam di antara kalian!
(HR Muslim)
 
Begitu indah ajaran yang dibawa Rasulullah saw, di mana beliau
menjadikan rasa cinta dan kasih sayang di antara sesama sebagai
barometer kesempurnaan iman kepada Allah swt.. Lebih dari itu,
Rasulullah saw. menegaskan bahwa cinta dan kasih sayang kepada sesama
menjadi kunci pembuka pintu surga. Hal ini terlihat dengan jelas melalui
kisah seorang lelaki yang selalu disebut-sebut Rasulullah saw. sebagai
sosok penghuni surga di hadapan para sahabat. 
 
Mendengar hal itu, tebersit dalam hati Ibnu Umar untuk mencari tahu
perihal pria tersebut. Ia pun bermalam di rumahnya selama beberapa hari.
Setelah beberapa malam berada di rumahnya, Ibnu Umat tidak mendapati
sesuatu yang lebih dalam diri pria tersebut. Karena heran, Ibnu Umar-pun
bertanya kepadanya amalan, yang dengannya Rasulullah saw. merasa bangga
dan menyatakan, �lihatlah orang yang berada di pintu, dia adalah salah
seorang penghuni surga '. 
 
Pria itu pun berkata, sesungguhnya ketika aku beristirahat di malam
hari, hatiku tidak lagi menyimpan iri atau dengki terhadap seorang
muslim pun.
 
Cinta dan kasih sayang, itulah yang menjadi kunci pria tersebut masuk
surga. Karenanya, mari kita bangun tali cinta, persatuan dan kasih antar
sesama. Hilangkan kedengkian, kebencian ataupun permusuhan yang selama
ini terpendam dalam hati, karena semua itu hanya akan mendatangkan
malapetaka, rasa duka yang tidak kunjung hilang, bahkan menjadi
penghalang masuk ke dalam surga. Juga jangan lupa untuk membaca doa yang
telah diajarkan Allah swt. dan rasul-Nya kepada kita, agar hati ini
jangan sampai menyimpan ghill  terhadap orang lain, terutama kepada umat
Islam. 
 
Doa itu adalah, 

"Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah
beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan
kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan
kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."
 
Artikel ini bagian dari buku "BERSATULAH WAHAI UMAT ISLMA" Karya DR Aid
Abdullah AlQarni


-----Original Message-----
From: [email protected]
[mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Ajie Triaji
Sent: Wednesday, November 07, 2007 12:35 PM
To: [email protected]
Subject: [mediamusliminfo] Re: Ramai-ramai Menghujat Fatwa MUI


lhoo..apakah mas ngga merasa kl islam itu terkotak-kotak..??kamu islam
apa..?anda islam apa..?sy nga pernah bermaksud menyebut nama satu
aliran/golongan islam tertentu...
sudahlah mas sy ngga mau ngebahas lagi....plis yaaaa udah capek umat ini
sy berusaha menjadi Muslim yg seutuhnya bagi dunia dan akhirat...

[EMAIL PROTECTED] wrote:


Boleh tau Maksud Tanggapan Antum Sebenarnya ditujukana kepada Siapa?yang
dianggap mengkotak-kotakkan Islam?

> Astagfirullah.....
> KENAPA SIH UMAT ISLAM INI..??????????kok maen hujat
menghujat..BUKANNYA
> MEMPERSATUKAN UMAT TANPA PENGKOTAK-KOTAKAN MALAH MENGHANCURKAN
UMAT.....no
> wonderkl banyak yg keluar dari Islam...
> wassalam..
>
> [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
> Ramai-ramai Menghujat Fatwa MUI
>
> Kaum liberalis sewot. MUI dikatakan ‘tolol’. Jika mereka istiqamah
paham
> liberal, seharusnya membiarkan perbedaan dan tak kebakaran jenggot.
Baca Catatan
> Akhir Pekan (CAP) Adian Husaini ke-111
>
>
>
> Oleh:Adian Husaini MA
>
>
>
>
> Dalam Munasnya ke-7 di Jakarta, 24-29 Juli2 2005, Majelis Ulama
Indonesia (MUI)
> mengeluarkan 11 fatwa. Berbeda dengan fatwa-fatwa sebelumnya,
fatwa-fatwa MUI
> kali ini – khususnya tentang Ahmadiyah, Liberalisme, Pluralisme, dan
> Liberalisme – menuai kecaman, hantaman, dan tentangan yang sangat
hebat. Sejak
> fatwa itu ditetapkan, pada 29 Juli 2005, tiada hari tanpa cacian dan
hujatan
> terhadap MUI. Ada yang menyatakan, MUI tolol, MUI konservatif, dan
sebagainya.
>
> Para pihak, khususnya kelompok yang selama ini mengaku Islam Liberal
dan pemeluk
> paham Pluralisme yang tertohok oleh fatwa-fatwa MUI itu, segera
melakukan
> perlawanan habis-habisan.
>
> Fatwa-fatwa MUI, kata Syafii Anwar, Direktur International Centre for
Islam and
> Pluralism, menilai fatwa-fatwa MUI itu adalah sebuah kemunduran yang
luar biasa.
> “MUI hendaknya tidak menjadi polisi akidah atau polisi iman bagi umat
Islam di
> Indonesia,” kata Syafii, doctor alumnus University of Melbourne.
>
> “Fatwa MUI itu punya dampak sangat buruk bagi kehidupan keberagamaan
di negeri
> ini,” kata Ulil Abshar Abdalla, koorinator Jaringan Islam Liberal,
kepada
> majalah GATRA (6/8/2005). Ia juga menegaskan, bahwa fatwa MUI bukanlah
hukum
> yang mengikat umat Islam. Fatwa artinya semacam “legal opinion”, atau
pendapat
> hukum, tetapi bukan hukum itu sendiri. “Yang percaya silakan ikut.
Yang tidak
> juga ndak berdosa.
>
> Jadi, katanya, hukumnya mempercayai fatwa MUI itu mubah, artinya boleh
> dipercaya, boleh tidak.”
>
> Di negara yang sedang menikmati kebebasan informasi dan kebebasan
berpendapat,
> maka berbagai model dan jenis opini bisa berlalu lalang secara bebas.
Tidak bisa
> dicegah. Tentu saja arah dan jenis opini ditentukan oleh sang penguasa
media.
>
> Karena “realitas opini” adalah satu “realitas semu” dan bukan realitas
yang
> sebenarnya. Maka, siapa yang kuat dalam penguasaan media massa, itulah
yang
> biasanya akan memenangkan pertarungan.
>
> Selama ini, termasuk dalam kasus fatwa MUI, tampak kaum
liberal-sekular-pluralis
> lebih mendominasi opini di media massa. Sedangkan MUI dan ormas-ormas
Islam
> pendukungnya, hanya mampu bicara dari majis ke masjid, melalui forum
majlis
> taklim, atau beberapa media cetak dan elektronik tertentu.
>
> Menghadapi gempuran yang bertubi-tubi melalui media massa – terutama
televisi –
> yang dilakukan terhadap MUI, seorang ketua MUI berujar tenang,
mengutip sebuah
> hadits Nabi saw: “Di antara umatku akan selalu ada sekelompok orang
yang
> menegakkan perintah Allah. Orang yang menentang tidak akan
membahayakan mereka.”
> (HR Ibnu Majah).
>
> Diantara 11 fatwa MUI, memang fatwa tentang Ahmadiyah, pluralisme
agama,
> liberalisme, dan sekularisme, paling banyak mendapatkan cemoohan.
Fatwa ini
> mengusik begitu banyak kaum yang selama ini masih bersikap “abu-abu”
dan
> “karaoke” (kanan-kiri oke), artinya liberalisme ya, non-liberal juga
ya.
>
> Fatwa ini seperti menarik garis furqan, garis batas yang tegas, siapa
yang
> berada di kutub liberalisme dan siapa yang dikutub non-liberal.
Bahkan, kasus
> ini telah menyatukan orang-orang yang selama ini berseberangan dengan
keras,
> seperti Dawam Rahardjo dan Abdurrahman Wahid.
>
> Sayangnya, di dalam penjelasan para penentang fatwa MUI, ada unsur
manipulasi
> atau ktidaktahuan. Syafii Anwar, misalnya, menyatakan, bahwa
Pluralisme bukanlah
> menyamakan semua agama, melainkan lebih pada mutal respect, saling
menghormati.
> Ulil menyatakan, pluralisme artinya sikap positif dalam menghadapi
perbedaan,
> yakni sikap ingin belajar dari yang lain yang berbeda.
>
> Pendefinisian Pluralisme Agama seperti diungkapkan dua orang penentang
keras
> fatwa MUI itu tentu tidak jujur. Sebab, bukan itu yang dimaksud
Pluralisme Agama
> yang selama ini dikembangkan di Indonesia, dan bukan itu pula yang
dimaksudkan
> oleh MUI. Dr. Anis Malik Thoha, pakar masalah Pluralisme Agama, yang
juga Rois
> Syuriah NU Cabang Istimewa Malaysia, dengan tegas menyatakan, bahwa
Pluralisme
> Agama adalah sebuah agama baru, yang tidak toleran terhadap agama
lain.
>
> Menurut Dr. Anis, Pluralisme agama memiliki sejumlah kelemahan
mendasar.
> Pertama, kaum pluralis mengklaim bahwa pluralisme menjunjung tinggi
dan
> mengajarkan toleransi, tapi justru mereka sendiri tidak toleran karena
menafikan
> “kebenaran eksklusif” sebuah agama.
>
> Mereka menafikan klaim “paling benar sendiri” dalam suatu agama, tapi
justru
> faktanya “kaum pluralis”-lah yang mengklaim dirinya paling benar
sendiri dalam
> membuat dan memahami statemen keagamaan (religious statement).
>
> Patut dicatat, katanya, “any statement about religion is religious
statement”.
> Para penganut pluralis tampaknya tidak sadar akan hal ini.
>
> Kedua, adanya “pemaksaan” nilai-nilai dan budaya barat (westernisasi),
terhadap
> negara-negara di belahan dunia bagian timur, dengan berbagai bentuk
dan cara,
> dari embargo ekonomi sampai penggunaan senjata dan pengerahan militer
secara
> besar-besaran seperti yang tengah menimpa Iraq saat ini.
>
> Jadi sebenarnya mereka tidak toleran. Mereka merelatifkan tuhan-tuhan
yang
> dianggap absolut oleh kelompok-kelompok lain seperti Allah, Trinitas,
Yahweh,
> Trimurti, dan lain sebagainya.
>
> Namun di saat yang sama, “secara tanpa sadar” mereka juga mengklaim
bahwa hanya
> tuhan mereka sendiri yang absolut. Tuhan yang absolut menurut mereka
ini
> namanya, seperti yang diusulkan John Hick, adalah “The Real” yang
kebetulan ia
> dapatkan padanan katanya dalam tradisi Islam sebagai “Al-Haq”.
>
> Dalam kasus respon terhadap fatwa MUI, apa yang diungkapkan oleh Dr.
Anis
> tersebut, sudah menjadi kenyataan. Lihatlah bagaimana kalapnya kaum
liberal di
> Indonesia dalam merespon fatwa MUI.
>
> Ada paradoks di dalamnya. Mereka mengaku sebagai liberal, tetapi
berusaha keras
> memaksakan pendapatnya, melalui berbagai cara, mencerca MUI, dan sama
sekali
> tidak menghormati pendapat MUI yang berbeda pendapat dengan mereka.
>
> Karena MUI tidak sama dengan mereka, maka MUI dicaci maki dan
diolok-olok.
> Seolah-olah semua orang harus sama dengan mereka.
>
> Jika mereka memaksakan pendapatnya, maka sejatinya itu adalah liberal
dan
> pluralis palsu serta inkonsisten. Jika bersikap liberal, ya biarkan
saja siapa
> pun untuk bersikap dan berpendapat, meskipun itu menentang pendapat
mereka
> sendiri.
>
> Bukankah, kata mereka, fatwa MUI itu tidak mengikat, mubah, dan tolol?
Jika
> memang begitu, maka mengapa mesti mencak-mencak terhadap fatwa MUI?
>
> Mestinya, mereka bersikap tenang saja, biarkan saja fatwa MUI itu
diyakini oleh
> umat Islam yang meyakininya. Yang tidak “doyan” dengan fatwa MUI, ya
tenang
> saja, dan kalau mau, buatlah fatwa tandingan.
>
> Jadi, sikap otoritarian itu ternyata melekat pada kaum liberal dan
pluralis
> sendiri, seperti dinyatakan Dr. Anis Malik, yang juga dosen
perbandingan agama
> di Universitas Islam Internasional Malaysia.
>
> Menurut Dr. Anis, Pluralisme Agama tidak membenarkan penganut atau
pemeluk agama
> lain untuk menjadi dirinya sendiri, atau mengekspresikan jati-dirinya
secara
> utuh, seperti mengenakan simbul-simbul keagamaan tradisional.
>
> Jadi, wacana pluralisme sebenarnya merupakan upaya penyeragaman
(uniformity)
> atau meyeragamkan segala perbedaan dan keberagaman agama.
>
> Ini jelas secara ontologis bertentangan dengan sunnatullah yang pada
gilirannya
> akan mengancam eksistensi manusia itu sendiri. Karena itu, aneh
sekali, jika
> gagasan ini dikembangkan.
>
> Karena itu, Dr. Anis mengajak umat Islam untuk menyambut baik fatwa
MUI tentang
> Pluralisme Agama, dan semoga orang-orang yang selama ini termakan
paham ini
> segera menyadari kekeliruannya serta kembali ke jalan yang benar.
>
> Jika ditelaah, sebanarnya tokoh-tokoh yang mengaku liberal dan
pluralis dalam
> soal agama, memang sudah berulang kali menyebarkan paham persamaan
agama dan
> kebenaran semua agama.
>
> Pluralisme Agama, bukan sekedar sikap toleransi atau menerima
perbedaan, atau
> sikap bersedia mengambil pelajaran dari pihak yang berbeda. Jika
memang
> definisinya seperti ini, untuk apa MUI capek-capek membuat fatwa, yang
> mempertaruhkan reputasinya sendiri?
>
> MUI mendefinsikan PluralismeAgama (PA) sebagai: “Pluralisme agama
adalah suatu
> paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya
kebenaran
> setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama
tidak boleh
> mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang
lain salah.
>
> Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan
hidup
> berdampingan di surga.”
>
> Definisi PA versi MUI memang bukan definisi akademis, tetapi tampaknya
lebih
> merujuk kepada definisi empiris gagasan PA yang selama ini
dikembangkan para
> aktivisnya. Berikut ini berbagai ungkapan tentang PA sebagaimana
disampaikan
> para pendukung dan penyebarnya di Indonesia.
>
> Ide persamaan agama dan jawabannya telah dibahas dengan baik,
misalnya, oleh
> Prof. Rasjidi, dalam bukunya Empat Kuliah Agama di Perguruan Tinggi,
(Bulan
> Bintang, Jakarta, 1985, hal. 24-33). Dr. J. Verkuil pernah menulis
buku
> berjudul, "Samakah Semua Agama?" yang memuat hikayat Nathan der Weise
(Nathan
> yang Bijaksana).
>
> Nathan adalah seorang Yahudi yang ditanya oleh Sultan Saladin tentang
agama
> manakah yang terbaik, apakah Islam, Yahudi, atau Nasrani. Ujungnya,
dikatakan,
> bahwa semua agama itu intinya sama saja.
>
> Hikayat Nathan itu ditulis oleh Lessing (1729-1781), seorang Kristen
yang
> mempercayai bahwa intisari agama Kristen adalah Tuhan, kebajikan, dan
kehidupan
> kekal. Intisari itu, menurutnya, juga terdapat pada Islam, Yahudi, dan
agama
> lainnya.
>
> Budhy Munawar Rahman, penulis buku “Islam Pluralis” menulis,
“Karenanya, yang
> diperlukan sekarang ini dalam penghayatan masalah Pluralisme antar
agama, yakni
> pandangan bahwa siapa pun yang beriman – tanpa harus melihat agamanya
apa –
> adalah sama di hadapan Allah. Karena, Tuhan kita semua adalah Tuhan
Yang Satu.”
>
> Ulil Abshar Abdalla mengatakan: “Semua agama sama. Semuanya menuju
jalan
> kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar.” (GATRA, 21 Desember
2002). Ide
> Ulil tentang agama ini berimbas pada masalah hokum perkawinan
antar-agama, yang
> akhirnya ditegaskan kembali keharamannya oleh fatwa MUI.
>
> Dalam artikelnya di Kompas (18/11/2002) yang berjudul “Menyegarkan
Kembali
> Pemahaman Islam”, Ulil menyatakan: “Larangan kawin beda agama, dalam
hal ini
> antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan
lagi.”
>
> Sumanto Al Qurtuby, dalam bukunya “Lubang Hitam Agama”, menulis: “Jika
kelak di
> akhirat, pertanyaan di atas diajukan kepada Tuhan, mungkin Dia hanya
tersenyum
> simpul.
>
> Sambil menunjukkan surga-Nya yang mahaluas, di sana ternyata telah
menunggu
> banyak orang, antara lain, Jesus, Muhammad, Sahabat Umar, Ghandi,
Luther, Abu
> Nawas, Romo Mangun, Bunda Teresa, Udin, Baharudin Lopa, dan Munir!”
(Sumanto Al
> Qurtuby, Lubang Hitam Agama, Rumah Kata, Yogyakarta, 2005, hal. 45).
>
> Dari sejumlah contoh itu, tampak bahwa definisi MUI tentang
“Pluralisme Agama”
> sudah tepat. Paham “penyamaan agama” seperti itu berarti mengandung
konsekuensi
> adanya relativitas kebenaran agama.
>
> Tidak diragukan lagi, bagi yang masih memegang aqidah Islam, paham
semacam itu
> memang paham syirik, karena itu, sangat wajar bahwa MUI menetapkannya
sebagai
> “haram” dan bertentangan dengan ajaran agama Islam”.
>
> Terhadap paham liberalisme, sekularisme, pluralisme agama, Ketua
Komisi Fatwa
> MUI, KH Ma’ruf Amin, menegaskan: “Haram umat Islam menggunakan itu.”
Wallahu
> a’lam.
>
>
>
>
>
>
> Send instant messages to your online friends
http://uk.messenger.yahoo.com
> >
>








Send instant messages to your online friends
http://uk.messenger.yahoo.com




--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
Antum menerima E-Mail ini karena antum tergabung dalam  Google Groups yaitu 
"Media Muslim Group". (Group Situs http://www.mediamuslim.info). Kirim artikel, 
pendapat/opini, informasi dan lain-lainnya ke [email protected]
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Perhatian: Setiap Content ataupun Tulisan yang ada pada email ini bukanlah 
menggambarkan http://www.mediamuslim.info karena hal tersebut merupakan 
apresiasi setiap members groups yang tidak mungkin kami perhatian 
satu-per-satu. 
-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Untuk Keterangan lebih lanjut kunjungi 
http://groups.google.com/group/mediamusliminfo
Dan jangan lupa kunjungi http://www.mediamuslim.info
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke