Sebelumnya saya minta maaf kalau di email saya kali ini terlalu banyak
pertanyaannya. Habis kapan lagi bisa diskusi dengan Dosen sekelas Pak Made
:) Hehehe muji dikit ngak apa-apa khan ?
At 00:39 23/04/1999 +0200, you wrote:
>Tapi kalau disain monolitic dan implementasinya bersih malah akan lebih
>kenceng.. jadi setbetulnya tidak ada mana yang lebih baik antara kedua
>disain.. ini hanya mana yang lebih tepat untuk suatu aplikasi mana yang
>tidak..
>
Aplikasi apa saja yang cocok untuk kernel Monolitic dan apa saja yang cocok
untuk MicroKernel ?
>Monoliticnya Linux bukan seperti monolitic dalam teori OS
>tradisional (debat si
>Linus dan Tanenbaum cukup menarik untuk diiktui masalah ini).
>
Iya saya juga pernah membacanya, Tanenbaum (Prof. yang membuat MINIX) malah
sempat mengatakan kalau Linus adalah mahasiswanya maka ia kan memberikan
nilai F karena membuat sistem operasi dengan konsep Kernel yang monolithic.
Pada saat itu (1991/92) mendesain suatu sistem operasi dengan kernel
monolithic adalah sesuatu yang dianggap obsolote/ketinggalan jaman.
>Tetapi sekali lagi "implementasinya" amburadul. (di atas kernelnya itu)
>lebih amburadul lagi.
>
Menurut Pak Made apa sich yang membuat desain NT yang tadinya sudah bagus
malah jadi amburadul implementasinya ? Padahal kan ada si Rashid
(ngomong-ngomong siapa sich si Rashid ini) ?
>Tunggu dulu... YWindows dan Linux bisa jalan di 4MB (kalau kita compile
>dan setting) seperti project Smalllinux, atau muLinux. Keunggulan lainnya
>adalah XWindows itu bukan "sekedar" GUI tapi suatu protocol untuk
>menangani pendistribusian pekerjaan. Kalau mau yang cuma GUI banyak yang
>lainnya. atau pakai window manager yang hemat memori.
>
Windows manager apa sich yang paling hemat memory ? Terus development tools
apa yang paling mudah digunakan untuk membuat aplikasi XWindows ?
Saya pernah mendengar tentang class library C++ yang namanya WXWin,
katanya aplikasi yang didevelop menggunakan library ini bisa multi-platform
(Windows 3.X/9X/NT, LINUX/GTK, LINUX/MOTIF, dan MacOS). Jadi kalau mau
pindah platform tinggal compile ulang aplikasi yang pernah kita buat di
mesin tujuan, ada yang lebih bagus dari ini (kayak iklan aja) ?
>Jadi sekali lagi Linux adalah memberikan "power" pada user, yang selama
>ini sudah didikte oleh vendor...(loe harus beli hardware soalnya program
>gua kagak bisa jalan ama 486) atau seperti yang saya denger di toko,
>seorang ibu ingin membeli program versi baru ternyata versi tersebut minta
>Windows 98, jadi dia harus beli Windows 98.
>
Sayangnya "power" yang diberikan oleh Linux hanya cocok untuk Power-User
bukan End-User. Nggak kebayang khan kalo ibu-ibu nongkrong didepan komputer
sedang asyik "ngompile" Kernel Linux.
>Lho.. bukannya ini malah memberikan kesempatan bagi kita...?? apalagi
>komunitas Linux sangat well support. Coba anda "complain" ke persh
>commercial..misal ada "lubang" ditangggn 1 minggu belum ada jawaban.
>Saya pernah dikontak temen saya cerita "programnya" yang dibeli
>mahal-mahal, ada problem dan pershnya sudah bangkrut...8-(
>
Yang saya maksudkan support disni adalah support untuk hardware yang
mendukung Linux, pernah terjadi saya harus pulang larut malam dari tempat
client waktu menginstall server Linux hanya karena Card LAN yang agak aneh.
Setelah dengan bantuan Windows 95 (untuk mendeteksi setting irq dan
address-nya) baru beres, karena kalau dideteksi dari Linux setting irq dan
addressnya suka berubah-ubah. Ada nggak sich Linux yang betul-betul plug n
play ?
>Coba apakah persh "komersial" support kebutuhan lokal pengguna Indonesia..
>misal bahasa pengantar dalam programnya..? (kasus Islandia dg MS)..
>Ini adalah suatu bentuk support.. kurang dari 1 tahun sudah ada 2
>distribusi Linux yang pakai bahasa Indonesia, sebentar lagi sistem
>penanggalan juga bukan Mon, Tue, tapi Senin, Selasa... Bagaimana,
>bukankah ini suatu support yang ingin memenuhi kebutuhan "pengguna" ?
>
Di Windows juga ada versi bahasa Arab, Cina, Thailand, dll. Cuma untuk
bahasa Indonesia memang belum ada. Mungkin karena disni produk tsb tingkat
pembajakannya masih cukup tinggi, termasuk saya sendiri yang suka ikut
ngebajak. Tapi ngak apa-apa karena mungkin Microsoft juga punya pemikiran
"Pembajak hari ini adalah pelanggan masa depan".
>Maaf pada saat ini saya rasa menghamburkan uang dan menutup lapangan kerja
>bukan langkah yang baik.he.he.eh satu NT 1000USD satu Windows98 100 DM
>belum hardware 8-(
>
Saya rasa untuk mempelajari suatu produk seperti Windows NT / Windows 98
bukan berarti kita harus membelinya. Dengan modal kursus dan buku-buku yang
memadai atau (kalau terpaksa) beli CD bajakannya di Mangga Dua kita sudah
dapat mempelajarinya, sambil juga memepelajari Linux, UNIX, dll. Jadi
bukannya menutup lapangan kerja, justru memperbesar kemungkinan untuk
bekerja karena tidak hanya terpaku dengan suatu produk. Intinya adalah buat
apa sich harus terpaku dengan suatu produk kalau kita dapat menguasai
banyak produk sekaligus tanpa harus terlalu fanatik dengan salah satunya,
jadi kita dapat mengambil keuntungan dari kelebihan masing-masing produk
tersebut. Tidak mungkin khan ada suatu produk yang memang benar-benar
sempurna.
Mengenai soal bajak-membajak saya rasa sudah menjadi rahasia umum bahwa
produsen yang produknya dibajak belum tentu tidak senang produknya dibajak.
Karena biasanya (kebanyakan) yang membajak adalah orang-orang dari kalangan
pelajar/mahasiswa yang masih harus berpikir 1000 kali untuk membeli
software asli walaupun versi mahasiswanya sekalipun yang ebih murah karena
masih terlalu mahal bagi mereka. Produsen masih tetap diuntungkan karena
setelah bekerja nanti si mahasiswa tsb dapat merekomendasikan
software-software yang pernah dipelajarinya ke perusahaan tempat dia bekerja.
Just my 2 cents,
Riki Kurniawan
"To Do Nothing is to Collaborate with the oppressor"
"Punching the monitor hurts you more than Micro$oft"
* Gunadarma Mailing List -----------------------------------------------
* Archives : http://milis-archives.gunadarma.ac.id
* Berhenti : Kirim Email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
* Administrator: [EMAIL PROTECTED]